Rencana bunuh Muslim dan Obama dengan "sinar kematian", seorang pria di New York divonis 8 tahun penjara

43

Support Us

NEW YORK (Arrahmah.com) – Seorang pria di New York bagian utara dijatuhi hukuman lebih dari delapan tahun penjara atas perannya dalam komplotan untuk membangun senjata radiasi mematikan yang dimaksudkan untuk membunuh target Muslim dan Presiden Barack Obama, ungkap pemerintah federal, pada Rabu (16/12/2015), sebagaimana dilansir oleh Reuters.

Eric Feight, (55), dari Hudson, mengaku bersalah pada bulan Januari atas tuduhan memberikan dukungan material kepada kelompok teroris. Dia mengaku membantu Glendon Scott Crawford, yang memproklamirkan diri sebagai pemimpin Klux Klan Ku (KKK), dalam memodifikasi perangkat radiasi kelas industri, yang sebutkan oleh berbagai surat kabar sebagai “sinar kematian,” dan membuat sebuah saklar untuk mengoperasikannya dari jarak jauh.

“Hukuman yang dijatuhkan hari ini menyoroti bahaya yang kita hadapi saat kebencian dan fanatisme melahirkan terorisme dalam negeri dan ekstremisme, dan komitmen kami untuk menahan mereka yang melakukan kejahatan,” kata Richard S. Hartunian, pengacara AS untuk wilayah New York Utara.

“Tidak ada orang Amerika – dari latar belakang apapun – yang harus hidup dalam ketakutan terhadap serangan semacam ini,” katanya dalam sebuah pernyataan saat mengumumkan hukuman selama 97 bulan yang dijatuhkan di pengadilan federal di Albany.

Hukuman itu muncul di tengah gelombang kejahatan kebencian dan ancaman terhadap target Muslim pasca serangan mematikan di California.

Berita Terkait

Feight, yang menghadapi hukuman hingga 15 tahun penjara, ditangkap bersama Crawford pada tahun 2013 dan didakwa menyusun rencana ntuk melancarkan serangan dengan senjata radiasi mematikan di sebuah masjid di Albany dan sebuah sekolah Muslim di Colonie.

Mereka juga berencana untuk menyerang Gedung Putih, menurut rekaman percakapan mereka pada Mei 2012 yang putar di pengadilan, di mana Crawford menyebut alat pengendali jarak jauhnya itu “Hiroshima dalam saklar kecil.”

Jaksa menjelaskan bahwa Crawford, (51), seorang mantan teknisi di perusahaan General Electric dari Galway, merupakan dalang dari rencana itu. Dia dinyatakan bersalah pada bulan Agustus atas tuduhan menggunakan senjata pemusnah massal, dan mencoba untuk membangun sebuah perangkat penyebaran radiologi berbahaya.

Crawford telah melakukan perjalanan ke North Carolina untuk membahas pendanaan proyek dengan pemimpin Ku Klux Klan yang ternyata merupakan mata-mata dari FBI.

Crawford menghadapi ancaman hukuman penjara selama 25 tahun hingga seumur hidup dan denda $ 2 juta atas dakwaan membangun perangkat penyebaran radiologi berbahaya, serta ancaman penjara seumur hidup atas dakwaan pembuatan senjata pemusnah massal. Dia sedang menunggu untuk menjalani hukuman itu.

(ameera/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.

Berita Arrahmah Lainnya

Iran tuduh "Israel" sebagai dalang pembunuhan Fakhrizadeh

TEHERAN (Arrahmah.com) - "Israel" membunuh seorang ilmuwan nuklir Iran dengan menggunakan teknologi yang dikendalikan dari jarak jauh, seorang pejabat keamanan senior Iran menuduh pada Senin (30/11/2020). "Sayangnya, operasi itu sangat…

Kebrutalan polisi Prancis bangkitkan kembali trauma fotografer berita asal Suriah

PARIS (Arrahmah.com) - Seorang fotografer Suriah yang terluka saat tengah meliput protes pada akhir pekan di Paris mengatakan pada Senin (30/11/2020) bahwa pemandangan "darah di mana-mana" selama bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa…

Pakar ICMI: Bima Arya Tidak Berhak Paksa Habib Rizieq Tes Covid-19 Ulang

JAKARTA (Arrahmah.com) - Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Anton Tabah menanggapi desakan Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugoarto, agar Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib M. Rizieq Shihab, dilakukan tes Covid-19…

NYT: AS akan kembali bergabung dengan kesepakatan Iran

WASHINGTON (Arrahmah.com) - Presiden terpilih AS Joe Biden akan bersikeras agar Iran menyetujui tuntutan baru jika ingin AS kembali ke kesepakatan nuklir dan mencabut sanksi, New York Times mengatakan Rabu (2/12/2020). New York Times…

Bom Motor Meledak, Tujuh Warga Jarabulus Terluka

JARABULUS (Arrahmah.com) – Sebuah sepeda motor bermuatan bahan peledak meledak di pusat kota Jarabulus, kota perbatasan utara Suriah yang dibersihkan dari kelompok militan Islamic State atau yang lebih dikenal dengan ISIS, oleh Turki dalam…

PressTV: Senjata yang dipakai dalam pembunuhan Fakhrizadeh dibuat di "Israel"

DUBAI (Arrahmah.com) - Press TV Iran melaporkan pada Senin (30/11/2020) bahwa senjata yang digunakan dalam pembunuhan ilmuwan nuklir Iran terkemuka Mohsen Fakhrizadeh minggu lalu dibuat di "Israel", musuh lama Republik Islam. "Senjata…

Relawan Sosial Inggris Tauqir Sharif Akhirnya Dibebaskan HTS

IDLIB (Arrahmah.com) – Relawan sosial Inggris Tauqir “Tox” Sharif akhirnya dibebaskan oleh kelompok perlawanan Suriah HTS di Idlib, Selasa (24/11/2020). Tox telah ditahan oleh HTS sejak bulan Agustus dan mengatakan dia disiksa oleh…

Uzbek tarik warganya dari kamp pengungsian Suriah

TASHKENT (Arrahmah.com) - Uzbekistan berencana untuk memulangkan warganya, yang kebanyakan wanita dan anak-anak, dari Suriah di mana mereka tinggal di kamp-kamp yang penuh sesak dengan keluarga pejuang ISIS lainnya, sumber pemerintah…

400 kuburan Muslim Tuo ditemukan di Spanyol

TAUSTE (Arrahmah.com) – Pekerja jalan di kasawan Kota Tauste, timur laut Spanyol secara tak terduga menemukan kuburan Islam yang diperkirakan digunakan pada abad ke-8 hingga abad 11 Masehi. Lebih dari 400 kuburan ditemukan di situs…

Anggota DPR: Layanan calling visa bagi "Israel" merupakan pengkhianatan UUD '45

JAKARTA (Arrahmah.com) - Anggota Komisi I DPR RI, Sukamta, menilai segala bentuk kerjasama antara Indonesia dengan "Israel" merupakan bentuk pengkhianatan terhadap Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Sebab menurut Sukamta, menghapuskan…

Pasukan keamanan Irak mulai ditempatkan di Sinjar

BAGHDAD (Arrahmah.com) - Pasukan keamanan Irak pada Selasa mulai melaksanakan rencana penempatannya di pusat distrik Sinjar di provinsi Niniwe utara. "Rencana untuk mengerahkan pasukan keamanan di pusat Sinjar telah dilaksanakan oleh…

Pria ini berjalan kaki dari Afrika ke Masjid Al-Aqsa

YERUSALEM (Arrahmah.com) - Shahid Bin Yusef Takala, seorang dosen universitas Afrika Selatan, telah berjalan dari Cape Town ke Masjid Al-Aqsa Yerusalem dan berencana untuk melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki ke Madinah dan Mekah…

Iklan