Berita Dunia Islam Terdepan

Serangan tentara boneka Afghanistan mengklaim telah membunuh 18 Mujahidin IIA di Helmand

Provinsi Helmand telah dikuasai mujahidin IIA dalam beberapa tahun terakhir. (Foto: AFP)
5

HELMAND (Arrahmah.com) – Militer boneka Afghanistan pada Ahad (18/10/2015) mengklaim telah menewaskan sampai 18 Mujahidin Imarah Islam Afghanistan (IIA) selama serangan udara di negara provinsi Helmand, daerah penting untuk etnis Pashtun Taliban, lansir Albawaba.

Kantor berita Xinhua mengutip Brigjen Muhammad Rasoul Zazai, juru bicara militer provinsi, yang mengatakan pasukan Afghanistan dengan pesawat tempurnya telah melancarkan serangan udara dan memukul tempat persembunyian Mujahidin IIA di Loimanda wilayah Nad Ali.

Serangan tersebut, yang juga dilaporkan telah menghancurkan sebuah kendaraan Mujahidin IIA, dilaporkan telah menewaskan hingga 22 gerilyawan bersenjata dalam operasi “kontra-terorisme”, termasuk di provinsi Helmand.

Provinsi Helmand, di selatan Afghanistan, terdiri dari mayoritas etnis Pashtun yang sepanjang tahun telah berada di kubu Mujahidin IIA. Seperti pada bulan Agustus baru-baru ini, pasukan boneka Afghanistan, yang didukung oleh serangan udara AS, merebut kembali wilayah Musa Qala di provinsi itu dari tangan Mujahidin IIA.

Serangan udara pada Ahad datang setelah pasukan Mujahidin IIA melakukan serangkaian serangan di utara Helmand, termasuk di provinsi Kunduz, Ghaznim, dan Faryab.

Pasukan boneka Afghanistan mengklaim mereka mengalami kemajuan di Ghazni dan Faryab, tapi Mujahidin IIA mampu menguasai kota Kunduz pada bulan September, kemenangan paling signifikan sejak jatuh dari kekuasaan pada tahun 2001.

Pasukan Afghanistan merebut kembali Kunduz pekan lalu, tapi serangan udara AS menewaskan 22 warga sipil ketika menghantam rumah sakit Doctors Withour Borders di kota pada 3 Oktober lalu.

Serangan yang diklaim merupakan permintaan dari personel militer boneka Afghanistan, telah mendapat kecaman luas, dan mendorong Amerika Serikat untuk mengeluarkan permintaan maaf, mengumumkan akan memberikan kompensasi terhadap korban, dan memerintahkan pasukan koalisi di negara itu untuk menjalani aturan pelatihan perjanjian.

(fath/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...