Berita Dunia Islam Terdepan

Seruan Ulama Jakarta untuk calon Gubernur DKI

Konferensi Pers Bersama Majelis Pelayan Jakarta dan Majelis Tinggi Jakarta Bersyariah untuk Gubernur Muslim Jakarta, Selasa (19/7), di Ruang Motik Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat. (Foto: Salamonline)
8

JAKARTA (Arrahmah.com) – Sejumlah Ulama Jakarta membuat pernyataan tertulis menyerukan calon Gubernur Muslim bagi Jakarta.

Beberapa Ulama yang terhimpun dalam Majelis Pelayan Jakarta (MPJ) dan Majelis Tinggi Jakarta Bersyariah untuk Gubernur Muslim Jakarta (MTJB-GMJ) ini akan menggalang partisipasi warga muslim Jakarta.

Salah satu Juru Bicara MPJ, Ustadz Bachtiar Nasir yang juga Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), menyampaikan bahwa hak konstitusi Umat Islam sangat strategis menentukan arah ideologi berbangsa dan bernegara.‎

“Menyadari betapa pentingnya kepemimpinan umat Islam di Jakarta sebagai perintah agama dan dalam rangka mencegah munculnya mudharat yang merusak kehidupan umat Islam khususnya di DKI Jakarta,” ujar dia, Selasa (19/7) di Ruang Motik Masjid Agung Sunda Kelapa, dikutip dari Republika

Untuk itu, beberapa Ulama diantaranya mantan Ketua Baznas KH. Didin Hafidhuddin, Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Cholil Ridwan, KH Luthfi Fathullah dan KH. Zaitun Rasmin, dalam konferensi persnya menyatakan lima hal.

Pertama, sepakat untuk menggalang partisipasi penuh umat Islam dalam kontestasi suksesi kepemimpinan DKI dengan kandidat pasangan calon dari kalangan umat Islam.

Kedua, sepakat untuk mengajak berbagai elemen tokoh/lembaga umat Islam yang ada di Jakarta untuk berjuang bersama dalam mengikhtiarkan terwujudnya poin satu di atas.

Ketiga, sepakat untuk meningkatkan komunikasi politik dengan para pimpinan partai politik demi calon gubernur Islam.

Keempat sepakat untuk mengajak seluruh umat Islam ibukota memenangkan pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Muslim.

Kelima sepakat untuk menggalang ukhuwah Islamiyyah dan tetap menjaga agar suasana kehidupan Jakarta tetap kondusif sekalipun bila terjadi perbedaan-perbedaan dalam mengambil sikap, ijtihad, dan pilihan politik dalam koridor syar’iy.

(azm/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...