Berita Dunia Islam Terdepan

Pelukis Suriah menggunakan selongsong peluru, roket dan mortir menjadi karya seni

AA Photo
4

DAMASKUS (Arrahmah.com) – Ekrem Abu al-Fevz, seorang pelukis lokal, telah menggunakan selongsong peluru bekas, roket dan mortir – yang merupakan simbol kematian – untuk membuat media artistik baru.

Berbicara kepada Anadolu Agency, al-Fevz mengatakan bahwa kota asalnya Douma telah mengalami sejumlah serangan darat dan serangan udara dalam beberapa tahun terakhir yang telah meninggalkan banyak amunisi dari semua jenis dan ukuran.

“Apa yang saya lakukan dengan selongsong peluru tersebut adalah seperti menyelamatkan orang dari puing-puing. Dengan melukis selongsong ini dengan warna-warna cerah, saya mencoba untuk membersihkan debu kematian dari bom yang membunuh kami,” katanya.

“Melalui karya saya, saya ingin mengirim pesan perdamaian dan revolusi ke seluruh dunia,” tambahnya.

Terinspirasi oleh selongsong peluru yang ia lihat berserakan di tanah setiap hari, al-Fevz mulai melukis selongsong tersebut untuk menyampaikan pesan betapa parahnya situasi kemanusiaan di Douma ini..

Dia telah memberikan beberapa karyanya kepada teman dan tetangganya, tetapi telah menyimpan sebagian besar karyanya itu di rumahnya, yang kini juga berfungsi sebagai pameran seni darurat.

Al-Fevz mengatakan ia telah melukis sejak kecil.

“Saya tidak pernah secara resmi belajar melukis, saya menganggapnya sebagai hadiah dari Allah,” katanya.

Dia pertama kali mulai melukis dengan pensil arang. Sebelum konflik Suriah meletus pada tahun 2011, ia biasanya melukis di atas kaca dengan gaya lokal oriental.

“Lalu perang dimulai,” kenangnya. “Pengeboman menjadi begitu dahsyat sehingga suatu hari aku memutuskan untuk mengumpulkan selongsong peluru sebagai kenang-kenangan.”

“Saya tidak pernah secara resmi belajar melukis, saya menganggapnya sebagai hadiah dari Allah,” katanya.

Dia pertama kali mulai melukis dengan pensil arang. Sebelum konflik Suriah meletus pada tahun 2011, ia biasanya melukis di atas kaca dengan gaya lokal oriental.

“Lalu perang dimulai,” kenangnya. “Pengeboman menjadi begitu dahsyat sehingga suatu hari aku memutuskan untuk mengumpulkan selongsong peluru sebagai kenang-kenangan.”

“Kemudian ide itu datang kepada saya: mengapa saya tidak menghiasi selongsongan itu menjadi sebuah karya seni?” kenangnya.

“Segera saya menghiasi selongsong peluru itu dengan warna-warna cerah.”

Al-Fevz telah membagikan gambar dari karya-karyanya itu di media sosial, dan banyak yang mengagumi karya-karyanya.

(ameera/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...