Kelaparan mendorong warga Madaya rela melintasi ladang ranjau demi mendapatkan makanan

Di kota Madaya yang terkepung, warga harus menghadapi ranjau darat dan penembak jitu untuk upaya mereka mendapatkan makanan. (Foto: Internet)
29
Pada malam gelap di musim dingin bulan Januari, Hussein Madaya berjalan menyusuri ladang ranjau dalam upaya putus asa untuk membawa pulang makanan untuk istri dan anak-anaknya yang kelaparan di kota yang dikepung oleh pasukan rezim, kota Madaya.
“Itu hari yang aneh,” ujar Hussein, seorang ayah berusia 40 tahun yang memiliki empat orang anak, mengatakan kepada Syria Direct menggunakan nama samaran.
“Makanan langka, orang-orang histeris. Saya memutuskan untuk meninggalkan Madaya dan menyeberangi ladang ranjau di malam hari.”

Dia tidak tahu persis kemana tujuannya, namun daerah di mana dia berasal tidak ada makanan sama sekali. Pasti ada sesuatu di luar wilayah yang diblokade, pikirnya.

Hussein sedang berjalan dengan beberapa orang lainnya melewati lahan pertanian di barat Madaya, dengan pegunungan Qalamoun terlihat di kejauhan, ketika bumi yang ia pijak mulai bergetar dan ia merasakan ledakan yang kuat.

“Saya tidak segera menyadari bahwa saya telah kehilangan kaki saya,” ungkapnya. Dia menginjak sebuah ranjau dalam gelap.

“Rasa sakit lebih buruk dari yang Anda bayangkan.”

Diperkirakan 8.000 ranjau darat tertanam di sekitar Madaya, di barat, selatan dan timur, ungkap Hussam Madaya, seorang aktivis lokal mengatakan kepada Syria Direct.

Apa yang membuat blokade di Madaya dan Baqin menjadi sangat parah adalah bahwa kota-kota tersebut dikelilingi oleh ribuan ranjau darat yang ditanam oleh milisi Syiah asal Libanon yang menamai diri mereka “Hizbullah” pada musim panas 2015. Alat peledak, yang didukung oleh pasukan rezim dan penembak jitu “Hizbullah”, memastikan bahwa hampir tidak ada orang dan apa pun yang bisa masuk atau keluar.

“Ranjau-ranjau ini pada dasarnya garis blokade,” ujar Ghassan Al-Shami, seorang jurnalis lokal menjelaskan kepada Syria Direct.

Hussein tahu resiko yang ia ambil dengan mencoba menyelinap melintasi garis blokade yang terletak sekitar 40 kilometer dari barat laut Damaskus. Sebelumnya kota tersebut dikenal sebagai kota resor musim panas, namun di awal 2016 kota tersebut menjadi kota dengan seluruh penduduk mengalami kelaparan akibat blokade selama berbulan-bulan oleh rezim Nushairiyah dan milisi “Hizbullah” sekutunya.

“Saya tahu bahwa daerah itu berbahaya,” ujar Hussein yang merupakan seorang ahli perdagangan. Dia beresiko kehilangan anggota tubuhnya atau kehilangan nyawanya oleh penembak jitu yang siaga dengan berpetualang melintasi kegelapan. Tapi ia dan keluarganya merasa lapar, jadi dia berupaya melakukan pencarian.

Pasukan rezim Nushairiyah dan “Hizbullah” memberlakukan blokade di Madaya dan kota Baqin di dekatnya sejak Juli 2015 di tengah-tengah pertempuran untuk memperebutkan kota Zabadani, pintu gerbang rute penyelundupan utama di seluruh pegunungan Qalamoun menuju Libanon.

Hingga 40.000 orang kini terjebak di Madaya dan Baqin. Mereka adalah di antara satu juta orang yang hidup di bawah pengepungan di Suriah, menurut laporan organisasi pemantau Siege Watch.

Pejuang yang menguasai Madaya dan Baqin menandatangani kesepakatan “gencatan senjata” lokal dengan rezim pada September 2015 yang menetapkan pintu masuk bantuan untuk desa-desa yang dikuasai oleh rezim Kafraya dan Al-Fuua di utara Suriah dalam pertukaran agar rezim melakukan hal yang sama di Zabadani yang dikuasai oleh pejuang Suriah yang terletak bersebelahan dengan Madaya.

Perjanjian tersebut berarti: bantuan untuk Madaya berarti bantuan untuk Kafraya dan Al-Fuua. Hal yang sama berlaku untuk evakuasi pejuang, warga sipil dan mereka yang terluka.

Meskipun sekitar setengah lusin konvoy bantuan telah memasuki kota tahun ini, dan beberapa kasus medis darurat telah diizinkan untuk keluar, masih terdapat lebih dari 100 orang yang menunggu untuk evakuasi medis. Blokade masih berlaku.

Setidaknya 30 warga sipil telah terbunuh oleh ranjau darat dan penembak jitu yang berusaha melewati garis blokade, menurut laporan Komunitas Medis Suriah Amerika yang dikeluarkan pada Januari lalu.

“Pemerintah dan sekutunya, pasukan ‘Hizbullah’ menempatkan ranjau darat di sekitar Madaya sehingga sangat berbahaya dan sulit bagi warga sipil untuk pergi atau bagi siapa pun untuk menyelundupkan makanan ke kota,” ungkap laporan itu.

“Ranjau telah meledakkan banyak warga sipil yang mencoba melarikan diri dari blokade,” ujar aktivis Madaya, Al-Shami.

“Mereka yang tidak mati dalam ledakan ranjau, berada dalam bahaya dari penembak jitu di posisi militer di dekatnya, yang diperingatkan oleh ledakan.”

Sejak musim gugur lalu, ranjau darat yang mengitari Madaya dan Baqin telah menewaskan 10 orang, ujar seorang dokter di rumah sakit lapangan di Madaya, Muhammad Darwish.

“Tidak ada spesialis untuk kasus-kasus seperti ini,” ujar Darwish.

“Kami memberikan mereka pertolongan pertama, menghentikan pendarahan, memastikan mereka tetap bernafas,” lanjutnya dan menambahkan bahwa ketika pasien telah stabil secara medis, mereka akan melakukan amputasi dengan alat-alat yang tersedia.

“Sebagian besar cedera memerlukan amputasi.”

Tidak ada spesialis pembersih ranjau

Suriah tidak termasuk dari 162 negara yang menandatangani Perjanjian Pelarangan Ranjau tahun 1997 yang melarang penggunaan ranjau anti-personil. Perjanjian tersebut juga menetapkan proses pemusnahan persediaan senjata itu.

PBB memperkirakan 5,1 juta rakyat Suriah termasuk 2 juta anak, hidup di daerah yang sangat tercemar oleh ranjau darat, sisa-sisa bahan peledak perang, bom rakitan, jebakan, UXO dan amunisi cluster.

Ranjau darat di sekitar Madaya dan Baqin menimbulkan bahaya bahkan bagi mereka yang tidak berusaha untuk melintasi garis blokade.

Pada akhir Maret, tiga anak berusia sekitar enam atau tujuh tahun menemukan ranjau darat saat sedang berjalan pulang dari sekolah mereka di Baqin yang secara administratif merupakan bagian dari Madaya. Mereka mengambilnya dan berpikir itu adalah mainan atau kaleng makanan. Ranjau itu meledak dan membunuh seorang anak serta dua lainnya kemudian meninggal dunia saat petugas medis dan keluarga mereka melakukan upaya yang sia-sia agar keduanya bisa dievakuasi ke rumah sakit Damaskus.

“Tidak ada spesialis pembersih ranjau di daerah,” ujar Al-Shami.

Ada upaya oleh warga terlatih untuk membersihkan ranjau, namun ladang ranjau yang berada di antara posisi militer menyulitkan mereka mendekati ladang tersebut. (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.