Berita Dunia Islam Terdepan

Terungkap, surat Syaikh Aiman Az-Zhawahiri kepada Abu Bakar Baghdadi terkait deklarasi ISIS (bag. 3)

3

(Arrahmah.com) – Sebuah dokumen penting terkait detik-detik lepasnya Abu Bakar Al-Baghdadi dan kelompoknya dari Tandzhim Jihad Internasional Al-Qaeda ditemukan di kediaman Abu Ali Al-Anbari, orang nomor dua dalam struktur kelompok “Daulah Islamiyah”, atau Islamic State (IS) yang sebelumnya dikenal sebagai ISIS.

Dokumen tersebut berisi surat Syaikh Aiman Az-Zhawahiri yang ditujukan kepada Abu Bakar Al-Baghdadi terkait deklarasi ISIS. Dalam surat ini, Syaikh Aiman menjelaskan sejumlah kesalahan dan kesalahpahaman Abu Bakar Al-Baghdadi mengenai pembentukan “Daulah”-nya di mana semua orang yang berkedudukan, berilmu, dan berjihad di Suriah tidak dianggap kedudukannya.

Dalam lanjutan surat ini, Syaikh Aiman menjelaskan bahwa serangan kepada kaum Syiah yang tidak terlibat dalam peperangan sebaiknya dihindari, dan memfokuskan serangan kepada kaum Syiah yang terlibat dalam peperangan, serta fokus dalam memerangi musuh utama yang mendalangi berbagai peperangan terhadap kaum Muslimin di seluruh dunia, yakni Amerika Serikat dan sekutunya.

Syaikh Aiman menyampaikan risalahnya dengan dengan penuh kesantunan dan berdasarkan dalil-dalil syar’i yang kuat, serta kebijaksanaan seorang pemimpin umat. Berikut terjemahan seri ketiga dokumen penting tersebut, yang dipublikasikan Muqawamah Media pada Rabu (18/11/2015).

***

10. Kemudian kita akan membahas tentang Syiah.

a. Pertama-tama saya ingin menegaskan bahwa yang saya perintahkan adalah menahan diri untuk tidak melakukan peledakan di Husainiyah dan masjid Syiah, tidak melakukan peledakan di pasar, tidak membunuh perempuan dan anak-anak, tetapi tetap memerangi kelompok Syiah yang ada di jajaran militer, polisi, pasukan keamanan, dan milisi bersenjata Syiah. Dan ini yang tertera dalam dokumen (Taujihat ‘Ammah lil ‘Amal Jihadi – arahan umum operasi jihad).

b. Karena kami memandang bahwa berbagai perbuatan ini:

(1) Mengenai darah yang ma’shum/terjaga karena darah perempuan dan anak-anak dan orang awam Syiah yang tidak ikut perang adalah ma’shum dengan anggapan mereka mendapat udzur bil jahl/udzur karena bodoh. Ini merupakan perkataan ahlussunnah berkenaan dengan orang awam Syiah dan orang yang bodoh tidak mengerti.

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:

“Dan di antara seluruh kelompok-kelompok sesat ini, tidak ada yang lebih mendustakan kebenaran dan membenarkan kedustaan dari kelompok rafidhah. Karena kepala-kepala dan imam-imam madzhab mereka dan orang-orang yang membuat dan mendirikannya adalah orang-orang munafik lagi zindiq sebagaimana lebih dari satu ulama yang menyebutkannya.

Hal ini tampak jelas bagi orang yang merenungkannya, berbeda dengan perkataan Khawarij yang bersumber karena bodoh tentang ta’wil Al-Qur’an dan berlaku ghuluw (berlebihan) dalam menganggap besar dosa.

Demikian juga perkataan Wa’idiyah dan Qadariyah yang bersumber dari menganggap besar dosa dan juga perkataan Murjiah yang maksud pokok mereka adalah tidak Mengkafirkan orang yang mendustakan kebenaran para Rasul.

Oleh karena itu, para pemimpin madzhab yang menciptakan madzhab (yang menyimpang), tidak seorang pun mengatakan bahwa mereka zindiq munafiq. Lain halnya dengan Rafidhah yang pemimpin-pemimpin mereka memang seperti itu (adalah orang-orang zindiq dan munafiq). Meskipun demikian kebanyakan (kalangan umum dan awam) dari mereka bukanlah orang munafik dan bukan juga kafir. Bahkan sebagian dari mereka memiliki Iman dan amal shaleh. di antara mereka juga ada yang salah yang dosanya diampuni. Di antara mereka juga ada yang melakukan dosa yang diharapkan mendapat ampunan Allah Ta’ala.” (Minhajus Sunnah an Nabawiyah juz 6 hal. 302-303).

Beliau juga berkata di dalam Minhajus Sunnah An-Nabawiyah setelah berbicara tentang keburukan-keburukan Rafidhah dalam sejarah, posisi mereka yang selalu bersama dengan musuh-musuh Allah; seperti kaum Yahudi, Nasrani, Tartar dan yang lainnya, dan juga memberikan pertolongan kepada mereka dalam memerangi kaum Muslimin, beliau berkata, “Bersamaan dengan ini, Ahlussunnah berlaku adil dan fair dan tidak menzhalimi mereka…”

“Dan telah diketahui bahwa di wilayah Sahil Syam terdapat gunung besar. Di dalamnya ada ribuan Rafidhah yang menumpahkan darah manusia, membunuh dalam jumlah besar dan mengambil harta mereka. Ketika kaum Muslimin mengalami kekalahan pada tahun Ghazan, mereka mengambil kuda, senjata dan tawanan. Kemudian mereka menjual para tawanan tersebut kepada kafir Nasrani di Qibris. Mereka mengambil/menawan pasukan yang mereka lewati. Mereka lebih berbaya bagi kaum muslimin dari seluruh musuh. Sebagian komandan mereka membawa bendera Nasrani. Mereka (orang-orang Nasrani) berkata padanya, “Mana yang lebih baik, orang Islam atau Nasrani?” Ia menjawab, “Nasrani.” Mereka berkata padanya, “Bersama siapa kamu dikumpulkan nanti pada hari kiamat?” Ia menjawab, “Bersama Nasrani.” Orang-orang Rafidhah menyerahkan beberapa negeri kaum Muslimin kepada Nasrani. Meskipun demikian, pada saat sejumlah pemimpin meminta pendapat tentang memerangi mereka, saya menulis jawaban panjang mengenai memerangi mereka. Lalu kami menuju arah mereka. Satu kelompok mereka datang padaku dan terjadi diskusi dan perundingan antara saya dengan mereka, yang panjang jika diceritakan. Ketika kaum Muslimin menaklukkan wilayah mereka dan kaum muslimin berhasil menguasai mereka, saya melarang untuk membunuh dan menawan mereka. Dan kami menempatkan mereka berpencar-pencar di negeri kaum muslimin agar mereka tidak berkumpul.” (Minhajus Sunnah Nabawiyah juz 5 hal. 104-105).

Beliau juga berkata: “Bab adapun perkataannya (orang-orang Syiah-edt): ‘Dan para imam itu ma’shum sebagaimana para nabi.’ dalam hal tersebut, maka perkataan ini khusus pada Rafidhah Imamiyah yang tidak satu pun ikut mereka dalam hal ini; tidak Syiah Zaidiyah dan tidak juga seluruh kelompok kaum muslimin kecuali kelompok yang lebih buruk dari mereka seperti Isma’iliyah, yang mengatakan ma’shumnya bani Ubaid yang menisbatkan diri kepada Muhammad bin Ismail bin Ja’far.

Isma’iliyah ini mengatakan bahwa keimaman setelah Ja’far itu pada Muhammad bin Isma’il bukan pada Musa bin Ja’far. Dan mereka adalah kaum Atheis dan Munafik. Dan Imamiyah Itsna ‘Asy’ariyah jauh lebih baik dari mereka karena imamiyah ini meskipun mereka bodoh dan sesat namun di dalamnya terdapat kaum Muslimin baik lahir maupun batin dan bukan zindiq munafiq, akan tetapi mereka bodoh dan sesat dan mengikuti hawa nafsu mereka. Adapun mereka, imam-imam besar mereka yang tahu hakekat dakwah bathiniyah mereka adalah zindiq lagi munafiq. Adapun orang awamnya yang tidak tahu perkara mereka yang tersembunyi adalah kaum muslimin”. (Minhajus Sunnah Nabawiyah juz 2 hlm. 279-280).

(2) Kemudian membunuh kaum awam Syiah, meledakkan Mawakib, Husainiyah dan pasar mereka, tindakan ini tidak memiliki faedah militer apapun. bahkan terdapat sejumlah madharat, yaitu:

a. Menambah kedengkian Syiah.

b. Imam-imam mereka semakin memprovokasi mereka.

c. Menjadikan orang yang ragu atau tidak ikut berperang atau tidak komitmen dengan ideologi mereka, menjadi semakin bersatu dengan para pejuang mereka. Karena saat itu dia tidak lagi berperang demi ideologi tapi demi sanak famili.

d. Hal ini akan menyebabkan masjid dan komplek ahlussunnah dibom.

e. Menggeser bagian penting dari usaha militer mujahidin yang jauh dari target yang dikehendaki yaitu pemerintahan, tentaranya, pasukan keamanannya, polisinya dan intelijennya; yang kebanyakan mereka adalah pejuang Syiah. dan juga menggeser sebagian usaha mereka dari pejuang Syiah di milisi-milisi mereka yang bermacam-macam.

(3) Kemudian pertempuran melawan Syiah ini tidak dimengerti oleh kaum Muslimin awam. dan ini adalah makna yang saya jelaskan dalam pesanku kepada syaikh Abu Mush’ab rahimahullah; yang ditemukan oleh Amerika di markas tanzhim di Iraq yang kemudian mereka sebar luaskan.

Saya juga sudah menjelaskan dengan terang bahwa tugas kita adalah mengkader umat dan mendorongnya untuk berjihad melawan musuh. Tanpa adanya dorongan terhadap umat ini, kita akan terus menjadi kelompok yang terpinggirkan/makzul dan umat tidak akan mengerti tentang peledakan Husainiyah-Husainiyah dan pasar-pasar.

(4) Syaikh Usamah rahimahullah berhasil dalam mengajak umat untuk berperang melawan musuhnya yang paling besar dan juga memotivasi umat untuk melakukan itu. Akan tetapi umat pada hari ini melihat bahwa jihad di Iraq telah tenggelam ke dalam kubangan perseteruan melawan Syiah; meledakkan Husainiyah, pasar, komplek mereka. dan Syiah membalas dengan hal yang sama. dan ini adalah makna serius yang harus kalian perhatikan, kita sedang mengomando umat.

Syaikh Abu Mush’ab rahimahullah ketika memulai jihad di Iraq. Dia memulainya karena Amerika menyerang Irak, bukan karena Syiah berkuasa di Iraq. Kalaulah tidak demikian maka Syiah sudah ada di Irak sejak berabad-abad. Lalu mengapa saat itu dia tidak mempedulikan mereka dan sibuk berjihad melawan komunis di Afghanistan, kemudian jihad melawan Yahudi di Palestina?!

Dan makna ini di dalam mendorong umat dan bersikap santun padanya ditekankan oleh Syaikh Athiyyah rahimahullah di dalam pesannya yang dia kirim kepada Syaikh Abu Mush’ab rahimahullah pada tanggal 10 Dzilqa’dah 1426 yang disingkap Amerika dan mereka sebar. Di dalamnya terdapat petikan:

“… Ya Alhamdulillah kita memiliki kekuatan yang tidak dimiliki musuh. Kita memiliki kekuatan iman kepada Allah Ta’ala, aqidah, tauhid dan berpegang teguh dengan tali Allah Subhanahu wa Ta’ala dan seterusnya. Dan juga permasalahan yang adil, persaudaraan, saling terikat, dan masih banyak sebab-sebab kekuatan yang lain. Dan diantara sebab lain kekuatan kita di waktu lemah dan diam adalah bahwa kita bagian dari umat yang besar ini, umat Muhammad ﷺ. Umat bersama kita; mencintai kita, melindungi kita, mendukung kita, sayang kepada kita, menguatkan kita, kita mendapatkan pertolongan darinya. umat ini adalah laut tempat kita berenang. Dan berbagai hal lain yang jelas tampak tidak tersembunyi. Kalau kita menganggap remeh sebab-sebab penting ini, maka kita adalah orang-orang yang lalai, meremehkan dan akan menghadapi kegagalan. Alhamdulillah kebaikan itu banyak sekali wahai saudaraku. Kondisi kita yang sedang berjihad. Engkau dan saudara-saudaramu wahai saudaraku yang mulia. Di atas kebaikan In syaa Allah. Tapi janganlah menyendiri dan bergerak melebihi yang semestinya. Dan berhati-hatilah jangan sampai tertipu dengan pujian manusia atau tekanan mereka terhadapmu, sehingga engkau terus bekerja dan bekerja. Namun hendaknya engkau menyempurnakan kekuranganmu dengan bermusyawarah dan kembali kepada saudara-saudaramu…”

Dan pesan ini bukan lagi sebuah rahasia karena Amerika telah menyebarkannya. dan saya pandang kalian perlu membacanya, merenungkan maknanya. Saya menyertakannya untuk kalian dan saudara-saudara kalian.

Faidah/manfaat apa yang didapat dalam perkara yang dilarang syariat dan tidak mendatangkan faidah/manfaat duniawi, bahkan mendatangkan madharat/marabahaya?

c. Dan pendapat ini wahai saudaraku yang mulia, tidak saya kirimkan pada kalian hari ini, tapi ini adalah perkara yang sudah lama:

(a) Saya telah mengirimkannya pada syaikh Abu Mush’ab rahimahullah di dalam suratku yang panjang yang sudah disingkap dan disebarkan Amerika.

Adapun yang disinggung oleh Syaikh Athiyah rahimahullah di dalam suratnya yang saya sebutkan tadi dan saya meminta kalian mempelajarinya. Di dalam suratnya Syaikh Athiyah rahimahullah berkata:

“… Maka berusahalah wahai saudaraku, semoga Allah Ta’ala memberkahi. Dan kirimlah anggota-anggotamu agar mereka membawakan untukmu arahan-arahan, nasehat, ide gagasan, saran, pendapat, kritikan, pandangan yang matang dari saudara-saudaramu. Aku sekarang sedang mengunjungi mereka dan aku menulis surat ini, sedangkan aku berada di antara mereka. Mereka memiliki sejumlah catatan terhadap kondisi kalian, semoga Allah Ta’ala membimbing kalian -dengan penuh kepercayaan, kecintaan, rasa hormat dan menghargai- dan kalaulah ada cara, mereka ingin menyapamu, memberi nasehat, bimbingan dan arahan. Akan tetapi mereka juga disibukkan dengan musuh yang kejam di sini. Mereka juga adalah orang-orang yang lemah, kita memohon pada Allah Ta’ala agar memberikan kekuatan dan menyempurnakan kekurangan mereka. Mereka sendiri menghadapi banyak permasalahan, tapi mereka adalah orang yang memiliki akal, pengalaman, ilmu yang bermanfaat dan memberi kebaikan.

Aku melihat pesan mereka terkumpul dalam sejumlah catatan dan arahan. engkau akan mendapati pokok intinya di dalam pesan Doktor (Aiman) yang disebarkan Amerika, dan pesan tersebut adalah benar adanya. pesan tersebut mewakili gagasan-gagasan ilmiyah dan etika para syaikh dan komandan di sini. Aku berharap engkau merenungkan dan mencermati setiap gagasan dengan baik. Kemudian lakukanlah gagasan yang bisa engkau kerjakan dan usahakanlah dirimu untuk itu. tinggalkanlah cari-cari alasan dan menunjukkan perbedaan. Pesan ini mewakili sebagian besar dan inti berbagai hal yang ingin disampaikan ikhwan-ikhwan kepadamu …”

(b) Saya juga menyebutkannya lebih dari sekali di dalam pesan saya kepada kalian. Saya menyebutkannya di dalam dokumen arahan umum operasi jihad yang telah saya kirimkan pada kalian sebelum disebar untuk meminta pendapat.

d. Adapun perkataan kalian wahai saudaraku yang mulia: “Kami heran dengan munculnya perkara ini ke permukaan di waktu yang seperti ini. Telah lalu bahwa perkara ini telah selesai diantara syaikh Usamah taqabbalahullah dan Syaikh Abu Mushab taqabbalahullah di dalam korespondensi sebelum adanya baiat kepada tanzhim. Bahkan itu termasuk syarat baiatnya kepada kalian”.

Maafkan saya jika saya mengatakan pada kalian bahwa perkataan ini tidaklah benar karena beberapa hal berikut:

(1) Bahwa apa yang disebutkan di dalam korespondensi tersebut adalah memerangi rezim-rezim dan pemerintahan-pemerintahan murtad. Syaikh Abu Mushab berkata bahwa dia menyetujui untuk berbaiat ketika mengetahui bahwa syaikh Usamah tidak melarang hal tersebut. Dan betapa beda antara rezim-rezim dan pemerintahan-pemerintahan murtad, bahkan kelompok-kelompok murtad, dengan meledakkan husainiyah-husainiyah, masjid-masjid, maukib-maukib, pasar-pasar dan komplek-komplek Syiah.

Dan saya wahai saudaraku yang mulia, saya mengetahui korespondensi ini. dan saya termasuk orang yang mendorong Syaikh Usamah untuk menyetujui baiat ini dengan karunia Allah Ta’ala.

Jika yang ingin Anda gambarkan adalah bahwa meledakkan Husainiyah, Masjid, pasar, komplek dan mawakib Syiah merupakan syarat di dalam baiat tersebut, maka ini kesalahan fatal wahai saudaraku yang mulia.

(2) Bahwa kami ketika melakukan korespondensi dengan Syaikh Abu Mushab rahimahullah di dalam pesan saya dan pesan Syaikh Athiyyah rahimahullah serta Syaikh Abu Mush’ab rahimahullah menjawabnya dalam pesan suara, Syaikh Abu Mush’ab tidak menyebutkan bahwa meledakkan husainiyah Syiah merupakan syarat baiat. Tapi dia menyebutkan bahwa sebagian husainiyah-husainiyah ini bukanlah husainiyah, namun merupakan pusat penjara dan penyiksaan Ahlussunnah. Oleh karena itu dia meledakkan salah satunya dan tempat-tempat justifikasi/cover lainnya. akan tetapi dari husainiyah-husainiyah ini tidak ada yang menjadi syarat yang Anda tunjukkan/sebutkan.

e. Adapun perkataan kalian: “Dan kami semakin heran setelah Anda mengetahui jawaban kami atas pertanyaan-pertanyaan yang Anda kirimkan pada kami, Anda keluar dengan sebuah pesan yang menegaskan bahwa kami menghadang perluasan shafawi di Irak, kami memiliki kemuliaan di tengkuk setiap muslim dan Anda memberkahi/senang dengan operasi kami di Iraq”….

Adakah kontradiksi dalam hal ini? Saya mengatakan ini bersamaan dengan pesan yang terus saya ulangi kepada kalian untuk menghentikan pemboman di masjid-masjid dan pasar-pasar. Dan saya mengirim pada kalian dokumen arahan umum operasi jihad. Hal itu saya lakukan karena saya memuji kalian secara terang-terangan, atas kebaikan yang kalian perbuat, dan saya mengkritik kalian secara rahasia atas apa yang saya anggap kesalahan, agar kalian memperjelas perkara kalian dan kalian perbaiki keadaan kalian. Kalian tidak mengatakan di dalam jawaban kalian, “Bahwa kami meledakkan husainiyah dan pasar Syiah.” Saya mengingatkan kepada syaikh Abu Bakar Al-Husaini Al-Baghdadi hafizhahullah bahwa saya mengatakan padanya di dalam pesan saya yang di dalamnya saya sebutkan pertanyaan-pertanyaan saya, yang juga terdapat secara mendetail di dalam komentar syaikh Abu Yahya Al-Liby rahimahullah terhadap surat koresponden kalian sebagaimana berikut:

“Pandangan strategis umum”

Sebelum mulai dengan nasehat, saya memandang untuk melontarkan pendapat atau persepsi ringkas kepada kalian mengenai target amal jihad di Iraq. saya telah mengirimkan pesan yang serupa kepada saudara saya Syaikh Abu Mush’ab rahimahullah. Inti dari pendapat atau saran ini adalah bahwa amal jihad di Irak harus dilakukan berangsur-angsur untuk mewujudkan beberapa target berikut:

a- Mengusir Amerika dari Irak.

b- Menekan atau meminimalisir atau menyamai pengaruh Syiah Iran di Iraq secara umum dan di daerah-daerah ahlussunnah secara khusus yang mana targetnya adalah harus membersihkan daerah-daerah tersebut dari pengaruh Syiah secara total.
dan saya berpendapat agar kalian menghentikan amaliyah apapun terhadap kaum awam Syiah dan memfokuskan pada pasukan keamanan dan penanggung jawab pemerintahan dan tentara. Menyerang kaum awam Syiah akan menghalangi mereka menerima dakwah kalian. Media akan memanfaatkannya untuk melawan kalian. ini terjadi bila kalian menyerang mereka, kaum awam Syiah.

d- Saya berpendapat bahwa pesan terhadap Syiah atau orang-orang Iran harus bersih secara total dari pembicaraan kesukuan. Saya berpendapat agar menghindari embel-embel kata Persia atau Iran dan menggantinya dengan Shafawi atau Rafidhi. Sehingga tidak mengatakan agresi atau pendudukan Persia atau Iran, tapi agresi atau pendudukan Shafawi atau Rafidhi.

Demikian juga saya berpendapat untuk tidak menggunakan embel-embel kata Majusi secara total”.

Kemudian saya mengirimkan surat padanya tanggal 5 Sya’ban 1433 setelah syahidnya syaikh Abu Yahya rahimahullah sebagaimana berikut:

“b- Mengenai permasalahan membunuh kaum awam Syiah dan meledakkan pasar dan pemukiman mereka:

Saya harap kalian tidak ikut-ikut dalam hal tersebut. Semoga kalian tahu bahwa saya telah membahasnya di dalam pesan saya kepada syaikh Abu Mush’ab rahimahullah dan pendapat yang kami pegang bahwa ini mendatangkan madharat yang lebih besar daripada manfaat. Kami juga berpendapat agar kalian memfokuskan diri terhadap tentara, pasukan keamanan dan pilar-pilar pemerintahan. saya harap kalian memberikan pendapat kalian pada kami.

c- Menjadikan Nasrani sebagai target:

Saya berpendapat agar kalian meninggalkan perkara ini secara menyeluruh karena peperangan kalian sekarang -di Iraq- sebagaimana yang saya sebutkan pada pesan sebelumnya adalah melawan pemerintahan yang menjadi antek Iran dan Amerika, dan juga melawan pengaruh shafawi Iran yang bertebar di Irak”.

Inilah yang Anda lihat wahai saudaraku bahwa perkataanmu: “Kami heran dengan munculnya perkara ini ke permukaan pada saat yang seperti ini” adalah perkataan yang tidak sesuai dengan kenyataan.

d- Adapun perkataanmu semoga Allah menjagamu: “Kami berpendapat bahwa membahas tema ini bersamaan dengan peristiwa Syam merupakan sarana untuk menekan kami agar mau menerima keputusan yang sewenang-wenang yang Anda putuskan terhadap kami”.

Saya harap Anda meninggalkan pola pikir yang seperti ini. setiap kali ada orang yang mengkritisi kalian, maka kalian akan mencela niatnya. Pola pikir seperti ini akan menghalangi kalian untuk mengambil manfaat dari suatu kritikan dan menjadikan kalian bertindak melangkahi kewenangan Imarah Islamiyah Afghanistan. Dan ini adalah permasalahan yang jelas yang ada pada kalian. Maafkan saya atas keterusterangan ini.

e- Dalam jawaban kalian atas pertanyaan-pertanyaan saya, Anda mengatakan: ‘Sesungguhnya tidak ada solusi dengan Syiah kecuali pembunuhan/perang.’ Apakah ini artinya bahwa Anda ingin membunuh semua orang Syiah di Irak? Kemudian selanjutnya, Anda akan membunuh Syiah di Teluk, Jazirah, kemudian di Iran, Syam dan seluruh dunia?

f- Kemudian Anda mengatakan bahwa ini adalah “Perkara yang jelas, telah terjadi ijma’ orang-orang yang menyaksikan kondisi kami dengan Rafidhah di Iraq semenjak masa Syaikh Zarqawi hingga hari ini.”
Saya bertanya-tanya wahai saudaraku yang mulia dan tercinta: Bukankah kalian bagian dari jamaah jihad yang kalian berafiliasi dengannya? Tidakkah kalian hendak bermusyawarah meminta pendapat para komandan dan kemudian mematuhi ijtihad mereka? Ataukah kalian berada di atas dan melebihi semua orang? Mari bacalah bersamaku wahai saudaraku yang mulia nasehat-nasehat syaikh Athiyyah kepada syaikh Abu Mushab rahimahumallah:

“… Engkau adalah pemimpin politik, kepala dan komandan dalam ruang lingkupmu secara khusus. Engkau memiliki pekerjaan dan tugas-tugas yang besar lain, yang paling penting adalah engkau menjadi komandan yang sukses untuk mujahidin. Kemudian sebisa mungkin gerakkan dan mobilisasi umat dalam semangat dan keilmuan. Berbagai permasalahan yang belum engkau analisa dan yang engkau perselisihkan dengan saudara-saudaramu maka pelan-pelan dan berhati-hatilah di dalamnya. Jangan tergesa-gesa dengan satu pendapat, tapi bermusyawarahlah dengan komandan dan saudara-saudaramu yang senior di dalam keilmuan, kemuliaan dan pengalaman. Engkau cukup mengucapkan sedikit perkataan di saat engkau menjadi orang yang dicintai. Kata-kata yang baik, mudah, sederhana dan tidak kompleks memberikan efek melebihi apa yang ada dalam buku-buku, ribuan kaset orang selainmu. Tapi hal yang terpenting adalah engkau dicintai oleh umat dan engkau ada di hati umat seluruhnya. Pada saat itu kata-katamu akan berjalan selaras dengan keteguhanmu, pekerjaanmu yang besar dan usahamu dalam menghancurkan musuh Allah Ta’ala…”

Bersambung, in syaa Allah.

(aliakram/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...