Berita Dunia Islam Terdepan

Krisis ekonomi sekarang lebih parah dari 1998

PHK massal
7

JAKARTA (Arrahmah.com) – Pemerintah Jokowi-JK menutup-nutupi kondisi ekonomi saat ini, dengan mengatakan tidak ada krisis ekonomi tetapi yang ada adalah pelambatan ekonomi. Padahal sesungguhnya telah terjadi adalah krisis ekonomi, bahkan lebih parah dari tahun 1998. .

“Krisis ekonomi saat ini dinilainya lebih parah karena berdampak terhadap semua lapisan masyarakat mulai dari konglomerat hingga masyarakat kecil,” kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyouno, Sabtu (3/10/2015), lansir Intelijen

Arief memaparkan, sudah banyak konglomerat yang perusahaannya default untuk membayar utang di bank, baik dalam negeri maupun luar negeri.

“Sementara masyarakat menengah, penghasilannya sudah tidak dapat disisihkan untuk tabungan serta banyak menunggak pembayaran kartu kredit dan kredit konsumen lainnnya seperti cicilan mobil, rumah atau apartemen mewah,” ungkap Arief.

Lanjut Aref, untuk masyarakat kecil atau wong cilik yang bekerja di sektor formal, sudah banyak yang di-PHK dan dirumahkan mencapai 470 ribu pekerja.

“Belum dampaknya terhadap masyarakat kecil yang berwirasawta atau bekerja di sektor informal yang terpaksa harus menutup usahanya,” papar Arief.

Lebih jauh Gerindra menuding PDIP dan pemerintah membongi rakyat dengan mengatakan, rakyat tidak perlu khawatir dengan kondisi ekonomi saat ini.

“Ini seperti orang yang lagi mimpi di siang bolong kalau krisis ekonomi yang saat ini terjadi tidak berpengaruh pada rakyat kecil atau wong cilik,” katanya.

Menurut Arief, ada kemungkinan PDIP sudah tidak punya itikad baik dalam memperjuangan rakyat kecil. “PDIP sudah tidak jadi partainya wong cilik lagi ya karena sudah budeg dan tidak punya lagi sense of economy crisis,” papar Arief.

Kata Arief, PDIP harus jujur terhadap rakyat terkait kondisi bangsa Indonesia yang sudah makin terpuruk.

“Tolong PDIP jujur dong jangan bohongi rakyat, dolar sudah makin perkasa terhadap rupiah dan ekspor komoditi makin nyunsep serta impor bahan pangan makin gila-gilaan serta menurunnya impor bahan baku industri kok dibilang tidak pengaruh. Bohong besar itu kalau daya beli masyarakat kecil masih kuat,” pungkasnya.

(azm/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...