Tausiyah Habib Rizieq Shihab di Aksi 112

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab.
42

JAKARTA (Arrahmah.com) – Ketua Front Pembela Islam (FPI) Muhammad Rizieq Shihab menghadiri aksi 112 yang digelar pada Sabtu (11/2/2017), di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat dan berkesempatan menyampaikan tausiyah di hadapan jamaah ummat Islam.

Mengawali tausiyahnya, Habib Rizieq menghimbau semua umat Islam agar meningkatkan ukhuwah islamiyah, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT agar selalu berpegang teguh kepada hukum dan Allah, dan tidak bercerai berai.

“Ummat Islam tidak boleh mundur selangkahpun juga dalam memperjuangkan kalimah Allah yang Maha Tinggi. Kita tidak boleh bercerai berai dan terus menjaga persatuan untuk membela agama, negara dan bangsa ini.” tegas Habib Rizieq.

“Siap bersatu? Siap bersaudara? Siap bela agama? Siap bela negara? Siap bela bangsa?” ujar Rizieq yang diiringi gema teriakan ‘siap’.

Habib Rizieq juga menjelaskan bahwa Aksi Bela Islam I, II, dan III itu digelar hanya untuk mencari ridho Allah. Tidak peduli apapun risiko yang akan dihadapi Ummat Islam selama Allah meridhoinya.

“Jadi jangan sekali-kali dimaknai Aksi Bela Islam itu aksi makar, anti NKRI, dan anti Pancasila, sebagai aksi Anti Bhinneka Tunggal Ika. Demi Allah, kami cinta NKRI yang berdasarkan UUD 45 dan Pancasila. Demi Allah, kami junjung Bhineka Tunggal Ika, kami cinta kemajemukan, kami cinta keragaman, kami bukan musuh bagi bangsa ini” kata Habib Rizieq di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Sabtu (11/2/2017).

Dia juga mengingatkan kembali, ketika aksi 212 yang dihadiri jutaan umat Islam dari berbagai macam kelompok, golongan, lintas ormas, lintas mazhab, bahkan Presiden, Wakil Presiden, Menkopolkam, Panglima TNI, dan Kapolri serta dari umat dari agama lain juga turut hadir. Itu semua harus dimaknai kalau aksi tersebut merupakan aksi Bhineka Tunggal Ika yang sesungguhnya.

“kalau aksi tersebut tidak dimaknai sebagai aksi Bhinneka Tunggal Ika, justru kita ingin bertanya, aksi yang bagaimana yang disebut aksi bhinneka tunggal ika”.

“Kalau aksi tersebut dicurigai sebaga aksi anti Bhinneka Tunggal Ika, maka ke depan, tidak ada lagi aksi Bhinneka Tunggal Ika di negeri ini,” tegasnya.

Da menegaskan, aksi 212 murni bentuk cintanya umat Islam pada agama, negara, ulama, dan cinta kepada persatuan dan kesatuan dalam kemajemukan.

“Maka itu, kami memberi masukkan pada pemimpin, umat yang sudah tunjukkan kebhinekaan ini musti dicinta, bukan dinista, diajak dialog bukan ditonjok, dipeluk bukan dtonjok, harus disayang, bukan ditendang. Dirangkul, bukan dipukul,” tuturnya.

Habib Rizieq menjelaskan, umat Islam itu harus diajak dialog, kalau pemimpin cinta dengan umat Islam, ulama pun dirangkul. Karena mereka akan menjadi satu energi dahsyat menuju Indonesia yang lebih baik dan umat Islam jangan dijadikan lawan, tapi kawan.

Saat ini, dia melihat, adanya gerakan siluman yang hendak mengadu domba umat Islam dengan pemerintah Indonesia. Sehingga, pemerintah beranggapan kalau umat Islam itu lawan kepemerintahan.

“Tapi kita tak boleh terprovokasi. Tiga kali posko FPI dibom molotov. Kami tahu itu provokasi supaya kami marah, tapi pada siapa? Kita tak boleh terpancing. Kalau terpancing, musuh kita akan senang karena berhasil adu domba kita,” jelasnya.

Maka itu, Habib Rizieq mengimbau, agar umat Islam tidak terprovokasi, apalagi sampai terpecah belah. Adapun soal Aksi Bela Islam itu, dilakukan untuk menuntut agar penista agama dihukum atas perbuatannya.

Sejal awal, kata Habib Rizieq, massa Aksi Bela Islam sebelum melakukan aksinya sudah menyuarakan keinginannya untuk berdialog dengan pihak terkait dalam menyelesaikan persoalan penistaam agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Namun, itu tak terealisasikan karena dia melihat adanya kelompok yang sengaja menjauhkan umat muslim dan ulama dari pemerintah, begitu sebaliknya.

“Dalam pertemuan dengan Menkopolhukam kemarin, Alhamdulillah beliau berikan komitmen. Pertama soal penegakan hukum tanpa adanya rekayasa. Kedua pemerintah kerja sama dengan ulama dalam menjaga NKRI,” katanya.

Apabila ulama dan pemerintah berdialog, kata Habib Rizieq, musuh yang sebenarnya akan terungkap. Saat itulah, umat Islam akan tahu siapa musuh dan harus diperanginya.

Maka itu, para ulama dan habaib pun diminta untuk menjaga diri dan umat Islam. Pemerintah pun diminta untuk tidak menunjukan hal-hal yang sifatnya dapat memprovokasi umat Islam, seperti kriminalisasi ulama, memfitnah ulama, dan memproses ulama dimana-mana layaknya tersangka.

Jika itu terus terjadi, tentu akan menimbulkan sebuah provokasi pada umat Islam yang nantinya, ulama dan habaib pun akan sulit memberikan pengertian dan meredakan kegerahan umat Islam.

“Bila ingin dialog, stop kriminalisasi ulama. Kalau sudah hormati ulama, niscaya umat Islam akan hormati mereka. Siap bela ulama? Siap bela Kiai, habaib? Siap bela Islam? Takbir,” tegasnya.

Terkait fitnah yang kerap ditujukan padanya, Habib Rizieq mengaku sudah kenyang dengan hal tersebut. Dia pun tak mau menanggapi fitnah-fitnah tersebut. Apalagi, sekarang bukan lagi saatnya saling lempar fitnah.

Munarman saat ini sudah menjadi tersangka, Ustaz Bachtiar Nasir pun sudah di gerbang status tersangka, termasuk dirinya yang kini menjadi buronan sejak pukul 00.00 WIB semalam untuk dihadirkan di Polda Jabar.

“Untuk jaga dialog, saya minta seluruh kuasa hukum untuk komunikasi dengan Babes Polri dan Polda Jabar tentang langkah ke depan. Tak usah khawatir, usai acara ini saya akan datang ke Polda Jabar kalau diperlukan, tak usah khawatir saya akan lari,” katanya.

Adapun soal alasannya tak hadir dalam pemeriksaan sebelumnya, kata dia, dirinya tengah dalam kewajiban menjaga umat dan menjaga agar aksi 112 ini bisa berlangsung dengan damai. Dia pun tak akan lari dari pemeriksaannya dalam kasus dugaan penodaan terhadap Pancasila.

Dia akan menghadapi proses hukum yang ada sebagai warga negara Indonesia yang baik. Namun, dia meminta agar tak ada rekayasa dalam kasus tersebut dan jangan ada rencana jahat pada ulama serta tokoh Islam.

“Saya yakin kalau habaib diperlakukan baik, maka masyarakat akan menghormati pemerintah. Kita enggak ada niat buat makar dan saya tak rela satu ustaz pun di GNPF MUI ditahan,” tegasnya.

(ameera/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.