Berita Dunia Islam Terdepan

Habib Rizieq: “Kalau Presiden minta maaf kepada PKI, kita siap lengserkan Presiden”

Habib Rizieq Syihab
6

JAKARTA (Arrahmah.com) – Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab, menolak rencana Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta maaf kepada Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Kalau Presiden minta maaf kepada PKI, kita siap lengserkan Presiden. Memangnya yang buat jahat itu negara atau PKI?” kata Habib Rizieq di depan Monas, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (3/6/2016), lansir Okezone.

Sebelumnya Habib Rizieq, Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen, dan Ketua Panitia Simposium Waspada PKI yakni Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnarki mendatangi Gedung Kemenko Polhukam.

Gabungan ormas Islam yang terdiri dari FUI, FPI, FBB, FBR, FKPPI, PP, PPM, PERSIS, GPI, GPII, DDI, IMM, GMJ, GRJ, dan purnawirawan TNI menggelar unjuk rasa di depan Istana Negara guna menyuarakan penolakan bangkitnya PKI.

Diketahui, Habib Rizieq telah mengancam akan melengserkan Presiden Jokowi jika nekat melakukan permintaan maaf kepada keluarga korban eks PKI. Bahkan, ia menjamin umat Muslim dari Sabang sampai Merauke bakal turun ke jalan untuk mewujudkan penggulingan orang nomor satu di Indonesia itu.

“Kalau Presiden Jokowi tetap ngotot minta maaf, kami semua umat Islam dari Sabang sampai Merauke akan turun ke jalan. Kita turunkan siapa pun presidennya,” ujar Rizieq di Simposium Nasional Anti-PKI di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Rabu (1/6).

Sontak, ungkapan Habib Rizieq langsung disambut pekikan takbir para peserta simposium. Rizieq menilai adanya kesalahan berpikir jika pemerintah meminta maaf. Ia menyindir agar pemerintah sekalian meminta maaf kepada para penjajah jika tetap ngotot melakukan hal tersebut ke PKI.

“Maaf dulu pejuang kami bunuh serdadu Anda. Belanda dan Jepang juga punya hak, tapi bukan kita yang minta maaf,” sambungnya.

Selanjutnya, Rizieq membeberkan adanya indikasi kebangkitan PKI. Sejak masa reformasi, materi pengkhianatan PKI telah dihapuskan dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Kemudian, tidak ada lagi pemutaran film G30S/PKI di seluruh stasiun televisi.

“Kurikulum penting, membentuk ideologi bangsa. Jadi jangan kaget, anak-anak kita umur 27 tahun ke bawah tidak tahu PKI dan bangga pakai kaos gambar palu arit karena ketidaktahuannya,” tegasnya.

Selain itu, di berbagai media, lanjut Rizieq, PKI digambarkan sebagai korban. Alhasil, hal tersebut juga mengesankan umat Islam sebagai pelaku kejahatan.

“Saya sedih, kecewa, dan marah, ada media katakan PKI hanya korban. Kalau gitu, berarti NU, Muhammadiyah, Banser, dan Pemerintah penjahatnya?‎” tandasnya.

(azm/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...