Berita Dunia Islam Terdepan

Erdogan: Tanpa Rusia dan Iran, Asad akan jatuh dalam 24 jam

4

TURKI (Arrahmah.com) – Dalam sebuah wawancara dengan saluran TV CNN pada Ahad (7/8/2015), Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan bahwa tanpa dukungan Rusia dan Iran, rezim Bashar Asad akan jatuh dalam waktu dua puluh empat jam.

“Mereka memberi dia (Assad) dukungan senjata, dukungan keuangan, sehingga pemerintahan ini bisa berlanjut, dan mereka mencoba untuk menyingkirkan oposisi di sana,” tambah Presiden Erdogan, sebagaimana dilansir National Coalition of Syrian.

“Bukankah Daulah (ISIS) bekerjasama dengan rezim sekarang? Pendukung terbesar ISIS sekarang adalah rezim [Asad], dan mereka yang melakukan upaya untuk menjaga rezim ini berdiri adalah orang-orang yang harus bertanggungjawab.”

“Mengapa mereka merasa diri mereka berhutang budi kepada Asad? Kami menghadapi Suriah yang dihancurkan, dibakar, dan rakyatnya sendiri dibantai. Mereka masih mencoba untuk mendukung orang seperti Presiden Suriah yang mendukung organisasi teroris separatis.”

Erdogan melanjutkan: “Saya berbicara dengan mereka tentang hal ini. Saya mengatakan kepada mereka ini tidak bisa dilanjutkan. Saya mengatakan kepada mereka untuk menarik dukungan kalian, hentikan campur tangan kalian dan dia akan jatuh dalam 24 jam.”

“Saya juga telah membahas masalah ini panjang lebar dengan [Presiden Rusia] Putin di Olimpiade di Baku. Saya melihat Putin dengan cara berbeda, dan kami menugaskan menteri luar negeri kami untuk bekerja sama. Tapi kemudian pernyataan-pernyataan dari Rusia selanjutnya benar-benar mengejutkan saya. Saya mengalami kesulitan memahami hal ini.”

Sekretaris komite politik Anas Al-Abdah sebelumnya mengatakan bahwa rezim Iran tidak memenuhi syarat apapun untuk bisa mengusulkan inisiatif bagi solusi politik di Suriah mengingat fakta bahwa Suriah memandang Iran sebagai negara yang menduduki dan mendukung rezim pembunuh Asad dalam hal militer, finansial dan politik.

“Satu-satunya jalan inisiatif Iran yang bisa diterima rakyat Suriah adalah ketika rezim Iran mencabut milisi sektarian yang mendatangkan malapetaka dan kematian di Suriah,” ujar Abdah.

(banan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...