Berita Dunia Islam Terdepan

Setelah serangan Dhaka, saluran televisi Islami milik Dr. Zakir Naik dilarang tayang

Dr. Zakir Naik, pendiri saluran televisi Islami Peace TV
15

DHAKA (Arrahmah.com) – Otoritas Bangladesh telah memerintahkan pelarangan saluran televisi Islami setelah serangan mematikan di sebuah kafe di ibukota Dhaka, menyusul laporan yang menuduh bahwa siaran stasiun tersebut telah memainkan peran dalam menginspirasi para penyerang.

Peace TV, saluran swasta yang didirikan oleh Ulama, Kristolog dan Da’i terkemuka Dr. Zakir Naik, dituduh telah mengilhami beberapa orang yang melancarkan serangan di sebuah kafe di Dhaka.

“Kami akan mengambil langkah-langkah administratif untuk melarang Peace TV,” ujar Menteri Informasi Bangladesh, Hasanul Huq Inu dihadapan para wartawan setelah pertemuan kontra-terorisme di Dhaka pada Ahad (10/7/2016), lansir Al Jazeera.

Dr. Zakir Naik merupakan pendiri dan Presiden organisasi amal yang berbasis di Mumbai Islam Research Foundation (IRF), yang memiliki saluran Peace TV. Untuk diketahui, konten Peace TV tersedia dalam bahasa Inggris, Urdu dan Bangla dan disiarkan dari Dubai.

Penyelidikan awal oleh pemerintah India mengklaim bahwa mereka telah menemukan bahwa pidato Dr. Zakir Naik dianggap provokatif dan tak menyenangkan.

Serangan terhadap kafe Holey Artisan di pinggiran kota Dhaka adalah salah satu yang paling mematikan di Bangladesh dengan banyak sandera yang tewas dalam pengepungan selama 12 jam.

Laporan media lokal mengatakan bahwa salah satu dari lima penyerang adalah pengikut Dr.Zakir Naik di media sosial. Hal ini dijadikan alasan dan dalih oleh otoritas Bangladesh untuk melarang siaran televisi Peace TV. Meskipun seperti diketahui, media sosial merupakan media milik publik di mana siapapun dapat mengakses dan menjadi pengikut sebuah akun.

Peace TV meluncurkan layanan bahasa Bengali pada tauhn 2011 dalam upaya untuk mencapai pemirsa berbahasa Bangla di seluruh dunia.

Otoritas Bangladesh juga akan memulai untuk memantau khutbah yang diberikan saat Sholat Jum’at untuk mengecek apakah ada khotib yang menyampaikan pesan “provokatif”. (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...