Berita Dunia Islam Terdepan

Parade bhineka tunggal ika; Sedikit masa, merusak taman, tinggalkan sampah dan praktik ‘bayar massa’

Perbandingan aksi bela Islam jilid II 411 dengan parade bhineka tunggal ika pro ahok 1911 dalam bidikan kamera. Foto: Fb
6

JAKARTA (Arrahmah.com) – Politisi Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia menertawakan Parade Bhineka Tunggal Ika yang digelar di Jakarta akhir pekan lalu.

Pasalnya, aksi yang disebut-sebut sebagai tandingan dari aksi jutaan umat Islam 411 hanya diikuti segelintir orang.

Lucunya lagi, kata dia, gerakan mobilisasi parade besar yang hanya diikuti ratusan orang itu akhirnya terbukti ada praktik ‘bayar massa’ demi mendatangkan massa.

“Lebih memalukan lagi peserta Parade yang cuma yang sedikit itu terlihat seperti piknik atau wisata dengan menduduki/merusak taman serta meninggalkan sampah,” kata Doli di sela-sela diskusi di kantor PB HMI, Jakarta, Senin (21/11/2016), lansir Teropongsenayan.

Hal tersebut, menurut dia, berbeda dengan massa aksi 411 yang tertib dan bersih.

“Saya kira Ahok harus bisa menjelaskan soal ‘bayar massa’ itu. Jangan sampai Ahok melakukan strategi ‘maling teriak maling’ terhadap massa aksi 411 yang dituduhnya dibayar 500 ribu,” cetusnya.‎

Doli juga menyayangkan Parade Bhinneka Tuggal Ika yang terkesan sebagai aksi tandingan Bela Islam 411 silam.

“Kabarnya ini (massa) kan pendukung Ahok untuk menandingi Aksi Bela Islam 411. Apa maksudnya? Konteksnya saja jauh berbeda kok,” katanya.

Dijelaskannya, aksi Bela Islam II merupakan bentuk reaksi ummat Islam dan ulama terhadap penistaan Agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

“Ini tidak ada kaitannya dengan soal politik apalagi Pilgub DKI yang sangat lokal. Penistaan agama yang dilakukan Ahok sudah menjadi persoalan umat Islam di dunia internasional dan Ahok sudah menyandang status tersangka. Mereka Salah alamat,” beber Doli.

Sementara Parade Bhinneka Tunggal Ika, lanjut dia, bertendensi membela Ahok dan ingin membangun opini bahwa demonstran 411 mengancam keutuhan NKRI.

“Ini tidak relevan dan sangat politis. Apalagi dalam persiapannya panitia membangun opini seakan menghalalkan segala cara dengan berani mengatas namakan tokoh, ulama, organisasi, artis turut sebagai pengundang, yang akhirnya semua melakukan klarifikasi,” sesalnya.

(azm/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...