Berita Dunia Islam Terdepan

Mujahidin IIA masih kuasai Kunduz hingga saat ini

Bahkan meskipun 7.000 tentara Afghan telah dikerahkan, mereka belum bisa merebut kota Kunduz dari tangan Mujahidin IIA. (Foto: Reuters)
1

KUNDUZ (Arrahmah.com) – Mujahidin Imarah Islam Afghanistan dilaporkan telah kembali mengusai sebagian besar kota Kunduz setelah berhari-hari pertempuran sengit melawan pasukan boneka Afghanistan yang didukung oleh serangan udara pengecut oleh pasukan teroris AS.

Sebelumnya pada Ahad (4/10/2015), pasukan boneka Afghan yang telah mencoba mengambil kendali kota tersebut, mengatakan bahwa mereka telah meraih kemajuan, namun tampaknya hanya berumur pendek.

Laporan oleh Al Jazeera mengatakan bahwa sekitar pukul 12.00 waktu setempat, pejuang IIA melancarkan serangan balik, dan memukul mundur pasukan boneka Afghan di mana sebelumnya mereka meraih kemajuan.

Warga di Kunduz mengatakan kepada Al Jazeera bahwa lebih dari 100 orang telah tewas namun jumlah yang pasti sulit ditentukan.

“Ini adalah situasi yang sangat rapuh. Para pejabat keamanan Afghanistan mengatakan kepada kami bahwa mereka mengalami kekurangan kepemimpinan dan koordinasi,” ujar reporter Al Jazeera yang melaporkan dari Kunduz selatan.

Bahkan dengan penyebaran 7.000 tentara, pasukan boneka Afghan masih belum bisa merebut kembali kota strategis tersebut.

Sementara itu dalam laporan lain, sebuah kelompok Dokter Tanpa Perbatasan mengumumkan bahwa mereka telah menarik diri dari kota Kunduz setelah serangan udara brutal oleh AS yang menewaskan 13 staf mereka dan 10 pasien.

Kate Stegeman, manajer komunikasi untuk kelompok yang dikenal dengan akronim MSF dalam bahasa Perancis, mengatakan semua pasien yang terluka kritis telah dirujuk ke fasilitas kesehatan lainnya dan tidak ada staf MSF yang bekerja di rumah sakit (di Kunduz).

“Beberapa staf medis telah pergi untuk bekerja di dua rumah sakit di mana beberapa orang yang terluka dirawat.”

Bangunan MSF di kota Kunduz telah hancur dan masih belum ada penjelasan baik dari pemerintah boneka Afghanistan maupun pejabat AS mengapa serangan tersebut terjadi. (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...