Berita Dunia Islam Terdepan

Angota DPR: Pernyataan Jokowi soal pemisahan agama dan negara pendangkalan akidah Islam

HR. Muhammad Syafi'i
6

JAKARTA (Arrahmah.com) – Saat meresmikan Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara di Barus, Tapanuli Tengah, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan harus dipisahkan politik dan agama. Jangan sampai dicampuradukkan.

Pernyataan terus menuai kritik, bahkan kecaman. Anggota Komisi III DPR HR Muhammad Syafii (Romo Syafii) mengungkapkan apa yang disampaikan Jokowi tersebut menunjukkan yang bersangkutan sama sekali tidak memahami politik dan agama.

“Bahwa politik dalam bacaan yang besar, itu kan bermakna kekuasaan atau cara. Sedangkan agama dalam konteks Islam, itu adalah sistem kehidupan termasuk di dalamnya politik,” jelasnya, dikutip RMOL Senin (27/3/2017).

Menurutnya, apa yang disampaikan Presiden tersebut bisa bermakna jauhkan politik dari agama. Dan itu berdampak pada pemahaman, jangan laksanakan agama di bidang politik.

“Itu berarti pendangkalan pemahaman dan akidah Islam. Statement ini sungguh menggambarkan sikap sebenarnya saudara Jokowi terhadap agama, khususnya Islam,” jelas politikus Gerindra ini.

Sementara mengomentari perilaku Jokowi di Panyabungan yang melempari hadiah kepada warga dari atas mobil yang sedang berjalan, Romo Syafii bilang bahwa hal itu menunjukkan Jokowi bukan seorang pemimpin. Tapi seperti turis.

“Kalau dia seorang pemimpin, dia harus menyambangi rakyat yang mengelukan-elukannya di sepanjang perjalanan. Kalau tidak bisa, dia harus melambaikan tangan atau tangan menghormat,” sambung legislator asal Sumut 1.

Dia mengatakan Jokowi seperti turis asing karena pelancong asal luar negeri kerap memandang rakyat Indonesia lebih rendah dari mereka. Karena itu mereka terbiasa melemparkan sesuatu dari mobil yang sedang berjalan, agar rakyat yang dipandang rendah itu memperbutkan apa yang dilemparkan turis tersebut.

“Bahkan turis lokal, biasanya juga melemparkan makanan dan minuman ke pinggir jalan. Karena di pinggir jalan itu banyak monyet atau kera yang menadahkan tangan. Misalnya ke Brastagi, Sumut atau Maninjau, Sumbar. Itu di kiri kanan banyak monyet. Jadi beli jagung, kacang. Turis senang ketika menyaksikan monyet berebutan,” sindirnya.

Dengan melihat pernyataan dan perilaku tersebut, Romo Syafii menilai Jokowi sebenarnya tidak pantas menjadi pemimpin Indonesia.

(azm/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...