Berita Dunia Islam Terdepan

Di Xinjiang Cina, sebuah jalan hidup menanti mati

Tomurti villiage in China's Xinjiang Uyghur Autonomous Region is shown in this undated file photo. (RFA)
13

Yadi Rehim duduk di luar rumahnya yang terbuat dari tanah liat di desa Tömürti menunggu hilangnya jalan hidupnya.

Pegunungan Tengritagh (atau biasa disebut Tianshan oleh orang-orang cina) masih mencapai birunya langit seperti yang selalu mereka miliki. Suara kambing yang mengembek masih menggema dari puncak gunung hingga ke lembah dan bau dari asap perapian kayu masih melekat di bangunan-bangunan yang ada di sana.

Namun ketika Radi Rehim duduk di depan rumahnya, dia tahu bahwa hari-harinya di sini telah dihitung

“Hanya ada 24 keluarga yang tinggal di desa kami karena mereka menolak untuk menandatangani persetujuan untuk direlokasikan,” Yadi Rehim menjelaskan kepada kantor berita RFA cabang Uyghur. “Saya adalah salah satu dari sedikit orang yang masih bertahan yang tersisa.”

Yadi Rehim dan desanya sedang menghadapi persamaan kemanusiaan dari tubrukan antara lempeng tektonik India dan lempeng tektonik Eurasia yang mengangkat pegunungan Tianshan ke langit.

Yadi Rehim dan kaum Uyghur -orang-orang dari etnis Turki yang menjalankan Islam- yang masih tersisa berada diantara dorongan dunia modern yang tak dapat dihindarkan dan hasrat orang-orang Cina yang ingin mengeksploitasi area tersebut untuk mengambil kekayaan mineral dan potensial pariwisatanya.

“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami di masa yang akan datang”, kata Yadi Rehim. “Sekolah, rumah sakit, dan fasilitas-fasilitas yang lain sudah ditutup, dan anak-anak kami tidak dapat pergi ke sekolah lagi.”

Kelompok hak asai menuduh pihak berwenang Cina telah mengotoritasi peraturan di Xinjiang Cina daerah otonom Uyghur Xinjiang, termasuk razia kasar yang dilakukan oleh polisi terhadahp rumah-rumah warga Uyghur, pembatasan dalam pengamalan Islam, dan mengekang kebudayaan serta bahasa orang-orang Uyghur.

Negara Cina dengan tegas telah bersumpah untuk mengambil tindakan keras bagi apa yang mereka sebut “tiga kejahatan” yaitu terorisme, separatisme, dan ektrimisme agama di Xinjiang.

Namun para pakar di luar Cina mengatakan bahwa Beijing telah melebih-lebihkan ancaman yang datang dari separatisme Uyghur, dan bahwa peraturan-peraturan dalam negeri bertanggung jawab atas kenaikan tingkat kekerasan yang telah menyebabkan ratusan kematian sejak tahun 2012.

Beberapa orang-orang Uyghur takut bahwa orang-orang Cina etnis Han, paling tidak, berusaha keras untuk meminggirkan mereka dan, yang terburuk, adalah mencoba untuk mengusir mereka semua secara keseluruhan.

“Kami telah melihat desa dan padang rumput kami berubah menjadi resor-resor pariwisata. Sekarang perusahaan-perusahaan Cina telah menguasai desa-desa kami”, kata Radi Rehim. “Kehidupan yang dulu dan budaya lokal mulai lenyap tanpa bekas.”

Sebuah perpindahan besar-besaran

Menurut pejabat kantor berita Xinhua, otoritas Cina berencana untuk memindahkan lebih dari 600.000 petani dan penggembala lokal di Xinjiang jauh dari sawah-sawah dan padang rumput mereka menuju daerah perkotaan sebagai bagian dari Rencana Lima Tahun ke-12, mencakup tahun 2011-2015.

Penduduk desa yang lain, Eysa Yehya, mengatakan kepada RFA bahwa dua tahun yang lalu kebanyakan para penggembala lokal -kurang lebih 1.200 dari penduduk Tomurti dan desa terdekat Nernasu di Tengritagh (Tianshan) kota praja- telah direlokasikan ke area-area transmigrasi di daerah pinggiran kota Kumul (atau yang biasa disebut orang Cina dengan Hami).

Bagi orang-orang Cina, Beijing telah membebaskan mereka dari abad-abad bekerja keras.

“Komite partai dan pemerintahan wilayah Araturk (Yiwu) telah mengeluarkan sebuah rencana untuk membebaskan para petani dari ketmen dan membebaskan penggembala dari qamcha,” kata seorang petinggi wilayah tersebut yang berbicara dalam kondisi anonim.

Ketmen adalah sebuah penggalian tradisional yang digunakan oleh petani Uyghur, sedangkan qamcha adalah sebuah bentuk cemeti yang dipakai oleh penggembala Uyghur.

“Kami memiliki rencana dimana tidak akan ada ruang bagi siapapun yang bertani atau menggembala dengan alami selama tiga sampai lima tahun kedepan di kabupaten Araturk,” kata pejabat itu kepada RFA.

Pada tanggal 23 Desember 2015, Departemen Kontruksi Perkotaan dan Perumahan Pemerintah Wilayah Xinjiang telah mempublikasikan data statistik terbaru bahwa selama Rencana Lima Tahun ke-12 itu, Pemerintah Xinjiang telah menginvestasikan sebanyak 120 juta yuan (sekitar 20 juta dolar Amerika) untuk memulai proyek pembangunan rumah penduduk baru untuk 1,5 juta keluarga lokal dan memindahkan lebih dari enam juta petani dan penggembala Uyghur.

Berdasarkan berita Asian Central Times (Yazhou Zhongxin Shibao) yang mana telah dipublikasikan oleh Komite Konsultasi Daerah Otonomi Xinjiang, otoritas lokal telah merelokasi sebanyak 300 keluarga dari desa-desa terdekat selama lima tahun ini. (siraaj/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...