Berita Dunia Islam Terdepan

IPW: Hasil autopsi Siyono pukulan telak bagi profesionalisme Polri

Konpers Tim Dokter Forensik autopsi jenazah Siyono
5

JAKARTA (Arrahmah.com) – Keberanian publik dalam hal ini Muhammadiyah mengotopsi jenazah Siyono dan mengumumkan hasilnya kepada publik, menurut Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane, menjadi pukulan telak bagi profesionlisme Polri. Tim dokter forensik Muhammadiyah menyebutkan bahwa hasil autopsi ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah akademik.

Kata dia kasus Siyono menjadi pelajaran berharga bagi Polri. Sebab kasus ini sudah memicu keberanian publik untuk melakukan otopsi ulang terhadap korban kekerasan yang dilakukan polisi.

“Otopsi ulang ini menunjukkan bahwa independensi dan profesionalisme Tim Foresik Polri makin diragukan publik,” kata Neta, dalam keterangan beberapa saat lalu lansir Rmol, Kamis, (14/4/2016).

Menurut Neta selama ini sudah banyak keluhan publik terhadap prilaku Densus 88 yang cenderung menjadi eksekutor tapi tidak pernah ada evaluasi yg menyeluruh terhadap kinerja Densus dan tidak ada pengawasan yang maksimal.

“Kasus Siyono menjadi titik awal keberanian publik untuk menggugat kinerja Densus,” jelasnya.

Diketahui, hasil autopsi yang dilakukan oleh tim dokter forensik Indonesia menunjukkan Siyono tidak pernah melakukan perlawanan seperti yang diklaim oleh Mabes Polri selama ini. Terungkap pula selama ini jasad Siyono tidak pernah diautopsi.

Kematian siyono diakibatkan benda tumpul di bagian rongga dada, yaitu ada patah tulang. Pada iga bagian kiri ada lima. Luka patah sebelah kanan ada satu keluar, sedangkan tulang dada patah.

Selanjutnya, tulang patah ke arah jantung hingga mengakibatkan luka yang cukup fatal. Memang ada luka di bagian kepala, tetapi tidak menyebabkan kematian. Sebab, luka pada bagian tersebut tidak terlalu banyak mengeluarkan darah.

Dari seluruh rangkaian autopsi ini, tidak adanya perlawanan dari luka luka yang diteliti. Jadi, tidak ada perlawanan dari Siyono, tidak ada luka defensif dari Siyono

Autopsi dilakukan oleh 10 dokter. Sembilan dokter dari tim forensik dan satu dokter dari Polda Jateng. Kesepuluhnya sepakat dan tidak ada yang berbeda pendapat. Autopsi dilakukan sejak pukul 09.00 pagi hingga 12.00 siang, 3 April 2016.

(azm/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...