Majelis Mujahidin tantang Ahok soal ucapannya yang menabuh genderang permusuhan dengan umat Islam

Logo Majelis Mujahidin
37

JAKARTA (Arrahmah.com) – Majelis Mujahidin menantang Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) debat terbuka terkait ucapannya di depan masyarakat Kepulauan Seribu, Rabu (28/9/2016) lalu. Majelis Mujahidin menilai ucapan Ahok merupakan penistaan terhadap ayat suci Al-Quran dan menabuh genderang permusuhan dengan umat Islam.

“Oleh karena itu, sebagai upaya klarifikasi agar tidak hanya mengklaim bahwa ‘tidak ada niatan menista secara sepihak, maka Majelis Mujahidin menantang Saudara untuk uji sahih dalam Debat Terbuka, guna mempertanggung jawabkan ucapan tersebut. Apabila Saudara bukan seorang RASIS, bukan pemicu SARA,dan Tidak Pengecut, maka tidak ada cara lain kecuali menerima tantangan Debat ini secara gentle, ” demikian surat elektronik Majelis Mujahidin yang diterima redaksi, Senin (10/10).

Berikut surat elekronik Majelis Mujahidin selengkapnya, perihal tantangan debat terbuka kepada Ahok.

Hal:Tantangan Debat Terbuka

 

Kepada

Gubernur DKI Jakarta

Ir. BasukiTjahajaPurnama, MM

Di – Jakarta

 

Keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk kebenaran

 

Pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di depan masyarakat Kepulauan Seribu, Rabu (28/9/2016) lalu, telahmengundang kontroversi. Dalampidatoitu, Gubernur menyinggung surat Al-Maidahayat 51 dengan ucapan ‘dibohongin pakaiSurat Al-Maidah 51’. Dalam Al-Quran, ayat tersebut memang secara jelas dan tegas melarang umat Islam memilih pemimpin Non Muslim.

Kami, dari institusi Majelis Mujahidin telah mencermati dan menelaah isi Pidato tersebut. Dalam pidato itu, Gubernur Basuki Tjahaja Purnama menyatakan:

“Jadi enggak usah pikirkan ‘Ah nanti kalau Ahok enggak kepilih pasti programnya bubar’. Enggak, saya memimpin Jakarta sampai Oktober 2017. Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu enggak bisa pilih saya. Karena dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macem-macemg itu lho (orang-orang tertawa). Itu hak bapak ibu, ya. Jadi kalau bapak ibu perasaan enggak bisa pilih nih, saya takut masuk neraka dibodohin gitu ya, enggak apa-apa, karena inikan panggilan pribadi bapak ibu. Program ini jalan saja”.

Menurut Saudara, mungkin tidak ada yang salah dengan ucapan itu. Tapi bagi kami, ucapan tersebut merupakan penistaan terhadap ayat suci Al-Quran dan menabuh genderang permusuhan dengan umat Islam.

Oleh karena itu, sebagai upaya klarifikasi agar tidak hanya mengklaim bahwa ‘tidak ada niatan menista ‘secarasepihak, maka Majelis Mujahidin menantang Saudara untuk uji sahih dalam Debat Terbuka, guna mempertanggung jawabkan ucapan tersebut. Apabila Saudara bukan seorang RASIS, bukan pemicu SARA,dan Tidak Pengecut, maka tidak ada cara lain kecuali menerima tantangan Debat ini secara gentle.

Demikian surat Tantangan DebatTerbuka ini kami sampaikan sebagai upaya transparansi untuk mengurai persoalan secara publik, ilmiah dan konstitusional. Adapun tempat dan waktu penyelenggaraan Debat kami serahkan kepada Saudara, baik selaku pribadi maupun pejabat gubernur DKI Jakarta. Kami menanti jawabannya segera. Terimakasih.

Yogyakarta, 9 Muharram 1438 H/ 10Oktober 2016 M

Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin

 

tanda tangan MM

(azmuttaqin/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.