Berita Dunia Islam Terdepan

Pria Muslim ditemukan tewas tanpa kepala setelah wawancara media di Myanmar

Shu Nar Myar, kiri, dengan kemeja putih, sedang diwawancarai oleh wartawan. Foto: State Counsellor Office Information Committee.
8

YANGON (Arrahmah.com) – Jasad tanpa kepala dari seorang warga Muslim yang bernama Shu Nar Myar telah ditemukan beberapa hari setelah ia berbicara kepada wartawan dalam sebuah tur media langka yang dipandu pemerintah di utara negara bagian Rakhine yang bergejolak, ungkap polisi Myanmar, Jum’at (23/12/2016).

Polisi tidak memberikan motif pembunuhan pria Muslim berusia 41 tahun itu, yang tubuhnya ditemukan mengambang di sungai. Tetapi polisi mengatakan bahwa ia berbicara kepada wartawan Myanmar pada Rabu (21/12) di desa Ngakhura.

“Pada hari Kamis keluarganya mengatakan bahwa ia telah menghilang setelah memberikan wawancara kepada wartawan,” ungkap Kolonel Polisi ThetNaing di kota Maungdaw kepada AFP.

“Sore ini (Jum’at) saya mendapat laporan bahwa tubuh tanpa kepala ditemukan. Kami telah dikonfirmasi oleh warga bahwa jasad itu adalah dia,” katanya.

Dia juga menambahkan bahwa polisi pergi ke lokasi ditemukannya jasad tersebut.

Dalam sebuah pernyataan pada Jum’at (23/12), Kantor Presiden menegaskan bahwa seorang laki-laki – yang mereka mengidentifikasi sebagai Shu Nar Myar – telah tewas.

Pernyataan tersebut mengklaim bahwa Shu Nar Mya telah menyangkal laporan penyiksaan dan pemerkosaan oleh militer ketika berbicara kepada wartawan.

“Shu Nar Myar orang yang mengungkapkan bahwa tidak ada kasus pembakaran oleh militer dan polisi, tidak ada pemerkosaan dan tidak ada penangkapan yang tidak adil,” kata pernyataan dari kantor Presiden.

Dua wartawan Myanmar, yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan kepada AFP bahwa mereka mewawancarai pria tersebut pada hari Rabu di desanya dan telah dihubungi oleh polisi untuk mengonfimasi bahwa dia telah hilang.

Tur Media yang sangat jarang terjadi di daerah itu – terbuka hanya untuk wartawan Myanmar – diselenggarakan oleh pemerintah di tengah meningkatnya tekanan terhadap pemimpin Aung San Suukyi untuk memungkinkan akses ke zona konflik.

Rohingya telah mendekam di bawah tahun-tahun kemiskinan yang parah dan diskriminasi dari pemerintah yang menolak kewarganegaraan mereka.

(ameera/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...