Berita Dunia Islam Terdepan

Suasana Shalat Idul Adha 1436 Hijriyah di India

Suasana Shalat Ied di Masjid Jama New Delhi. (Foto: MD)
26

NEW DELHI (Arrahmah.com) – Suasana shalat Idul Adha di Masjid Jama, New Delhi, India begitu khidmat. Tua, muda, pria, wanita semua memanjatkan doa atas tragedi Mina 2015 yang memakan korban 700-an jiwa jamaah haji, yang 14 diantaranya merupakan peziarah asal India, sebagaimana dilansir media online India MD, Jum’at (25/9).

Shalat Ied pada Jum’at (25/9) juga dilaksanakan di berbagai Masjid mulai dari Jammu dan Kashmir, Bihar, Assam, West Bengal, Madhya Pradesh, Delhi, Rajasthan, Punjab, Haryana, Chandigarh, Maharashtra, Gujarat, Andhra Pradesh, Telangana, Uttar Pradesh, Lakshadweep dan Meghalaya. Sementara di Kerala perayaan Idul Adha terjadi pada Kamis (24/9).

Tentara India dan Pakistan secara bergantian mengamankan perayaan Idul Adha di masjid-masjid tersebut. Mereka beroperasi di Poonch, Kupwara dan distrik Baramulla di Jammu dan Kashmir.

Para tentara perbatasan India-Pakistan juga berjaga di Punjab di Attari, tidak jauh dari Amritsar. Namun, pada hari itu terjadi bentrokan antara aparat keamanan dan para demonstran di Srinagar, ibukota Jammu dan Kashmir.

Hal tersebut tidak mengganggu ketertiban shalat ghaib yang dilakukan pada Jum’at (25/9) atas wafatnya para jamaah haji India pada tragedi desakan di Mina. Sholat ghaib itu dilaksanakan serempak di berbagai masjid seperti, di Mumbai, Thane, Nashik, Aurangabad, Pune dan wilayah lain di Maharashtra.

Tragedi Mina 2015 merupakan yang terburuk dalam kurun 25 tahun terakhir. Di anatara para korban jiwa, terdapat 1 jamaah haji terkorban berasal dari Maharashtra dan 13 lainnya dari wilayah lain di India.

Shalat Ied juga dilaksanakan di Shillong, Dawki, Nongpoh, Lad Rymbai dan Byrnihat serta Perbukitan Garo. “Kami berdoa untuk kedamaian di tanah air dan dunia,” ujar Sekjen Persatuan Muslim Shillong, Haji Sayeedullah Nongrum.

Sementara Muslimin di Madhya Pradesh melaksanakan shalat Ied di Masjid Bhopal. Gubernur Ram Naresh Yadav dan Kepala Meneteri Shivraj Singh Chouhan memberikan sambutan di sana.

Situasi itu tidak jauh berbeda dengan di Delhi, dimana ribuan Muslimin bergabung di Masjid Jama yang sudah ada sejak abad ke 17, dan di dekat Masjid Fatehpuri. Muslimin Rajasthan juga merayakan Idul Adha, di pinggiran Jaipur di Ajmer, kampung halaman Khawaja Moinuddin Chishti. Haji Syed Salman Chishty menyambut 200.000 jamaah shalat Ied di sana.

Di Punjab dan Haryana dekat Chandigardh juga dilaksanakan shalat Ied. Muslimin juga berkumpul merayakan Idul Adha di masjid-masjid Bihar, Bengal barat dan Assam, demikian laporan koresponden IANS.

Islam di New Delhi
Menurut AIM, Sabtu (26/9), New Delhi sudah menjadi pusat Islam sejak Kerajaan Moghul. Hingga kini, Islam tumbuh dan berkembang dengan baik disana. Bahkan di pemerintahan profesional, Muslim juga tampil sebagai pejabat maupun anggota dewan. Tak hanya itu, para cendikiawan di New Delhi juga mayoritas Muslim jebolan dari perguruan-perguruan tinggi Islam ternama di dunia.

Pemerintah India bahkan memberlakukan hari libur saat perayaan hari besar agama Islam.

Dan bukti terabsah dan tidak bisa terbantahkan dari pesatnya perkembangan Islam di New Delhi adalah kehadiran Taj Mahal, satu dari keajaiban dunia.

Bangunan indah dan megah itu sumbangan peradaban masyarakat Muslim, sebuah karya arsitektur yang sangat tinggi. Taj Mahal merepresentasikan kemajuan masyarakat Muslim pada zamannya, sekaligus menunjukkan kepada dunia betapa peradaban masyarakat Muslim sudah sedemikian maju.

Taj Mahal yang terletak di pinggir Sungai Yamuna, Agra, India sekitar 190 kilometer dari New Delhi, dibangun Syah Jehan Raja Mogul V untuk menghormati istrinya Arjuman Banu Begum atau Mumtaz Mahal. Istana pilihan yang di dalamnya terdapat makam mulai dibangun pada 1632 silam dengan mempekerjakan 20 ribu orang. Pembangunan itu menelan biaya 40 juta rupee. Bangunan inti selesai pada 1643 dan secara keseluruhan rampung pada 1654.

Taj Mahal juga menjadi lambang kejayaan Dinasti Mogul, stabilitas di tengah penduduk yang majemuk namun kepemimpinan raja bijak. Meski menganut ajaran Islam, Dinasti Mogul tetap tetap memberikan hak hidup terhadap beragam agama dan keyakinan. Syah Jehan mewarisi kebijakan pendahulunya dalam kepemimpinan sehingga tampil sebagai pemimpin yang sukses.

Maasyaa Allah. Tabarakallah. (adibahasan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...