Turki kembali diguncang bom, kali ini menghantam kota Istanbul dan menargetkan warga asing

37

ISTANBUL (Arrahmah.com) – Sebuah ledakan yang diyakini disebabkan oleh seorang bomber telah menghantam Jalan Istiklal yang populer di alun-alun Taksim, kota Istanbul.

Pejabat Turki mengatakan sedikitnya lima orang tewas dan 36 lainnya luka-luka-tujuh dalam keadaan serius-dalam ledakan yang terjadi pada Sabtu (19/3/2016), lansir Al Jazeera.

Iklan

Perdana Menteri “Israel”, Benjamin Netanyahu mengonfirmasi bahwa sedikitnya dua warga “Israel” tewas dalam ledakan itu.

Dua warga Amerika juga tewas sementara Iran mengatakan bahwa salah satu warganya juga tewas. Tidak jelas apakah dua orang Amerika ini memiliki kewarganegaraan ganda atau ada korban jiwa tambahan. Dua puluh empat warga negara asing termasuk di antara mereka yang terluka, termasuk 11 warga “Israel”.

“Amerika Serikat mengutuk serangan teroris saat ini di Istanbul, Turki,” ujar juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS, Ned Price dalam sebuah pernyataan.

Perdana Menteri Turki, Ahmet Davutoglu mengatakan ledakan itu “tidak manusiawi” dan tidak akan menghentikan Turki yang saat ini ditargetkan oleh milisi Kurdi dalam beberapa bulan terakhir dalam pertempuran sengit yang melibatkan keduanya.

Rekaman dari lokasi kejadian memperlihatkan polisi dan layanan darurat menutup daerah tersebut dan daerah itu benar-benar bersih dari orang yang berlalu lalang.

Saksi mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ratusan orang yang panik berlarian menjauh dari lokasi ledakan beberapa saat setelah insiden terjadi.

Tidak ada kelompok yang segera mengaku bertanggung jawab.

Jalan Istiklal adalah sebuah jalan untuk pejalan kaki yang melintasi lingkungan Beyoglu dari alun-alun Taksim. Jalan populer tersebut dikelilingi oleh ratusan toko dan tengah dipenuhi oleh pejalan kaki saat ledakan terjadi.

Ledakan demi ledakan menghantam Turki saat pertempuran sengit berlangsung antara tentara Turki dengan kelompok bersenjata Kurdi. Turki juga memerangi milisi Kurdi (PKK) di wilayah tenggara di mana gencatan senjata runtuh pada Juli lalu dan mendorong kekerasan terburuk sejak 1990-an. (haninmazaya/arrahmah.com)

Iklan

Baca artikel lainnya...
Komentar
Loading...

Rekomendasi untuk Anda

Berita Arrahmah Lainnya