Berita Dunia Islam Terdepan

Biksu Anti-Muslim Myanmar: Trump mirip dengan saya

Ashin Wirathu, pemimpin tinggi organisasi Buddha Myanmar yang dikenal sebagai Ma Ba Tha, saat diwawancarai di biaranya di Mandalay, Myanmar.
8

YANGON (Arrahmah.com) – Seorang biksu nasionalis yang dituding memperparah sentiment anti-Muslim di Myanmar mengatakan ia merasa dibenarkan oleh pemilih AS yang memilih Donald Trump menjadi presiden.

Wirathu, pemimpin tinggi organisasi Buddha Myanmar yang dikenal sebagai Ma Ba Tha, mengatakan bahwa pandangannya tentang Islam sama dengan pandangan presiden terpilih AS dari partai Republik.

Sebagaimana diketahui, kampanya Trump sarat dengan retorika dan usulan anti-Islam yang meliputi pelarangan umat Islam memasuki AS dan memperketat pengawasan masjid.

“Kami disalahkan oleh dunia, tetapi kami hanya melindungi rakyat dan dan negara kami,” kata Wirathu.

“Dunia menyebut kami berpikiran sempit. Tetapi saat orang-orang dari negara yang merupakan kakeknya demokrasi dan hak asasi manusia memilih Donald Trump, yang mirip dengan saya dalam memprioritaskan nasionalisme, sedikit yang menudingkan jarinya dari komunitas internasional.”

Dia bahkan melayangkan gagasan kerja sama dengan kelompok-kelompok nasionalis di AS

“Di Amerika, bisa ada organisasi seperti kita yang melindungi terhadap bahaya ‘Islamisasi’. Organisasi-organisasi tersebut bisa datang ke organisasi di Myanmar untuk mendapatkan saran atau berdiksui,” katanya dalam sebuah wawancara di kuilnya di Mandalay pada 12 November

“Myanmar tidak perlu untuk mendapatkan saran dari negara lain. Tapi mereka bisa mendapatkan gagasan dari Myanmar,” klaimnya.

Wirathu telah dituduh menghasut kekerasan dengan retorika anti-Islamnya yang penuh kebencian di negara Asia Tenggara ini, negara mayoritas Buddha yang berjumlah sekitar 55 juta. Kerusuhan yang dipimpin Budha telah menewaskan lebih dari 200 orang tewas pada 2012 dan memaksa ratusan ribu orang meninggalkan rumah mereka, sebagian besar dari mereka adalah Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine.

Sentimen anti-Rohingya tetap tinggi di Myanmar. Anggota kelompok etnis tersebut secara luas dianggap telah berimigrasi secara ilegal dari Bangladesh, meskipun banyak keluarga Rohingya yang telah tinggal di Myanmar selama beberapa generasi.

(ameera/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...