Kapolri akui anggota Densus 88 menendang dada Siyono dengan lutut

Kapolri Jenderal Pol Drs Badrodin Haiti .
17

JAKARTA (Arrahmah.com) – Kapolri Badrodin Haiti mengakui bahwa ada anggota Detasemen Khusus 88 yang menendang bagian dada Siyono dengan menggunakan lutut saat melakukan penangkapan pada 10 Maret 2016 lalu.

Fakta tersebut terungkap setelah Badrodin melakukan pengecekan ulang terhadap dua anggota Densus 88 yang saat itu terlibat perkelahian dengan Siyono. Ketika itu, Siyono disebut melawan.

“Setelah di-kroscek, anggota kami mengakui menendang dengan lutut mengenai dada,” kata Badrodin dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/4/2016), sebagaimana dilansir Tribunnews.

Sebelumnya kepolisian menyebut bahwa penyebab kematian Siyono karena ada pendarahan di otak, sedangkan dari hasil otopsi ditemukan karena patahnya tulang rusuk yang mengenai jantung.

Badrodin menegaskan, peristiwa kematian terduga terosis Siyono berawal dari upaya Siyono yang mencoba kabur dari kawalan dua anggota Densus.

Siyono melakukan perlawanan dengan memukul, menendang, dan mencoba merebut senjata petugas.

“Perkelahian tidak bisa dihindari. Akhirnya, Siyono bisa dilumpuhkan. Persoalannya begitu dibawa ke RS Bhayangkara di Yogya, Siyono sudah meninggal,” kata Badrodin.

Sementara itu, pada Senin (11/4/2016), PP Muhammadiyah bersama tim forensik dan Komnas HAM mengumumkan hasil otopsi di Kantor Komnas HAM.

Komisioner Komnas HAM Siane Indriani mengatakan, kematian Siyono diakibatkan benda tumpul yang dibenturkan ke bagian rongga dada.

“Ada patah tulang iga bagian kiri, ada lima ke bagian dalam. Luka patah sebelah kanan ada satu, keluar,” ungkap Siane.

Menurut Siane, tulang dada Siyono juga dalam kondisi patah dan ke arah jantung. Luka itu yang menyebabkan kematian fatal dan disebut sebagai titik kematian Siyono.

Ia pun mengungkapkan bahwa ada luka di bagian kepala dan disebabkan oleh benturan. Namun, hal tersebut bukan menjadi penyebab utama kematian dan tidak menimbulkan pendarahan yang terlalu hebat.

Dari semua rangkaian hasil otopsi, lanjut Siane, tidak terdapat adanya perlawanan berdasarkan luka-luka yang diteliti.

“Tidak ada perlawanan dari Siyono. Tidak ada luka defensif,” pungkasnya.

(ameera/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.