Melawan teror mencari keadilan untuk Suratmi

Anggota Komnas HAM Manager Nasution (kiri) bersama Pendiri Lingkar Madani Ray Rangkuti (kedua kiri), Ketua Umum PP Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak (tengah), Perwakilan KontraS Putri (kanan) dan berbagai pihak seperti LBH Jakarta, PSHK, ICW, dan Dompet Dhuafa menjadi pembicara dalam konferensi pers di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (1/4). Konferensi pers digelar terkait Suratmi mencari keadilan atas Siyono almarhum suaminya terduga teroris tewas setalah disergap Densus 88 dan dipulangkan dalam kondisi tewas. ANTARA FOTO/Fauziyyah Sitanova/Spt/16
27

JAKARTA (Arrahmah.com) – Mendapatkan teror bertubi tubi itulah yang dialami Suratmi, isteri Siyono. Siyono sang suami wafat saat dalam pemeriksaan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri. Tidak cukup sampai di situ, sekolah TK tempatnya beraktivitas sehari-hari pun diteror hingga diri dan keluarganya pun mendapatkan teror.

Terkait hal itu Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan,

“Dia ingin ditemani dan dijaga di rumahnya. Akhirnya Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah ditugasi untuk menjaga Suratmi bersama lima anaknya selama 24 jam,” kata nya dalam jumpa pers di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Jumat (1/4/2016), lansir Okezone..

Dahnil mengatakan saat mengunjungi Suratmi di Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Klaten, dia mendapat cerita bahwa keluarga Siyono merasa ada yang mengawasi dan mencurigai orang-orang yang datang ke rumahnya.

Karena itu, Muhammadiyah sebagai kuasa hukum Suratmi kemudian menjaga rumah dan makam Siyono selama 24 jam. Makam Siyono juga perlu dijaga karena Muhammadiyah memiliki rencana untuk mengautopsi jenazahnya sesuai dengan permintaan keluarga.

“Suratmi juga merasa tidak nyaman dengan aparatur desa. Saat kepala desa ingin menemui untuk menyampaikan sikap tentang rencana autopsi jenazah Siyono, dia juga tidak mau,” tuturnya.

Dahnil mengatakan pendampingan hukum yang dilakukan kepada keluarga Siyono karena Suratmi didampingi komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) datang ke Muhammadiyah dan diterima oleh Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas.

“Suratmi menyatakan keinginannya agar Muhammadiyah mendampingi upayanya dalam mencari keadilan. Sebagai organisasi yang sudah berdiri sebelum republik ini berdiri, Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk membantu mencari keadilan, apa pun latar belakang orang tersebut,” tuturnya.

Muhammadiyah kemudian bersedia mendampingi Suratmi sampai dengan mendapatkan keadilan. Saat Suratmi menyatakan harapannya agar jenazah Siyono diautopsi, Muhammadiyah juga menyatakan kesanggupannya.

(azm/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.