Berita Dunia Islam Terdepan

Sebut Palestina teroris, stasiun TV Libanon meminta maaf

Di media sosial, orang Palestina meluncurkan hashtag berbahasa arab, #ResistanceIsNotTerrorism
7

BEIRUT (Arrahmah.com) – Sebuah stasiun televisi Libanon menuai kecaman dari aktivis Palestina setelah mengatakan bahwa serangan terhadap klub malam “Israel” adalah tindakan terorisme, sehingga penyiar segera meminta maaf.

LBCI menayangkan laporan pada pekan ini tentang kejadian serangan teror terhadap klub malam di “Israel”, sehubungan dengan penembakan mematikan pada saat perayaan Tahun Baru di sebuah malam di Istanbul, yang mana termasuk dua insiden yang terkait dengan kelompok Hamas.

Laporan TV tersebut mengatakan bahwa pengeboman pada tahun 2001 di Dolphinarium Tel Aviv, yang menewaskan 21 orang, kebanyakan dari mereka adalah remaja perempuan, dan pengeboman di klub game Rishon LeZion pada tahun 2002, yang menewaskan 57 orang, sebagai “aksi teror”.

Hamas, yang mengontrol Jalur Gaza yang terkepung, dengan cepat mengeluarkan pernyataan mengutuk laporan itu.

“Apa yang orang Palestina lakukan adalah dikategorikan sebagai tindakan yang sah sebagai bentuk perlawanan terhadap pendudukan, yang mana pendudukan adalah ilegal berdasarkan hukum internasional,” katanya.

“Palestina memiliki hak untuk membela diri dan membela tanah mereka untuk mencapai kebebasan dan melepaskan diri dari penjajahan.”

Di media sosial, beberapa aktivis Palestina meluncurkan hashtag berbahasa arab #ResistanceIsNotTerrorism untuk mengekspresikan kemarahan mereka terhadap stasiun TV Lebanon.

Menanggapi keributan tersebut, LBCI mengeluarkan permintaan maaf, dan mengatakan bahwa mereka telah menggunakan salinan berita dari kantor berita Agence France-Presse [AFP] tanpa melakukan pengeditan teks.

“Israel adalah musuh dan akan selalu menjadi musuh karena tindakan terorisme yang dilancarkan setiap hari terhadap warga Palestina seperti memblokade Gaza dan membunuh mereka di pos pemeriksaan,” kata pernyataan itu.

“Berdasarkan konvensi internasional yang ditandatangani di Den Haag, kelompok perlawanan diperbolehkan melawan pendudukan,” tambahnya.

(ameera/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...