Berita Dunia Islam Terdepan

Krisis kemanusiaan dihadapi oleh warga Palestina yang terjebak di Suriah

Kamp Yarmouk telah menjadi target bom barel dan bentrokan sengit selama perang Suriah berlangsung. (Foto: Reuters)
2

SURIAH (Arrahmah.com) – Organisasi bantuan mengatakan blokade, kekerasan yang terus berlangsung, dan situasi kemanusiaan yang terus memburuk menempatkan nyawa lebih dari 6.000 pengungsi Palestina di Kamp Yarmouk, Suriah, dalam resiko.

Kelompok kemanusiaan untuk Palestina yang berbasis di Inggris, Action Group memperingatkan dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada Selasa (19/12/2016) bahwa situasi kemanusiaan di Kamp Yarmouk dari buruk menjadi lebih buruk.

Yarmouk pernah menjadi rumah hampir 200.000 warga Palestina yang mengungsi ke Suriah dan sebagian besar besar dari mereka kini kembali mengungsi ke wilayah lain di Suriah atau luar negeri, lansir Al Jazeera.

Terjebak di antara blokade brutal dan bentrokan senjata, hanya 6.250 warga sipil yang diyakini masih berada di Kamp Yarmouk, menurut penghitungan badan pengungsi PBB, UNRWA.

“Fasilitas kesehatan yang terbatas dan situasi kemanusiaan dapat mengubah dengan cepat tingkat kerentanan,” ujar juru bicara UNRWA Chris Gunnes mengatakan kepada Al Jazeera.

Gunnes menambahkan bahwa UNRWA telah tidak dapat mengakses para pengungsi dari kamp tersebut sejak Mei 2016.

Pengepungan

Pasukan rezim Nushairiyah pimpinan Bashar Asad dan milisi Syiah pendukungnya telah memberlakukan blokade terhadap kamp tersebut sejak Desemer 2012, membatasi aliran makanan, obat-obatan dan barang-barang kebutuhan lainnya untuk warga sipil.

Pejuang ISIS dan Jabhah Fath Syam menguasai daerah yang berbeda dari Kamp Yarmouk.

Wesam Sabaaneh, direktur Jafra Foundation, sebuah kelompok kemanusiaan yang bekerja di kamp pengungsi Palestina mengatakan bahwa kamp sering diguncang oleh bentrokan sengit antara pasukan rezim dengan pejuang Suriah.

“Situasi bagi warga sipil sangat buruk,” ujar Sabaneeh kepada Al Jazeera, menggambarkan kehidupan di kamp sebagai pengepungan dalam pengepungan bagi penduduk yang tersisa.

“Terjadi kekurangan air dan tidak ada istrik, dan itu semakin buruk saat warga menghadapi musim dingin. Tidak ada air bersih atau obat-obatan sehingga ada banyak ketakutan bahwa penyakit akan menyebar dengan sangat capat di kamp,” lanjut Sabaaneh, menjelaskan bahwa perawatan medis hanya tersedia di beberapa klinik darurat.

Pada Jum’at pekan lalu, Action Group melaporkan bahwa Hussein Al-Misri (70) meninggal dunia karena kurangnya perawatan medis dan tidak ada obat-obatan di Yarmouk.

Misri adalah di antara lebih dari 3.411 pengungsi Palestina yang meninggal di kamp Yarmouk sejak perang Suriah dimulai. (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...