Armenia dan Azerbaijan terancam perang, Turki dan Rusia bisa terseret

Seorang tentara dari pasukan pertahanan diri Nagorno-Karabakh membawa senjata di provinsi Martakert, yang menurut media Armenia dipengaruhi oleh bentrokan yang terjadi di wilayah Nagorno-Karabakh, 4 April 2016. (Foto: Reuters).
136

YEREVAN (Arrahmah.com) – Presiden Armenia Serzh Sarksyan mengeluarkan pernyataan yang memperingatkan bahwa upaya pemisahan diri Nagorno-Karabakh akan menyulut perang mati-matian, sebagaimana dilansir oleh Reuters, Senin (4/4/2016).

Pernyataan ini disampaikan setelah pertempuran antara Azerbaijan dan separatis Nagorno-Karabakh yang didukung Armenia memasuki hari ketiga dan telah menewaskan sejumlah tentara.

Azerbaijan dan Armenia yang keduanya merupakan bekas Uni Soviet, pernah terlibat perang memperebutkan wilayah itu pada awal 1990-an yang menewaskan ribuan orang dan ratusan ribu orang mengungsi.

Perang itu berakhir melalui gencatan senjata pada 1994, namun kekerasan masih tetap berlangsung. Gencatan senjata itu terancam gagal akibat pertempuran sengit selama tiga hari terakhir ini yang menewaskan beberapa orang dari kedua belah pihak.

Meskipun dunia internasional menyerukan kepada Azerbaijan dan separatis Nagorno-Karabakh untuk mengakhiri kekerasan, pertempuran terus berlangsung di wilayah pegunungan itu pada Senin (4/4/2016).

Kementerian pertahanan Azerbaijan mengklaim tiga tentaranya telah tewas, sedangkan pemimpin separatis Nagorno-Karabakh mengaku beberapa anggota militernya juga tewas dalam pertempuran.

“Peningkatan aksi militer akan menciptakan konsekuensi yang tidak dapat diduga yang mengarah kepada perang skala penuh,” kata Presiden Armenia Serzh Sarksyan.

Perang yang meletus kembali di wilayah Azerbaijan, yang penduduknya mayoritas keturunan Armenia yang posisinya strategis di jalur pengiriman minyak dan gas, kemungkinan menyeret dua negara besar di kawasan ini, yakni Rusia dan Turki.

Rusia mendukung Armenia, sedangkan Turki mendukung Azerbaijan.

Nagorno-Karabakh merupakan sebuah kantong daerah pegunungan dengan mayoritas penduduknya keturunan Armenian, tapi berada di dalam wilayah Azerbaijan. Kekerasan di sini sering kali meluas menjadi perang antara Azerbaijan yang mayoritas muslim melawan Armenia yang mayoritas kristen.

Ketegangan di wilayah ini bermula ketika runtuhnya Uni Soviet. Dengan bantuan Armenia, separatis Nogorno-Karabakh angkat senjata melawan kekuasaan Azerbaijan.

Hingga gencatan senjata pada tahun 1994, kelompok separatis mengusir pasukan Azerbaijan keluar dari hampir seluruh daerah Nagorno-Karabakh, dan menguasai daerah-daerah di sekelilingnya.

(ameera/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.