Atresia Bilier diderita Balita Mujahidah, butuh bantuan

Anindya Mujahidah yang menderita Atresia Bilier, kanker empedu
29

TANGERANG (Arrahmah.com) – Guyuran hujan mengiringi perjalanan Relawan IDC dari Bekasi Jawa Barat ke Provinsi Banten selama beberapa jam, Kamis siang (21/4/2016). Setiba di Tangerang, Relawan IDC menyusuri sebuah gang untuk menjenguk Mujahidah, sang balita’Pejuang Hati’ di kawasan Cipadu, Tangerang, Banten.

Muhammad Afif (40) sang ayah, menyambut Relawan IDC dengan ramah dan mempersilahkan masuk. Ruang tamu rumah warisan orang tuanya itu nampak plong. Tak ada barang mewah menjadi penghias, hanya lukisan kaligrafi, lemari kayu berisi buku dan terselip kitab Al-Qur’an.

Di rumah warisan itu Afif tinggal bersama istrinya, Noviani Arifah (35) dan putrinya. Obsesinya begitu tinggi untuk memiliki buah hati seorang pejuang Islam yang tangguh, sehingga ia sematkan nama Syahira Anindya Mujahidah kepada putrinya.

Afif menyambut Relawan IDC dengan ramah. Ternyata ia baru pulang mengais rezeki sebagai pengemudia ojek online (Gojek),

“Ya narik juga jarak dekat,” ujarnya kepada relawan IDC. Kondisi hujan cukup menyulitkan bagi tukang ojek untuk mengantar penumpang.

Tak lama duduk, terdengar rintihan bayi, sang istri, Noviani Arifah menggendong Mujahidah putri bungsunya yang terlihat lemah.

Ia berusaha menenangkan sang bayi, demi menyambut tamu. Namun upaya itu sepertinya cukup sulit. Tim relawan IDC terperanjat, kaget melihat kondisi Mujahidah. Sekilas, teringat dengan almarhum balita Adrian, balita asal Pandeglang Banten yang menderita penyakit yang hampir sama.

Laa hawla wa laa quwwata illa billah! Bentuk fisik Mujahidah sangat memprihatinkan akibat penyakit atresia bilier yang dideritanya.

Matanya kuning, begitu pula kulitnya, pucat kekuningan. Badanya kurus, nampak seperti hanya kulit membungkus tulang. Nafasnya tersengal-sengal, sementara perutnya besar membuncit, guratan uratnya pun nampak. Ada pula bekas jahitan operasi di perutnya.

Mujahidah sudah menjalani operasi kantong empedu pada bulan Januari 2016 lalu. Namun, pihak dokter RSCM mendiagnosa Mujahidah positif terkena atresia bilier.

Penyakit atresia bilier timbul akibat rusaknya saluran empedu di luar hati yang mengakibatkan tidak adanya aliran empedu dari hati ke usus 12 jari secara normal. Jika asam empedu tertumpuk, dapat merusak hati. Selain itu, dalam empedu juga terdapat bilirubin. Bilirubin yang tertahan dalam hati akan dikeluarkan ke dalam aliran darah dan dapat mewarnai kulit dan bagian putih bola mata sehingga berwarna kuning. Bila berlangsung lama, kerusakan hati dapat menyebabkan kerusakan hati lanjut yang disebut sirosis hati (pengerasan pada hati) yang bisa berujung pada gagal hati. Satu-satunya pengobatan gagal hati menurut medis adalah transplantasi (pencangkokan) hati.

Menurut Afif, tanda-tanda anaknya menderita penyakit atresia bilier sudah terlihat sejak lahir. Saat baru dilahirkan tubuhnya kuning, namun awalnya dianggap biasa, sehingga hanya disarankan untuk dijemur. Penyakit atresia bilier pada Mujahidah baru diketahui ketika usia empat bulan, ketika berobat ke salah satu rumah sakit di Tangerang.

Sejak saat itu, perut Mujahidah makin membesar dan tubuhnya menguning. Ia pun dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.

“Waktu itu besarnya perut sampai diameternya 60 cm. Akhirnya dokter baru berani mengeluarkan cairan pakai selang. Cairannya kurang lebih banyaknya dua liter,” terangnya.

Butuh biaya pengobatan pengobatan, herbal dan susu khusus

Hingga kini, Mujahidah masih menjalani berobat jalan di RSCM. Menurut dokter yang menangani, besar kemungkinan, Mujahidah harus menjalani transplantasi hati. Tentu saja biayanya sangat besar hingga miliaran rupiah.

Sementara, Afif, ayah Mujahidah hanya berprofesi sebagai tukang ojek online (Gojek). Sedangkan Noviani, sang istri hanyalah seorang ibu rumah tangga. Ia kini tak lagi bekerja semenjak kelahiran Mujahidah yang butuh perawatan khusus. Ia mengharapkan doa dan bantuan dari kaum Muslimin untuk pengobatan anaknya, agar lekas sembuh.

“Saya mohon doa dari kaum Muslimin, supaya anak saya cepat sembuh,” kata Novi.

Selama ini, selain biaya berobat dua kali sepekan ke rumah sakit, Mujahidah juga membutuhkan asupan nutrisi khusus untuk meringankan penyakit yang dideritanya.

Mujahidah harus mengonsumsi susu Peptamen yang harganya relatif mahal. Harganya, sekitar Rp 245 ribu/850 mililiter dan hanya cukup dikonsumsi sampai tiga hari saja. Untuk satu bulan, ia memerlukan dana sekitar 2.500.000 hanya untuk pengadaan susu.

Selain itu, Mujahidah juga mengonsumsi obat herbal propolis. Setiap bulan, bisa menghabiskan lima botol Brazilian Propolis dengan harga Rp 1.200.000,-

Infaq darurat peduli kasih untuk Anindya Mujahidah

Ujian penyakit gagal empedu yang diderita Anindya Mujahidah adalah beban kita juga, karena persaudaraan setiap Muslim ibarat satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lainnya otomatis terganggu karena merasakan kesakitan juga.

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.

“Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam” (Muttafaq ‘Alaih).

Infaq untuk membantu meringankan musibah sesama muslim insya Allah akan mengantarkan menjadi pribadi beruntung yang berhak mendapat kemudahan dan pertolongan Allah Ta’ala. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُنْيَا نَفَّسَ الله عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَومَ القِيَامَةِ, و مَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ الله عَلَيهِ في الدُنيَا و الأَخِرَةٍ, و مَن سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ الله في الدُنيَا و الأَخِرَةٍ, و الله في عَونِ العَبْدِ ما كان العَبْدُ في عَونِ أَخِيهِ

“Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Barang siapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Dan Allah senantiasa membantu seorang hamba selama hamba tersebut senantiasa membantu saudaranya…” (HR Muslim).

Infaq untuk membantu pengobatan Anindya Mujahidah bisa disalurkan dalam program Infaq Darurat IDC:

  1. Bank Muamalat, No.Rek: 34.7000.3005 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  2. Bank BNI Syariah, No.Rek: 293.985.605 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  3. Bank Mandiri Syar’iah (BSM), No.Rek: 7050.888.422 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  4. Bank Mandiri, No.Rek: 156.000.728.7289 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  5. Bank BRI, No.Rek: 0139.0100.1736.302 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  6. Bank CIMB Niaga, No.Rek: 675.0100.407.006 a.n Yayasan Infak Dakwah Center.
  7. Bank BCA, No.Rek: 631.0230.497 a.n Budi Haryanto (Bendahara IDC)

CATATAN:

  • Demi kedisiplinan amanah dan untuk memudahkan penyaluran agar tidak bercampur dengan program lainnya, tambahkan nominal Rp 3.000 (tiga ribu rupiah). Misalnya: Rp 1.003.000,- Rp 503.000,- Rp 203.000,- Rp 103.000,- 53.000,- dan seterusnya.
  • Laporan penyaluran dana akan disampaikan secara online di: infaqdakwahcenter.com.
  • Bila bantuan sudah tercukupi/selesai, maka donasi dialihkan untuk program IDC lainnya.
  • Info: 08999.704050, 08567.700020; PIN BB: 2AF8061E; BBM CHANNEL: C001F2BF0

(azmuttaqin/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.