Berita Dunia Islam Terdepan

Bagaimana mengajarkan anak tentang nilai waktu

Happy family with several members in education process
67

(Arrahmah.com)“Mama, saya bosan!,

“Mama, apa yang bisa saya lakukan? “

“Biasakah saya bermain di luar?

“Bisakah saya mengunjungi teman?”

Ini adalah pertanyaan yang hampir setiap ibu dengar dari anak-anaknya ketika anak-anak memiliki banyak waktu luang.

Beberapa orang tua memilih cara yang termudah yaitu dengan membiarkan anak-anak mereka menghabiskan waktu berjam-jam di depan TV atau bermain video game, hanya agar mereka sibuk dan tidak merengek.

Tapi ada juga orang tua yang memilih cara lain. Tak peduli berapa banyak upaya, waktu, atau bahkan biaya. Mereka lebih memilih untuk mengambil peran aktif dalam kehidupan anak-anak mereka, dan benar-benar menghabiskan waktu yang berkualitas bersama anak-anak mereka.

Bagaimana seharusnya membuat anak-anak kita senantiasa sibuk?

Bagaimana seharusnya mereka menghabiskan waktu luangnya?

Tidak ada keraguan bahwa jika kita membiarkan anak-anak kita menghabiskan waktu mereka dengan cara yang mereka inginkan, mereka akan menghabiskan waktu-waktu luang mereka dengan duduk depan TV atau melakukan beberapa aktivitas yang tak berguna lainnya.

Tidak ada yang bisa menyangkal bahwa ada perbedaan besar antara anak-anak jaman sekarang dan anak-anak dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu.

Yah, tidak mungkin memang, anak-anak jaman dahulu bisa tetap sama dengan anak-anak zaman sekarang, karena waktu terus berubah dan anak-anak berubah seiring dengan perubahan waktu itu. Tapi, segala sesuatu di sekitar anak-anak kita sekarang, menghancurkan apa yang kita coba untuk bangun di rumah. Dan seperti pepatah Arab yang mengatakan: Bagaimana mungkin gedung bisa terbangun, jika saya membangun dan orang lain menghancurkannya?

Namun demikian, itu tidak berarti bahwa kita harus menyerah pada arus anti-family yang mengepung anak-anak kita. Bahkan, kita harus meningkatkan dan melipatgandakan upaya kita untuk melindungi mereka dari gelombang ini. Apa yang anak-anak kita hadapi di luar rumah jauh lebih besar dan lebih berbahaya dari bayangan kita. Oleh karena itu, mereka membutuhkan dukungan kita, pertolongan kita, dan waktu kita.

Saya percaya bahwa waktu luang anak-anak adalah kesempatan besar bagi orang tua untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama mereka.

Jadi, bagaimana bisa kita membiarkan diri kita kehilangan kesempatan ini dengan membiarkan waktu luang anak-anak habis di depan TV atau gadget?

Membuang-buang waktu bukanah satu-satunya konsekuensi negatif dari televisi; masalah lai juga bisa mucul karena apa yang anak-anak kita tonton.

Semua pasti setuju bahwa sebagian besar program televisi saat ini mengandung kekerasan ataupun seks. Anak-anak kita tidak boleh terkena gambar-gambar yang tidak sehat yang akan merusak fitrah mereka yang tak berdosa.

Oleh karena itu, kita harus menghabiskan lebih banyak waktu bersama dengan anak-anak untuk hal-hal yang bermanfaat.

Jika kita belum bisa lepas sepenuhnya dari TV, kita sebagai orang tua memilih dan memutuskan program atau film apa yang boleh ditonton olah anak-anak kita. Sementara itu, kita harus membatasi jam yang mereka habiskan di depan TV.

Tentu saja, hal itu mengharuskan kita untuk menjadi contoh yang baik. Kita adalah contoh pertama yang dilihat oleh anak-anak kita. Mereka berperilaku dengan cara yang sama yang mereka lihat kita berperilaku. Jadi, jika kita tidak ingin mereka membuang-buang waktu di depan TV, kita sebaiknya juga tidak menghabiskan waktu luang kita di depan televisi, serta mulai untuk memperbaiki kualitas tontonan

Namun, efek dari TV bukanlah topik artikel ini. Kekhawatiran saya adalah bahwa kita tidak seharusnya mengorbankan waktu anak-anak kita yang sangat berharga. Mereka membutuhkan kita untuk menghabiskan waktu bersama dengan mereka, berbicara dengan mereka, menjawab pertanyaan mereka, dan mengoreksi kesalahpahaman dan kesalahan mereka.

Sulit untuk membayangkan bahwa ada orang tua yang tidak mau menghabiskan waktu mereka dengan berbicara atau bermain dengan anak-anak mereka, karena mereka menganggap bahwa itu hanya buang-buang waktu. Buang-buang waktu yang sebenarnya adalah ketika kita menghabiskan berjam-jam tanpa melakukan sesuatu yang produktif.

Tentu saja, tidak ada yang bisa menghabiskan seluruh waktunya dengan anak-anak mereka karena setiap orang memiliki tugas lain yang harus dikerjakan. Tapi, tetap saja, kita tidak bisa dan tidak boleh melepaskan saat-saat berharga yang kita miliki bersama dengan anak-anak.

Kita juga harus ingat bahwa waktu yang kita habiskan bersama anak-anak kita tidak hanya dari segi kuantitas, tapi juga kualitas. Anak-anak kita perlu belajar bahwa Allah (SWT) akan bertanya kepada kita tentang waktu kita dan bagaimana kita menghabiskan waktu itu. Mereka perlu belajar bagaimana merencanakan dan memiliki jadwal. Oleh karena itu, tanggung jawab kita untuk mengajarkan kepada mereka agar merencanakan waktu untuk membaca, misalnya. Jika mereka masih kecil, kita seharusnya membacakan buku untuk mereka sampai mereka belajar bagaimana melakukannya sendiri.

Kita juga dapat mendorong mereka untuk membantu di rumah: mereka dapat mencuci piring, membersihkan meja, cermin, kaca jendela, membersihkan kamar mereka atau mengatur rak buku, dll. Dengan cara itu, mereka akan mengerti di masa depan bahwa tidak hanya ibu mereka yang bertanggung jawab untuk membersihkan rumah, melainkan tanggung jawab semua anggota keluarga; dan kemudian mereka akan menyadari bahwa mereka tidak membantu karena sebuah imbalan, tetapi karena memang seharusnya mereka berbuat demikian.

Hal ini juga bisa menjadi hal yang menyenangkan, dengan menghabiskan waktu mengerjakan sebuah proyek bersama-sama. Anak-anak dan orang tua juga bisa menggambar atau mewarnai bersama-sama. Anak-anak juga bisa dilibatkan dalam olahraga dan kemudian kita meluangkan waktu untuk menghadiri permainan atau pertandingan mereka.

Sementara itu, ini sangat penting untuk mengajarkan kepada mereka agar menggunakan waktu untuk menyembah Allah (SWT). Sejak masih kecil, kita bisa mengajak mereka untuk ikut bersama-sama shalat berjamaah, atau berzikir setelah shalat.

Ketika mereka sudah bertambah umur, kita perlu mengawasi mereka, dan mendorong mereka untuk shalat pada waktunya.

Waktu luang juga merupakan kesempatan yang baik bagi orang tua untuk mengajarkan anak-anak mengaji dan mendorong mereka untuk menghafal Al Qur’an. Usia dini, merupakan waktu terbaik untuk menanamkan dalam diri mereka perlunya menghafal Al Qur’an; dan anak-anak cenderung memiliki kemampuan menghafal yang tajam.

Kita juga dapat menghabiskan waktu bersama mereka dengan menjelaskan arti dari Al-Qur’an dan mengajarkan kepada mereka adab-adab Islam. Sebagai contoh, kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan polos mereka tentang Pencipta, dan pertanyaan lain yang mengusik benak mereka

Dengan berbicara kepada mereka, kita bisa menanamkan rasa cinta kepada Allah (SWT) dan Nabi-Nya (SAW) di dalam hati mereka, yang akan memberikan kepada mereka kesempatan untuk melihat sekelilingnya, mengamati alam semesta, berpikir tentang alam gaib dan memahami kekuasaan Allah SWT.

Pertemuan keluarga, ketika seluruh anggota keluarga berkumpul bersama, berbincang-bincang, berbicara, tertawa dan belajar, juga sangat berguna dalam tumbuh kembang anak-anak. Coba gelar pertemuan di rumah, di taman, atau di mana pun yang disukai, asalkan itu bermakna menghabiskan waktu bersama-sama.

Ada banyak cara untuk menikmati dan memanfaatkan waktu anak-anak kita. Kita harus menunjukkan kepada mereka bahwa kita peduli tentang bagaimana mereka menghabiskan waktu mereka yang berharga dan bahwa kita ingin ikut serta, bersama-sama dengan mereka dalam mengisi waktu itu.

(ameera/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...