Berita Dunia Islam Terdepan

Konflik SARA di Papua dinilai pemulus jalan memisahkan dari NKRI

Suasana di Distrik Karubaka, Tolikara, Papua, usai peristiwa intoleran dan teror terhadap kaum Muslimin dengan membakar masjid Baitul Muttaqin dan kios warga serta membubarkan shalat Idul Fitri yang sedang berlangsung beberapa waktu lalu, Jumat (17/7/2015). (VIVA.co.id/Moh Nadlir)
7

JAKARTA (Arrahmah.com) – Konflik bernuansa SARA berlangsung bertubi-tubi di Papua. Usai tragedi berdarah Tolikara saat Idul Fitiri, terjadi penolakan pembangunan Masjid di Manokwari pekan lalu. Hal itu dinilai sebagai pemulus jalan untuk memisahkan Papua dari NKRI.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Kajian KH Maman Abdurrahman mengungkapkan kekhawatiran sekaligus kecurigaannya melihat konflik yang terjadi di tanah Papua, termasuk insiden pelarangan pembangunan masjid di Manokwari. Dia curiga konflik-konflik serupa memang sengaja ditiupkan dan dikobarkan segelintir orang, demi memuluskan langkah memisahkan Papua dari Indonesia.

“Saya curiga ini sengaja dibuat, seolah terjadi konflik dan bisa lepas dari Indonesia,” kata ketua umum PP Persatuan Islam (Persis) tersebut kepada Republika, Senin (2/11/2015).

Dia mengatakan, kecurigaan itu berasal dari sejumlah konflik yang sepertinya dilakukan segelintir orang atau pihak tertentu dengan selalu mengatasnamakan agama sebagai dasar konflik. Maka itu, ia meminta negara agar dapat peka melihat situasi tersebut karena dikhawatirkan memang ada pihak-pihak yang sengaja memanaskan situasi demi memuluskan niat untuk melepaskan Papua dari NKRI.

Terkait insiden pelarangan pembangunan masjid, Kiai Maman berharap semua pihak yang ada di Manokwari dapat menghormati kesepakatan tokoh-tokoh agama di Indonesia soal pembangunan rumah ibadah.Ia meminta masyarakat Manokwari tidak gegabah dalam mengambil sikap dan dapat menjaga persatuan dan kesatuan demi menjaga kerukunan di sana.

Kiai Maman menilai pihak berwajib harus peka mencium rencana-rencana yang mengancam kerukunan di Papua dan melakukan tindakan pencegahan agar tidak ada konflik yang seolah mengatasnamakan agama. Menurut Kiai Maman, insiden di Tolikara harus bisa menjadi pelajaran penting agar insiden serupa yang mengusik kerukunan hidup beragama tidak lagi terjadi, khususnya di Manokwari.

MUI juga meminta aparat keamanan, khususnya Kepolisian RI untuk senantiasa peka dan cermat dalam menganalisa kondisi keamanan di Manokwari, Papua Barat terkait penolakan pembangunan masjid di Kompleks Anday, Distrik Manokwari Selatan.

“Kami meminta kepada penegak hukum khususnya Kepolisian Negara RI untuk senantiasa peka dan cermat menganalisis keamanan sehingga tercipta kerukunan antarumat beragama,” kata Ketua Dewan Pimpinan MUI Yusnar Yusuf dalam jumpa pers di Kantor MUI Jakarta, Ahad (1/11), lansir Kompas. (azm/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...