Berita Dunia Islam Terdepan

Para penguasa Muslim gadaikan Aleppo pada gerombolan anjing

Seorang ayah Suriah histeris saat kehilangan anaknya. (Foto: Internet)
3

Ditulis oleh Adnan Khan

Banyak pihak berusaha mencerna tragedi Aleppo dan pembantaian yang bertubi-tubi di seluruh dunia. Hanya satu setengah tahun yang lalu rezim Asad telah kehilangan sebagian besar wilayah kekuasaan di negaranya. IHS Jane’s Information Group mengonfirmasi pada Agustus 2015 bahwa rezim Asad mengendalikan hanya 17% dari wilayah Suriah, sementara sisanya ditaklukkan oleh ‘para pemberontak’. Jatuhnya Aleppo telah mengubah total segala hal dan membuat rakyat Suriah nyaris terlupakan di saat-saat yang kritis seperti yang terjadi belakangan ini.

Amerika, negara adidaya di dunia, menyebabkan orang-orang Aleppo bergulat sendiri di bawah serangan dari rezim Asad. AS giat menyerukan diskusi namun pada saat yang sama membiarkan warga Aleppo dibantai. Strategi menggonggong-gonggong tanpa menggigit ini telah menjadi posisi konstan AS sepanjang pemberontakan. Seorang komandan “pemberontak” yang loyal pada AS menggarisbawahi, “Kami sangat frustrasi. Amerika Serikat menolak untuk memberikan senjata yang kami butuhkan, namun mereka pikir merekalah yang akan mendikte apa yang harus dilakukan. Mereka menjanjikan dukungan bagi kami dan kemudian menonton kami tenggelam. Amerika tidak akan memiliki pengaruh jika kawan-kawan kami terpaksa mundur ke Idlib.”

Merasa dipermalukan oleh pernyataan ini, para pejabat AS kemudian mengatakan, pemerintahan Obama dapat mencabut larangan lama dengan memungkinkan Qatar dan Arab Saudi untuk mempersenjatai pemberontak dengan rudal man-portable . Langkah ini muncul setelah pembantaian terjadi.

Negara-negara yang ada di kawasan Syams yang telah sejak lama menyatakan dukungannya pada kelompok “pemberontak” melawan rezim di Damaskus akhirnya meninggalkan mereka pada saat yang paling kritis. Turki membuat sejumlah kelompok di provinsi Aleppo. Tapi saat Aleppo dikepung, respon Turki hanya terbatas pada daerah yang direbut oleh YPG (Unit Proteksi Populer bentukan Turki) sebelumnya di utara Suriah. Yang sangat melemahkan garda “pemberontak” di Aleppo adalah intervensi militer Turki – dikenal sebagai Operasi Perlindungan Eufrat. Operasi ini memperlihatkan bahwa pejabat militer Turki menggeser kelompok “pemberontak” dari Aleppo ke Afrin di utara Suriah. Dengan memobilisasi pemberontak Suriah yang awalnya berjuang di Aleppo, seperti Brigade Nuruddin Al-Zinki, akan melemahkan pemberontakan di Aleppo dan dengan demikian memudahkan pasukan Asad. Arab Saudi dan Qatar sekarang hanya tertarik pada upaya PBB di Suriah dan menolak mempersenjatai kelompok “pemberontak” di Aleppo yang sebelumnya mereka dukung. Meskipun negara-negara regional ini memiliki kemampuan untuk memberi pukulan mematikan bagi al-Assad, mereka tetap menjadi golongan yang enggan mengulurkan tangan bagi warga Aleppo.

Para penguasa Muslim meninggalkan ummat di Aleppo dan sekonyong-konyong mempersilakan Bashar Asad menjadi-jadi dalam membumihanguskan Aleppo. Dengan bantuan dari serangan udara Rusia dan Garda Revolusi yang didukung pejuang milisi Iran, pembantaian Aleppo terjadi. Pengepungan rezim mengakibatkan terputusnya jalur penyediaan makanan, obat-obatan, bahan bakar dan senjata. Serangan udara Rusia menyebabkan puluhan ribu warga sipil mengungsi dari daerah yang ditargetkan dan menghancurkan seluruh kawasan. Pasukan pro-Asad tanpa pandang bulu menghujani Aleppo dengan bom barel lewat helikopternya, bahkan menggunakan senjata kimia dalam beberapa kesempatan, menewaskan ribuan orang dan sengaja menargetkan warga sipil, termasuk prasarana sipil termasuk rumah sakit dan sekolah. Selama November 2016 Asad menargetkan semua rumah sakit di Aleppo timur. Pembantaian sembarangan ini adalah cara Asad merebut Aleppo.

Bashar Asad menghabiskan setengah dekade untuk meraih kemenangan yang paling pentingnya ini. Kemenangannya di Aleppo yang dicapai melalui pembantaian dan pembumihangusan, dalam kenyataannya bukanlah kemenangan yang nyata. Aksinya ini semakin menegaskan ketidakmampuannya meyakinkan rakyatnya sendiri terhadap kekuasaan dan bahkan dia menggunakan taktik perang yang memakan waktu yang sangat lama. “Pemberontak” mengumpulkan sekitar 10.000 tentara dan semua pasukan Rusia dan butuh waktu lama bagi pasukan Al-Assad -dengan sokongan dari Rusia dan Iran- untuk meraih kemenangan. Bahkan dengan tak terhitungnya jumlah korban, pertempuran melawan pasukan Asad ini tetap berkobar. Kita masih menyaksikan apakah ini awal dari sebuah akhir ataukah sebaliknya. Namun jelas-jelas kita melihat bahwa saudara-saudara Muslim kita di Syams ibarat gunung yang bahkan tidak dapat digeser dengan mudah.

Alih bahasa: Althaf/arrahmah.com

Baca artikel lainnya...