Berita Dunia Islam Terdepan

Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh saat kekerasan baru meletus di Myanmar

68

Support Us

DHAKA (Arrahmah.com) – Sekitar 1.000 Muslim Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di Myanmar yang terus meningkat, telah dihentikan di perbatasan Bangladesh, pejabat keamanan Bangladesh mengatakan pada Sabtu (26/8/2017), saat pertempuran baru meletus di negara bagian Rakhine, Myanmar barat laut.

Sekitar 1.000 orang Rohingya tiba di Sungai Naf yang memisahkan Myanmar dan Bangladesh dan terdampar di sana, seorang penjaga perbatasan Bangladesh dan Mohammad Ali Hossain, wakil komisaris distrik Cox’s Bazar mengatakan pada Reuters.

“Banyak orang Rohingya mencoba memasuki negara ini, tapi kami memiliki kebijakan tanpa toleransi – tidak ada yang diizinkan,” kata Hossain.

Pejabat Bangladesh secara teratur menganjurkan pendekatan garis keras untuk pengungsi dalam wawancara resmi, namun biasanya akhirnya membiarkan para pengungsi melewatinya. Ada ratusan ribu pengungsi Rohingya di Bangladesh dan 87.000 orang telah tiba sejak Oktober.

Jumlah korban tewas akibat serangan yang dilakukan oleh gerilyawan Rohingya pada Jum’at (25/8) telah meningkat menjadi 89, termasuk 77 gerilyawan dan 12 anggota pasukan keamanan, klaim militer Myanmar.

Serangan tersebut menandai sebuah peningkatan dramatis dari konflik yang telah merebak sejak serangan serupa Oktober lalu yang mendorong operasi militer besar-besaran oleh Myanmar.

Setidaknya satu serangan baru telah terjadi pada Sabtu (26/8), menurut sumber keamanan Myanmar.

Pemimpin nasional Aung San Suu Kyi mengutuk serangan Jum’at pagi – di mana gerilyawan Rohingya memegang senjata, tongkat dan bom buatan rumah menyerang 30 kantor polisi dan sebuah pangkalan militer – sementara pemerintah mengevakuasi staf dan penduduk desa.

Perlakuan terhadap sekitar 1,1 juta Muslim Rohingya telah muncul sebagai tantangan terbesar bagi penerima Nobel Perdamaian.

Suu Kyi telah dituduh tidak memihak minoritas yang teraniaya tersebut dan mempertahankan serangan balik brutal militer tersebut setelah serangan Oktober. (althaf/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Iklan