Halau pengungsi, Austria bangun pagar di perbatasan

Pemerintah Austria akan membangun pagar pembatas dan memperketat pemeriksaan di perbatasan dengan italia di bagian timur negara itu. (Foto: Reuters / Dominic Ebenbichler)
6

WINA (Arrahmah.com) – Pemerintah Austria akan membangun pagar pembatas dan memperketat pemeriksaan di perbatasan dengan Italia di bagian timur negara itu.

Langkah tersebut dilakukan demi mencegah pengungsi yang masuk setelah jalur Balkan ditutup.

Sebagaimana dilansir Telegraph (12/4/2016), pagar tersebut akan dibangun di Terusan Brenner yang merupakan jalur transportasi penting yang menghubungkan Eropa selatan dan utara sejak zaman kekaisaran Romawi.

Sebagaimana disampaikan kepala polisi di negara bagian Tyrol, Austria, Helmut Tomac, pagar tersebut akan dibangun sepanjang lebih dari 228 meter, memotong jalan raya yang sibuk dan rel kereta.

Pagar yang disebut “sistem manajemen perbatasan” itu diklaim akan memberikan otoritas Austria kemampuan lebih baik dalam mengendalikan jumlah kendaraan dan penumpang yang masuk melalui Brenner.

Pembangunan pagar perbatasan ini merupaka salah satu efek berantai dari gelombang pengungsi Timur Tengah dan Afrika yang membanjiri Eropa. Austria khwatir, lebih dari 300.000 imigran asal Afrika di kamp pengungsi Libya, tengah berencana menyeberangi laut Mediterania menuju Sisilia di Italia. Kemudian, dari Italia para pengungsi diprediksi akan menuju negara-negara kaya di utara Eropa, dan melalui Austria.

Diperkirakan pagar anti-pengungsi yang dibangun Austria akan rampung pada akhir Mei. Pengetatan perbatasan akan dimulai paling lambat 1 Juli, seperti disampaikan Hans Peter Doskozil, menter pertahanan Austria.

Sekitar 90.000 pengungsi dan imigran pencari suaka membanjiri Austria tahun lalu, namun pemerintah Austria ingin mengurangi jumlahnya pada tahun ini. Austria telah menetapkan kuota para pencari suaka hanya berjumlah 37.500 orang.

Keputusan Austria membangun pagar di perbatasan memicu kemarahan pemerintah Italia. “Pembangunan pembatas di Terusan Brenner adalah kesalahan besar yang melanggar peraturan Eropa,” kata Sandro Gozzi, menteri negara urusan Eropa. (fath/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.