DENPASAR (Arrahmah.com) – Setelah puluhan tahun “dijajah” Amerika Serikat (AS), puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua dan Front Rakyat Indonesia untuk West-Papua unjuk rasa di depan kantor Konsulat Jenderal AS di Denpasar, Bali, Senin (20/3/2017). Mereka dengan tegas menolak keberadaan PT Freeport di tanah Papua dan menuntut tutup Freeport.

“Tanah kami hancur, manusia juga hancur secara perlahan. Sudah saatnya Freeport angkat kaki,” teriak Gidion, orator aksi, di depan Konjen AS, Jalan Hayam Wuruk, Denpasar, dikutip Metrotvnews.

Dia menyebut keberadaan Freeport tidak memberikan dampak signifikan terhadap masyarakat Papua. Puluhan tahun Freeport di Papua, justru menimbulkan pencemaran udara dan tanah di Bumi Cenderawasih.

Tidak hanya lingkungan yang tereksploitasi, nasib anak Papua juga perlahan hancur dengan adanya PT Freeport. “Kami menekan pemerintah untuk segera menutup Freeport. Kita mau bercocok tanam sangat susah, karena tanahnya sudah tercemar,” tutupnya.

Aksi dikawal ketat sejumlah kepolisian dan TNI berlangsung singkat dan damai. Puluhan mahasiswa membubarkan diri sekira pukul 12.00 WITA setelah menyuarakan aspirasinya

Aksi di Bogor

Aksi serupa berlangsung di Kota Bogor. Belasan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua menuntut pemerintah agar menutut perusahaan tambang PT Freeport.

Tuntutan yang disuarakan para mahasiswa Papua ini karena selama ini keberadaan PT Freeport membuat lingkungan rusak.

Aksi yang dilakukan mahasiswa Papua dimulai dari pintu 3 Istana Bogor kemudian mereka longmarch ke Tugu Kujang.

Dalam aksinya para pendemo membawa poster bertuliskan kecaman dan tuntutan agar perusahaan tambang Amerika Serikat itu hengkang dari Bumi Papua.

“Tutup Freeport Berikan Hak Menentukan Nasip Sendiri Sebagai Solusi Demokratis Bagi Rakyat Papua”

“Usir dan Tutup Freeport Dari Tanah Papua”

“Kita disini membawa aspirasi masyarakat Papua, kita berjuang bersama untuk masyarakat Papua, kita ingin Indonesia lepas dari Freerpot,” ujar juru bicara AMP Bogor John Gobay, dikutip Tribun.

Dia menambahkan, bahwa yang merasakan dampak negatif dari Freeport adalah masyarakat Papua.

“Lingkungan dirusak, kekayaan alam dirusak, kembalikan hutan dan fauna yang ada di tanah Papua, biarkan masyaakat Papua menentukan nasibnya, dan mengelola tanahnya sendiri,” ujarnya.

Menurutnya, demontrasi tidak hanya dilakukan di Kota Bogor, tapi juga di daerah lainnya di Indonesia.

“Kita berjuang bukan hari ini saja, dan kita berjuang bukan hanya di Bogor, tapi ada juga di kota-kota lain, kita ingin kembalikam kekayaan alam Papua, bebaskan tanah Papua dari tangan asing,” tegasnya.

(azm/arrahmah.com)

Topik: