Berita Dunia Islam Terdepan

Tausiah Ustadz Abu Jibriel kepada Kapolri untuk keselamatan bangsa

Ustadz Abu Jibriel. Foto: Panjimas
3

JAKARTA (Arrahmah.com) – Wakil Amir Majelis Mujahidin Ustadz Abu Jibriel dalam tausiahnya kepada Kapolri untuk keselamatan bangsa mengungkapkan, para tokoh dan ulama serta rakyat bertanya-tanya, ada apa gerangan sehingga Kapolri tidak berani menangkap Ahok, ataukah Kapolri sudah dikalahkan oleh Ahok?

Menurutnya pertanyaan dan penilaian di atas wajar saja muncul, karena yurisprudensi dalam kasus serupa sebelumnya, meski belum ditetapkan sebagai tersangka, para pelaku penoda agama, langsung ditangkap dan ditahan.

“Ini tak ada kaitannya dengan tindakan hukum di masa orde baru dengan era reformasi. Ini murni masalah hukum, karena ada yurisprudensinya,” tegasnya.

Berikut ini selengkapnya Tausiah Ustadz Abu Jibriel kepada Kapolri untuk keselamatan bangsa yang baru diterima redaksi Senin (28/11/2016) pagi.

Kepada Kapolri Bapak Jenderal (Pol) Tito Karnavian
Di Jakarta.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Semoga tulisan ringkas ini dapat menjadi salah satu masukan dari sekian banyak usulan atau tazkirah dari para tokoh dan ulama Islam kepada Bapak Kapolri.

Tazkirah ini saya sampaikan agar kasus yang melibatkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) itu tidak menjadi polemik yang berkepanjangan dan mengundang persangkaan buruk dari berbabagai kalangan terhadap keadilan Kapolri yang masih membiarkan Ahok bebas sebagai tersangka penodaan agama.

Para tokoh dan ulama serta rakyat bisa jadi tak hanya mengatakan bahwa Jenderal Tito telah berlaku tidak adil atau tebang pilih, bahkan mereka akan berpikir Kapolri telah melakukan tindakan melanggar hukum karena tidak memperlakukan Ahok seperti para pelaku atau tersangka penista agama sebelum-sebelumnya serta tidak menempatkan seseorang sama di depan hukum.

Para tokoh dan ulama serta rakyat pun akan bertanya-tanya, ada apa gerangan sehingga Kapolri tidak berani menangkap Ahok, ataukah Kapolri sudah dikalahkan oleh Ahok? Pertanyaan pun tak berhenti sampai di situ. Bisa jadi para ulama, tokoh dan masyarakat luas akan menilai “ada apa-apa”nya, sehingga Bapak Kapolri tak berani memerintahkan untuk menangkap Ahok. Pertanyaan dan penilaian di atas wajar saja muncul, karena yurisprudensi dalam kasus serupa sebelum-sebelumnya, meski belum ditetapkan sebagai tersangka, para pelaku penoda agama, langsung ditangkap dan ditahan. Ini tak ada kaitannya dengan tindakan hukum di masa orde baru dengan era reformasi. Ini murni masalah hukum, karena ada yurisprudensinya. Bahkan di era reformasi ini, 3 atau 4 tahun yang lalu, di Bali, seseorang yang menjadi tersangka penoda agama Hindu, ditangkap, diadili dan dihukum penjara. Artinya, tak hanya di masa orde baru. Atau contoh lainnya di era reformasi ini, yaitu kasus Lia Eden dan pemimpin Gafatar yang juga ditangkap dan dihukum penjara, serta beberapa kasus lainnya di sejumlah daerah terhadap orang-orang yang menodai agama dengan mengaku sebagai nabi.

Supaya selamat dari berbagai prediksi yang kurang baik ini, saya memberikan taushiyah kepada Bapak Kapolri agar segera menangkap Ahok. Takutlah kepada Allah Ta’ala dengan siksa neraka-Nya yang akan diberikan kepada pemimpin yang tidak berlaku adil.

Semoga Allah Ta’ala merahmati dan memberkati Bapak Kapolri dan seluruh jajajaran Polri yang tegak melaksanakan amanah bangsa dan negara yang menjunjung tinggi keadilan.

Ingatlah firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai kaum Mukmin, nyatakanlah kebenaran karena Allah, dan jadilah saksi yang adil. Janganlah kebencian kalian kepada suatu kaum menyebabkan kalian berbuat tidak adil kepada mereka. Berlaku adillah kalian, karena keadilan itu menjadikan manusia lebih dekat kepada Allah. Taatlah kepada Allah, sungguh Allah akan memberitahukan balasan atas semua perbuatan kalian,” (QS Al-Maa-idah (5) : 8).

Demikianlah masukan dan taushiyah yang saya sampaikan, semoga mendapat perhatian dan bermanfaat untuk kebaikan agama, bangsa dan tanah air kita Indonesia.

Baarakallahu fiikum fid dunia wal akhirah.
Walhamdulillah.
Pamulang, 28 November 2016

Ttd

Al Ustadz Abu Muhammad jibriel AR.

(azmuttaqin/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...