Berita Dunia Islam Terdepan

Di akhir masa jabatannya, Obama “menghadiahkan” 130 ton uranium kepada Iran

[Foto: Orient Net]
4

WASHINGTON (Arrahmah.com) – Presiden AS Barack Obama mempersembahkan hadiah terakhir kepada Iran, saat ia menyetujui untuk diam-diam memberikan 130 ton uranium kepada Iran sebelum akhir masa jabatannya, media Amerika melaporkan.

Sebagaimana dilansir Orient Net, Kamis (12/1/2016), diplomat AS menyatakan bahwa Iran akan menerima kiriman uranium alam dalam jumlah besar, sebagai imbalan karena telah mengekspor bertonton pendingin reaktor. Uranium tersebut akan dikirim oleh Rusia.

Pemerintahan Obama dan pemerintah lainnya, yang berusaha menjaga agar Teheran tetap berkomitmen terhadap pakta nuklir, menyetujui kesepakatan tersebut.

Dua diplomat senior AS, yang tidak ingin dicantumkan namanya, menyatakan bahwa pengiriman itu disetujui oleh Amerika Serikat dan lima kekuatan dunia lainnya yang melakukan negosiasi kesepakatan nuklir.

Sementara itu, Iran memperkirakan pengiriman 116 metrik ton (hampir 130 ton) uranium alam. Pengiriman uranium tersebut dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk reaktor nuklir atau sebagai ‘jantung’ sebuah bom atom.

Para diplomat menambahkan bahwa mereka membutuhkan persetujuan dari Dewan Keamanan PBB, tapi “Ini hanya akan menjadi formalitas, mengingat bahwa lima dari kekuatan dunia tersebut adalah anggota tetap Dewan Keamanan PBB.”

Dalam kesepakatan saat ini, Iran memberikan kompensasi kepada Rusia sekitar 40 metrik ton (44 ton) heavy water. Iran juga mengirim 30 ton ke Amerika Serikat dan Oman, sesuai dengan perjanjian nuklir yang berlangsung pada awal Juli tahun lalu.

Daily Wire mengutip dari beberapa diplomat mengatakan bahwa setiap uranium alam yang mau dikirim ke Iran akan berada di bawah pengawasan ketat IAEA PBB selama 25 tahun setelah kesepakatan ini dijalankan.

Uranium tersebut bisa digunakan untuk membangun lebih dari 10 bom nuklir sederhana, tergantung pada efisiensi proses pengayaan dan desain senjata nuklir, surat kabar tersebut mengutip David Albright dari Institute of Science and International Security.

(ameera/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...