Berita Dunia Islam Terdepan

Demonstrasi menolak pelantikan Trump berlangsung di 65 kota di AS

Demonstrasi menentang Presiden terpilih AS Donald Trump, di Alun-alun McPherson, di Washington, Sabtu (14/1/2017). (AP)
2

WASHINGTON (Arrahmah.com) – Hanya beberapa hari sebelum pelantikan Donald Trump sebagai presiden AS yang ke-45, demonstrasi mendukung hak migran dan minoritas telah dimulai di lebih dari 65 kota di seluruh Amerika.

Warga Amerika memadati Gereja Metropolitan African Methodist Episcopal (AME) di Washington, DC. Mereka melakukan unjuk rasa mendesak Trump tidak melanjutkan beberapa kebijakan garis keras yang ia lontarkan selama kampanye.

Para pendukung migran berunjuk rasa, mendesak Trump untuk tidak melakukan deportasi massal dan harus mempertahankan program Deferred Action For Childhood Arrivals (DACA), yang telah membantu melindungi lebih dari 700.000 migran gelap yang masuk ke AS ketika anak-anak.

“Kami mempersatukan sesama kami, warga Amerika keturunan Afrika, Asia, dan Amerika Latin, untuk memperjuangkan reformasi migrasi. Kami percaya bahwa sekarang Partai Republik memiliki kesempatan karena mereka menuduh Presiden Obama yang menghentikan reformasi imigrasi. Sekarang mereka mendominasi Senat, Kongres, Gedung Putih…,” ujar Gustavo Torres dari Casa de Maryland.

Demonstrasi “Here to Stay” dimulai pada Sabtu (14/1/2017), hari libur federal dimana rakyat Amerika mengenang Dr. Martin Luther King Jr yang berjuang keras mengakhiri rasialisme dan meningkatkan hak-hak sipil pada tahun 1950-an sampai 1960-an.

Lebih dari 2.500 orang berkumpul di gereja untuk menghormati Martin Luther King dan menyatakan niat mereka untuk menolak kebijakan Trump yang mereka tentang.

Selama kampanye sebelum pemilihan umum November, Trump bersumpah untuk mengakhiri program DACA, membangun tembok di sepanjang perbatasan AS-Meksiko dan mendeportasi antara dua sampai tiga juta orang yang tinggal di AS tanpa izin, karena menurutnya, mereka adalah “penjahat”, sebagaimana dilansir VOA.

Seperti diketahui Trump berhasil mengungguli Hillary Clinton dalam pemilihan presiden Amerika Serikat. Trump menang berkat platform politiknya yang dianggap populis, mulai dari rencana membangun tembok pemisah di perbatasan AS-Meksiko, membatasi imigran dari negara-negara muslim, mengembalikan produksi sejumlah industri strategis ke dalam negeri, hingga menutup Obamacare.

Bukan itu saja, keputusan Trump memilih Senator Jeff Sessions dari Alabama menjadi jaksa agung memicu kekhawatiran kaum minoritas.

Sebagai aksi lanjutan, sekitar 30 kelompok demonstran berencana akan terus mengajukan protes bukan hanya sebelum, tetapi juga selama dan setelah proses pelantikan. Para demonstran mengaku berencana melakukan aksi penutupan pelantikan tersebut, lansir CNN.

 

(ameera/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...