Islamofobia kembali terjadi di AS, Pemilik toko Muslim dipukuli sampai babak belur

Setelah serangan di Paris dan San Bernardino, serangan terhadap Muslim terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir. (Foto: Raw Story)
16

LONDON (Arrahmah.com) – Seorang pemilik toko Muslim di Queens melaporkan bahwa ia diserang oleh seorang pria yang mengatakan ingin membunuh Muslim.

Pemilik Fatima Food Mart, Sarker Haque, mengatakan kepada WPIX bahwa orang itu datang ke tokonya pada Sabtu dan mulai memukulinya, lansir Raw Story (9/12/2015).

“Dia memukul saya di sini,” kenang Haque, menunjuk ke arah pendingin es krim. “Saya jatuh di sini … saya bilang, ‘Apa yang kamu lakukan? Kamu kenapa?’ [Penyerang] berkata, ‘Saya membunuh Muslim.'”

“Dia memukul saya sebanyak yang dia mampu dengan tangan kirinya,” ujar pemilik toko menambahkan. Sambil menangis, dia berkata, “Dia meraih saya di sini. Lalu dia memukul saya di sini.”

Penyerang itu telah berhasil diidentifikasi oleh polisi. Namanya Piro Kolvani. Seorang investigator meyakini bahwa Kolvani memukul Haque berkali-kali sebelum akhirnya seorang pelanggan asal latin ikut campur tangan.

“Seseorang datang,” kata Haque. “Saya berdarah lalu orang itu memegang [si penyerang].”

“Tidak peduli apa warna atau kebangsaan Anda,” jelas orang itu. “Kita berada di Amerika. Setiap orang berasal dari beragam tempat.”

Para pejabat mengatakan bahwa serangan terhadap Haque dianggap sebagai kejahatan kebencian (hate crime).

Setelah serangan di Paris dan San Bernardino, serangan terhadap Muslim terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Dua wanita Muslim di sebuah kafe di Austin menghadapi serangan rasial, sementara staf dan pelanggan yang ada di kafe itu tidak berbuat apa-apa.

Seorang pelajar putri kelas enam di New York disebut “ISIS” oleh anak laki-laki yang memukulnya dan merobek jilbabnya.

Di Philadelphia, kepala babi dilemparkan ke masjid.

Dan di California, sekelompok Muslim dilecehkan dan disebut sebagai jamaah setan ketika mereka sedang shalat.

(fath/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.