Berita Dunia Islam Terdepan

MUI berharap para pengikut Taat Pribadi segera insaf

KH Abdussomad Bukhori Ketua Umum MUI Jawa Timur
4

PROBOLINGGO (Arrahmah.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur (Jatim) berharap para pengikut Taat Pribadi segera insaf, sadar untuk segera tinggalkan Padepokan Dimas Kanjeng di Probolinggo. Ini disampaikan, usai MUI mengunjungi dan memantau langsung puluhan tenda-tenda yang ditempati ribuan pengikut Padepokan seluas 40 hektar itu.

Demi memastikan ajaran di padepokan sesat, MUI langsung mengecek puluhan tenda-tenda yang dihuni pengikutnya, dan memberikan arahan ke pengikut padepokan. MUI juga memberi arahan kepada pengikut padepokan untuk segera bertaubat dan insyaf, dan segera tinggalkan padepokan yang menjanjikan tipu muslihat pencairan uang ghaib.

KH Abdusshomad Buchori, Ketua MUI Jatim menolak Taat Pribadi dengan Padepokan Dimas Kanjengnya disebut sebut karomah. Karena sebutan itu tidak layak di sandang Taat Pribadi, melainkan hanya para Waliyullah yang bisa disebut karomah.

“Uraian penjelasan kalau padepokan ini karomah itu tidak benar, hanya Waliyullah saja yang bisa menggelar predikat ini, karomah tidak boleh digelar orang yang suka bohong, si Kanjeng itu tidak ada karomahnya,” kata Kiai, lansir pojokpitu Kamis (29/9/2016).

Pihaknya akan membahas terkait pengikut padepokan ini, saat rapat di Kantor Majelis Ulama Indonesia pusat nantinya. Serta mengajak pihak kementerian untuk segera membiayai dan memulangkan para pengikut dari padepokan.

MUI berharap para pengikut untuk tidak percaya atas uang ghaib yang akan dijanjikan Taat Pribadi.

“Apalagi bisa mendatangkan uang dari alam ghaib, semua itu hanya tipu muslihat saja,” tegas KH. Abdusshomad Buchori

Kasus pidana Taat

Sementara itu dari aspek hukum, jajaran Ditreskrimum Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur melimpahkan berkas acara pemeriksaan (BAP) kasus pembunuhan dengan empat tersangka yang diduga kuat menerima perintah dari pimpinan Padepokan “Dimas Kanjeng” di Probolinggo, Jawa Timur, Taat Pribadi (46), ke Kejati Jatim.

“Berkas dan keempat tersangka itu kita limpahkan ke Kejati Jatim. Ada dua kasus pembunuhan yang melibatkan pimpinan Dimas Kanjeng itu yakni korban Abdul Gani dan Ismail Hidayat. Kami (Polda Jatim) tangani kasus pembunuhan dengan korban Abdul Gani,” kata Kasubdit III/Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Taufik Herdiansyah di Mapolda Jatim, Kamis (29/9), lansir Antara.

Taat Pribadi mengenakan baju tahanan polisi dengan tangan diborgol
Taat Pribadi mengenakan baju tahanan polisi dengan tangan diborgol

Didampingi Kaur Mitra Subbid Penmas Bidang Humas Polda Jatim Kompol Rety, ia menjelaskan kasus pembunuhan dengan korban Ismail Hidayat ditangani Polres Probolinggo dan kasusnya juga sudah dilimpahkan ke Kejari Probolinggo. “Untuk kedua kasus pembunuhan itu memang ada tersangka yang sama,” katanya.

Menurut dia, Abdul Gani dibunuh di Probolinggo pada 13 April 2016, sedangkan Ismail Hidayah dibunuh pada setahun sebelumnya yakni 2 Februari 2015. “Mayat Abdul Gani ditemukan selang sehari sesudah dibunuh yakni 14 April 2016, lalu kami menyelidiki kasus itu pada Mei, Juni, Juli hingga terungkap pada September ini,” katanya.

Dia mengatakan jenazah Abdul Gani ditemukan di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah. “Para pelaku pembunuhan Abdul Gani mengaku korban dibuang ke Wonogiri untuk menghilangkan jejak, karena korban Ismail Hidayah yang dibunuh sebelumnya dan dikubur di Probolinggo bisa ketahuan,” katanya.

Ditanya motif pembunuhan Abdul Gani, ia mengatakan korban merupakan ketua yayasan padepokan pimpinan Dimas Kanjeng itu, namun korban tidak aktif dan sering menjelek-jelekkan Taat Pribadi di luar padepokan dan korban diduga menghambat usaha padepokan dengan menyelewengkan uang.

“Korban sering menjelek-jelekkan pimpinan Dimas Kanjeng di luar padepokan dengan menyebutkan uang Taat Pribadi itu banyak, tapi tidak diberikan kepada orang yang meminjamkan uang itu untuk digandakannya. Kalau uangnya ada, kenapa tidak diberikan saja, begitu kata korban kepada orang lain,” katanya.

Namun, pihaknya juga menduga motif lain, karena tanggal pembunuhan (13/4) itu merupakan tanggal sedianya korban menjadi saksi untuk kasuspenipuan yang dilakukan Taat Pribadi di Mabes Polri atas pengaduan korban penipuan dengan tujuan penggandaan uang itu.

Sementara itu, pimpinan Padepokan “Dimas Kanjeng” di Probolinggo, Jawa Timur, Taat Pribadi, saat “dipertemukan” dengan wartawan berjanji akan mengembalikan uang milik korban. “Saya kembalikan (uangnya) kalau diminta,” katanya.

(azm/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...