Berita Dunia Islam Terdepan

Mulut terdakwa Ahok penyebab utama kekalahannya

Ahok lengkap dengan seragam Gubernur DKI Jakarta mulutnya menista agama Islam, Al Quran dan para Ulama saat berbicara pada kunjungan ke Kepualauan Seribu, Jakarta Utara, Rabu (28/9/2016). Saat ini Ahok resmi sebagai narapidana tindak pidana penodaan agama
3

JAKARTA (Arrahmah.com) – Analis politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menyampakan beberapa alasan kekalahan telak Paslon Ahok – Djarot, dimana Ahok juga merupakan terdakwa penoda agama.

Dia menyimpulkan faktor tidak efektifnya mesin politik dalam bekerja dan performa komunikasi politik calon gubernur yang ekstrem berlawanan dengan kondisi sosiologis masyarakat atau pandangan umum masyarakat adalah faktor utama kekalahan pasangan Ahok-Djarot.

Berdasarkan hasil analisisnya, sebahgaimana dikutip Antara, gaya komunikasi publik Ahok juga ditengari pengamat ini sebagai salah satu faktor kekalahan pasangan Ahok-Djarot. Dalam konteks sosiologis politik, Ubedillah menilai, cara komunikasi santun jauh lebih diterima warga Jakarta.

“Tidak sedikit pernyataan-pernyataan Ahok di hadapan publik menimbulkan kemarahan massa, di antaranya yang paling fenomenal adalah terkait pernyataanya mengenai Almaaidah 51 di Kepulauan Seribu pada September 2016,” tutur dia.

Ubedillah menambahkan, ada pula pola kampanye melalui dunia maya yang menggambarkan pasangan Ahok sebagai korban diskriminasi dan intoleransi. Cara ini tak mampu mengubah cara pandang mayoritas masyarakat Jakarta.

“Termasuk pola ‘kampanye udara’ yang cenderung menggunakan pola playing victim sebuah kampanye melalui dunia maya untuk menggambarkan pasangan Ahok-Jarot sebagai korban diskriminasi dan intoleransi tidak mampu merubah cara pandangan warga Jakarta secara mayoritas,” kata dia.

Faktor lainnya yakni pasangan Ahok-Djarot kurang menggunakan modal finansial secara efektif, padahal dukungan finansial mereka sangat melimpah.

“Ini bisa dicermati dari pembiayaan yang besar untuk imaging politic melalui media masa dan media sosial, tetapi tidak berbuah pada meningkatnya elektabilitas Ahok-Jarot. ‘Kampanye udara’ yang berbiaya besar nampak lebih diutamakan dibanding ‘kampanye darat’ yang sesungguhnya bisa lebih efektif dengan menggerakkan mesin politik secara kultural,” papar Ubedilah.

Terakhir, mengenai tindakan para relawan atau simpatisan Ahok-Djarot menjelang putaran kedua, salah satunya video kampanye yang mengesankan umat Islam intoleran (lakukan kekerasan).

“Ini menimbulkan kesan negatif terhadap pasangan Ahok-Jarot yang justru mengurangi elektabilitasnya. Video kampanye Ahok-Jarot yang menggambarkan umat Islam yang keras dan intoleran justru meningkatkan militansi pemilih muslim Jakarta karena umat merasa disudutkan,” jelas Ubedilah.

(azm/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...