Berita Dunia Islam Terdepan

Risalah Syaikh Abu Qatadah Al-Filisthini kepada Syaikh Abu Firas As-Suri dan Ahrar Syam

6

(Arrahmah.com) – Syaikh Abu Qatadah Al-Filisthini menyampaikan sebuah risalah kepada amir baru Ahrar Syam, Abu Yahya Al-Himawi, dan kepada Syaikh Abu Firas As-Suri terkait penyataan dan pandangan yang telah disampaikan oleh Syaikh Abu Firas terhadap Ahrar Syam yang menyebut Ahrar sebagai proyek khianat dan proyek bisnis darah para syuhada.

Pernyataan Syaikh Abu Firas secara keseluruhan tertolak dan pandangannya tidak disetujui oleh Syaikh Abu Qatadah. Menurut Syaikh Abu Qatadah, berbicara tentang Ahrar Syam wajib dengan penuh kecintaan, nasehat, dan jauh dari tahdzir, agar pernyataan yang diarahkan pada mereka tidak menjadi penghancur dan penihilan terhadap nilai jihad dan tujuan dari jihad.

Syaikh Abu Qatadah mengatakan bahwa persatuan dan kesatuan umat tidak akan hilang dari ranah jihad di berbagai marhalah selamanya, akan tetapi Nabi telah memberikan pedoman karakteristik kondisi umat pada setiap saatnya, dan pada hari ini kita berada dalam kondisi istidh’af (lemah).

Dalam risalahnya, Syaikh Abu Qatadah menegaskan bahwa Ahrar Syam telah berusaha untuk menjaga batasan dan meletakkan diri pada tempatnya dalam pergaulan mereka dengan kuffar dan thagut. Intinya adalah bahwa Ahrar mencintai ketundukan kepada dasar fiqh dan tauhid bukan kepada pendapat dan kepentingan yang tak berdasar.

Syaikh Abu Qatadah juga menyampaikan bahwa menurutnya Syaikh Abu Firas dalam pernyataannya itu telah tergelincir dan lepas kendali. Sehingga perkara ini telah menyebabkan gejolak kemarahan dari kalangan saudara-saudara di Ahrar dan di luar mereka. Ia pun menyarankan untuk menahan perkara seperti ini dan jangan disampaikan pada publik.

Selain itu, Syaikh Abu Qatadah juga menegaskan kepada Ahrar bahwa mereka mempunyai hak untuk membantah yang bersangkutan, dan ini hanya hak milik Ahrar bukan milik selain mereka. Berikut terjemahan lengkap risalah Syaikh Abu Qatadah tersebut, yang dipublikasikan Muqawamah Media pada Jum’at (18/9/2015).

Risalah Syaikh Abu Qatadah Al-Filisthini kepada Amir Baru Ahrar Syam dan Syaikh Abu Firas As-Suri

بسم الله الرحمن الرحيم

Hanya kepada Allah saja kita berlindung dan hanya milik Allah saja segala pujian. Shalawat dan salam semoga selalu Allah limpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya semua.

Amma ba’du:

Saya tidak khawatir untuk menyampaikan pesan-pesan saya ini kepada Anda karena saya yakin bahwa pesan saya akan sampai kepada Anda sebagaimana yang saya sampaikan dan tidak berubah. Saya berharap apa yang saya sampaikan ini menjadi kebaikan untuk jihad dan untuk para mujahid yang kami cintai.

Saya ingin membahas dua perkara dalam kesempatan ini. Sebelumnya saya pernah ingin membahas hal ini melalui akun Twitter saya, namun saya urungkan karena saya rasa tidak tepat untuk menyampaikan perkara ini melalui Twitter.

Pertama:

Saya ingin mengucapkan selamat kepada para mujahid pilihan dari Harakah Ahrar Syam atas penunjukan amir baru mereka. Sebagaimana yang telah saya lihat dari fotonya, amir baru Ahrar Syam adalah seorang pemuda gagah dengan jenggot hitam yang lebat. Nama beliau adalah Muhannad Al-Misri dan dikenal dengan kuniyah Abu Yahya Al-Himawi. Saya memohon pada Allah semoga Allah merestui dirinya dan menetapkan dia pada kebaikan, keistiqamahan dan kebenaran. Semoga Allah menjauhkan dirinya dari segala fitnah yang tampak ataupun yang tersembunyi.

Saya ingin sampaikan beberapa hal pada amir baru Ahrar Syam:

Bahwasanya saudara Anda Abu Qatadah sangat mencintai Mujahidin Ahrar Syam, ia tidak pernah bosan mendoakan kalian begitu juga seluruh mujahidin di atas tanah kaum muslimin.

Saya juga ingin katakan sesuatu tentang kalian dan semoga pendapat saya ini benar, sesungguhnya Allah menginginkan kebaikan yang besar pada kalian dan sedang menyiapkan kalian untuk itu. Hal itu karena kejujuran kalian yang selama ini saya nilai, cukuplah Allah bagi saya dan bagi kalian.

Ketahuilah bahwa saya tidak pernah menilai sesuatu karena nama Jama’ah atau nama Tanzhim, yang saya nilai adalah sikap dan pendirian. Darisanalah saya berangkat untuk menasehati sesuai kadarnya. Saya juga melihat bahwa kalian sama dengan seluruh mujahidin lainnya yang memiliki hak untuk dicintai, dinasehati, didoakan dan dibela.

Oleh karena itu dengan penuh cinta saya katakan pada kalian:

Semoga Allah mengampuni pemimpin terdahulu kalian Abu Jabir, dan semoga Allah membalasnya dengan kebaikan. Saya menilai bahwa apa yang telah ia lakukan selama memimpin tanzhim adalah semata-mata untuk menolong agama Allah, ia bukanlah pengejar dunia dan yang ia cari adalah ridha Allah semata.

Saya juga menilai posisi dia untuk kalian adalah sebagai seorang pelayan, tidak lebih dan tidak kurang. Setiap kalimat yang datang darinya untuk Ahrar Syam dan tidak dipahami dalam posisi bahwa dirinya adalah seorang pelayan maka saya menganggap orang itu sebagai ghulat Ahrar. Hendaknya Mujahidin Ahrar Syam tidak menjadi pembela tanzhim, tapi menjadi pembela agama Allah. Dan setiap kalimat untuk membela agama Allah berbeda dengan kalimat membela tanzhim. Namun saya tetap ingin memuji sosok beliau dan berterimakasih padanya.

Sekali lagi saya ingin sampaikan selamat kepada amir baru Ahrar Syam, semoga Allah menjadikan kalian semakin kokoh memegang kebenaran, dan semoga Allah menyingkirkan segala sesuatu yang menodai dunia dan akhirat kalian, dan semoga Allah mengampuni Abu Jabir dan membalasnya dengan kebaikan.

Masalah Kedua:

Respon atas pernyataan Abu Firas As-Suri

Berbicara dalam hal ini tentu merupakan topik yang besar, sulit dan susah. Saya katakan itu bukan karena ingin lari dari tanggung jawab atau kebenaran, tetapi karena berbicara dalam tema ini adalah layaknya berbicara tentang perkara yang menyangkut nyawa orang banyak. Kondisinya lebih pelik dari sekedar memahami huruf-huruf saja.

Dan sekarang yang dituntut dari saya adalah menjelaskan detail apa yang saya nilai dari pernyataan yang telah beliau keluarkan, dan jujur saya berangan-angan seandainya pernyataan semacam ini tidak muncul, lebih baik mereka diskusikan di tempat tertentu antara mereka sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Andaikan mereka menyerahkan urusannya kepada Rasulullah dan Ulil Amri (pemegang urusan dari kalangan Umara’ dan orang-orang berilmu) di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasulullah dan Ulil Amri).” QS. An-Nisa’: 83

Dalam membahas ini saya akan menyampingkan kedekatan pribadi saya dengan Abu Firas, karena saya mengenal beliau dari dekat bukan dari tulisan. Saya akan berbicara apa adanya, ojektif dan tanpa sekat.

Saya akan keluar dari konteks kebiasaan dalam memberikan pembahasan ini. Sebagaimana biasanya, pembahasan ilmiah selalu membawa dua konteks, konteks membahas person yang bersangkutan dan konteks yang membahas pernyataan keseluruhan.

Tanpa diragukan lagi pernyataan Abu Firas secara keseluruhan adalah tertolak bagi saya, dan pandangannya tidak saya setujui. Berbicara tentang Ahrar Syam wajib dengan penuh kecintaan, nasehat, dan jauh dari tahdzir. Jangan sampai pernyataan yang diarahkan pada mereka menjadi penghancur dan penihilan terhadap nilai jihad dan tujuan dari jihad. Sebagaimana kesimpulan dari pernyataan yang menyebut Ahrar sebagai proyek khianat dan proyek bisnis darah para syuhada.

Semua itu tidak benar sama sekali, saya tidak tahu persis pandangan Abu Firas yang sebenarnya atas Ahrar Syam, apakah dia memang bermaksud demikian atau kalimat-kalimat itu telah disalahartikan sehingga menimbulkan perkara tak lazim seperti ini. Saya yakin setiap peneliti akan menilai bahwa pernyataan yang dikeluarkan Abu Firas tersebut tidaklah pantas ditujukan pada Ahrar Syam secara umum.

Saya belum selesai sampai di sini, dan jika pesan ini sampai kepada Abu Firas jangan sampai ia mengatakan tentang saya “Anda berada jauh dari di sana, Anda tidak tahu apa yang saya dan kami ketahui di sini.”

Terdapat perbedaan antara pengamat dan pengawas dalam memberikan pandangan:

1. Kondisi di mana tidak memungkinkan ditujukan secara umum dalam beramal, tetapi ia hanya mengiringi secara khusus dan pribadi.
2. Kondisi di mana melingkupi keseluruhan amal secara kolektif maupun prbadi.

Izinkan saya menjelaskan perbedaan ini:

Terdapat sebuah Jama’ah yang pondasi fikrah dan manhajnya tidak ada cela dalam konteks berhubungan dengan kaum kuffar atau thagut, bahkan mungkin mereka manjaga jarak sangat jauh dari para thagut. Dan ada Jama’ah lain yang bergaul dengan kuffar atau thagut secara pribadi demi misi tertentu atau dalam keadaan tertentu saja. Adapun Ahrar Syam dalam penilaian saya mereka telah berusaha untuk mendudukkan setiap perkara sesuai kadarnya. Inilah penilaian atas benarnya langkah atau keliru. Namun demikian perkara ini secara hukum fiqh masuk dalam kategori Ahkamu Al-Khamsah bukan di luar itu. Adapun upaya mengubah hukum sebagian menjadi hukum keseluruhan, maka pondasi hukum yang menjadi landasannya juga harus diubah.

Pernyataan Abu Firas telah menempatkan Ahrar diselain tempatnya, sebagaimana pernyataan agen-agen yang dikendalikan musuh-musuh Islam dan para thagut. Maka ini adalah perbuatan dhalim yang tidak dapat diterima.

Sangat disayangkan sekali kasus seperti ini banyak terjadi pada orang-orang yang tidak mempelajari ilmu Ushulul Fiqh, dan ilmu pertimbangan dan penalaran.

Ahrar Syam telah berusaha untuk menjaga batasan dan meletakkan diri pada tempatnya dalam pergaulan mereka dengan kuffar dan thagut. Mereka senantiasa menyatakan bahwa mereka bukan bagian dai koalisi musuh Islam atau koalisi para thagut. Hal ini ditunjukkan dengan jelas atas dasar bahwa mereka juga menjadi target penembakan oleh koalisi. Intinya adalah bahwa Ahrar mencintai ketundukan kepada dasar fiqh dan tauhid bukan kepada pendapat dan kepentingan yang tak berdasar.

Semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik.

Saya berharap untuk bisa menjelaskan apa yang saya saksikan, tidak diragukan lagi perkara ini adalah upaya kritik yang ekstrim atas Ahrar, juga hujatan pihak luar atas mereka. Saya tidak menyuarakan pendapat pribadi saya saja, melainkan suara jama’ah-jama’ah yang menjadi pengikut Ahrar. Oleh sebab itu saya serukan untuk berhati-hati agar tidak meluncur tanpa kendali dalam mengkritisi mereka.

Menurut saya Syaikh Abu Firas dalam pernyataannya itu telah tergelincir dan lepas kendali, dan saya harap pendapat saya ini salah. Sehingga perkara ini telah menyebabkan gejolak kemarahan dari kalangan saudara-saudara kita di Ahrar dan di luar mereka. Itulah mengapa perkara seperti ini sebaiknya kita tahan dalam diri kita sendiri dan jangan disampaikan pada publik.

Pernyataan tersebut tidak benar, bahkan tidak ada dalil sama sekali yang menunjukkan bahwa Ahrar adalah jenis sebagaimana yang disebutkan dalam pernyataan itu. Seandainya kita mengatakan kepada Ahrar bahwa kalian salah, maka itu lebih tepat. Akan tetapi ketika Anda berkata kepada Ahrar bahwa kalian telah bersekongkol, menjual diri dan berkhianat, maka demi Allah itu adalah perbuatan zhalim. Karena hal yang demikian belum kita saksikan dilakukan oleh Ahrar, maka kita menghukumi sesuai dengan dasar yang kita ketahui.

Saya mohon saudara-saudara saya di Ahrar dan khususnya Syaikh Abu Muhammad As-Shadiq untuk menyikapi hal ini dengan tenang, dengan analisa ilmiah, dan dengan mengumpulkan berita sesuai dengan fakta dan kebenarannya. Hanya dengan hadirnya seseorang dalam sebuah forum tidak berarti semua kabar yang ia sampaikan benar dan detail, karena diri manusia ini rentan begitu juga dalam memahami kalimat dan perbuatan.

Saya juga ingin katakan kepada Ahrar yang saya cintai bahwa merupakan hak kalian untuk membantah yang bersangkutan, dan ini hanya hak milik Ahrar bukan milik selain mereka, jangan berikan kesempatan kepada selain kalian untuk memberikan pernyataan mengenai perkara ini.

Saya ingin sampaikan pesan terakhir pada Ahrar agar orang-orang tidak berprasangka pada saya dengan berbagai prasangka. Hendaknya mereka menjauhi segala teori yang dibuat di sana-sini, dan berbagai senandung yang memimpikan kejayaan semu. Seperti buaian bahwa mereka berada dipuncak sejarah jihad tatkala mereka dinamakan dengan Salafiyah Jihadiyah, sebuah istilah yang tidak saya suka.

Percayalah pada saya bahwa kalian tidak akan mampu untuk keluar dari garis ketentuan walaupun kalian kelelahan dalam berupaya. Wahai para pemimpin Ahrar, setiap sejarah jihad yang dibawa manusia memiliki karakteristiknya masing-masing. Jika kalian ingin mengukir sejarah jihad di abad ini, maka menjauhlah dari perkara yang dapat menginjak dan menghapus sejarah kalian, menjauhlah dari perkara yang dapat meruntuhkan dan memutar balikkan sejarah kalian.

Kalian tentu boleh membuat sejarah kalian sendiri, itu adalah hak kalian. Namun ingatlah bahwasanya kalian dan orang-orang selain kalian tidak ada yang mampu sampai saat ini untuk mengokohkan dirinya dan untuk mencegah kepunahan dan kebinasaan atau keudzuran.

Kalian sekarang telah membuka berbagai pintu, dan kalian telah meridhai penolakan arahan manhaj sebagaimana yang dinyatakan sebagian kalian bukan seluruh kalian, dalam pencarian jatidiri dengan berbagai slogan-slogan yang indah. Dengan segenap cinta dan rasa hormat percayalah pada saya, saya ingin ingatkan bahwa bukanlah kalian yang menggagas jalan ini, perkara ini telah ada jauh sebelum kalian ada dan sebelum kalian memulai jihad. Sesungguhnya posisi kalian saat ini masih belum memungkinkan untuk menciptakan suatu yang berbeda. Karena jihad pada hari ini baik oleh siapapun dan dimana saja adalah berada dalam fase bertahan dan defensif.

Sebagian orang membuai kalian dengan senandung bahwa kalian telah sampai pada tahap mempersatukan umat sedangkan selain kalian beramal dalam ketidak jelasan. Dengan penuh cinta percayalah pada saya bahwa itu adalah perkiraan yang salah.

Makna persatuan dan kesatuan umat tidak akan hilang dari ranah jihad di berbagai marhalah selamanya, akan tetapi Nabi telah memberikan pedoman karakteristik kondisi umat pada setiap saatnya, dan pada hari ini kita berada dalam kondisi istidh’af (lemah).

Demikianlah yang dapat saya sampaikan saat ini, walaupun banyak sekali ungkapan cinta dan nasehat yang masih ingin saya sampaikan, dengan izin Allah akan saya sampaikan pada kalian di waktu yang dekat. Semoga Allah memberikan kalian balasan yang terbaik, dan semoga Allah menetapkan kita semua dalam keta’atan padaNya.

(banan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...