Siswa Muslim di Swiss menolak berjabat tangan dengan guru wanita, keluarganya kini dihentikan proses kewarganegaraannya

Populasi Muslim di Swiss mencapai 350.000 jiwa dari 8 juta penduduknya. (Foto: Internet)
11

THERWIL (Arrahmah.com) – Swiss menghentikan proses kewarganegaraan bagi sebuah keluarga dari dua bersaudara remaja Muslim setelah kedua remaja tersebut menolak untuk berjabat tangan dengan guru wanita, yang telah memicu perdebatan nasional mengenai kebebasan beragama.

Kakak beradik, yang masing-masing berusia 14 dan 15 tahun, sebelumnya telah mengungkapkan kepada para pejabat pendidikan di utara kota Therwil bahwa kontak fisik dengan wanita yang bukan anggota keluarga mereka tidak dibenarkan dalam agama.

Mereka kemudian dibebaskan dari kebiasaan murid Swiss untuk berjabat tangan dengan guru. Para pejabat Therwil juga memerintahkan kedua siswa Muslim tersebut untuk menghindari kontak dengan guru laki-laki untuk menghindari “diskriminasi” gender.

Namun, kompromi tersebut memicu respon negatif dari politisi terkemuka Swiss termasuk Menteri Kehakiman Simonetta Sommaruga yang bersikeras bahwa “berjabat tangan adalah bagian dari budaya (Swiss)”.

Pada Selasa, pihak berwenang di Negara Basel, Swiss, di mana kota Therwil berlokasi, mengatakan bahwa proses kewarganegaraan untuk keluarga itu telah ditahan.

Juru bicara Negara Basel Adrian Baumgartner, dalam sebuah email, mengkonfirmasi laporan dari kantor berita ATS tentang penangguhan tersebut.

Laporan itu juga mencatat bahwa penangguhan lazim dilakukan dalam prosedur kewarganegaraan oleh pihak berwenang yang sering membutuhkan informasi tambahan mengenai keluarga yang bersangkutan.

Di tengah pemberitaan media mengenai pembebasan jabat tangan, Negara Basel meminta pendapat ahli hukum, di mana Therwil mengklaim berjanji akan mematuhinya.

Ayah dari dua remaja pria tersebut, merupakan seorang imam yang bermukim di Basel dan berkewarganegaraan Suriah. Mereka pindah ke Swiss pada tahun 2001 dan diberi suaka.

Kantor migrasi Basel sedang mencari informasi lebih lanjut tentang keadaan di mana permintaan suaka mereka telah disetujui.

Sebelumnya sengketa serupa telah terjadi pada orang tua Muslim yang meminta anak perempuan mereka untuk dibebaskan dari pelajaran berenang.

Sebagaimana dilansir AFP (19/4/2016), populasi Muslim di Swiss diperkirakan mencapai 350.000 jiwa dari delapan juta penduduknya. (fath/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.