Berita Dunia Islam Terdepan

Demo sambut rencana kunjungan Al Sisi ke Jakarta

Di Jakarta, rencana kunjungan Presiden Mesir Abdel Fatah al-Sisi disambut unjuk rasa, Kamis (3/9/2015)
6

JAKARTA (Arrahmah.com) – Presiden Mesir Abdel Fatah Al Sisi rencananya akan berkunjung ke Indonesia hari ini Jumat (4/9/2015).

Mengutip BBC Indonesia, Kepala staf Presiden Teten Masduki mengatakan, Abdel Fatah al-Sisi direncanakan akan bertemu Presiden Joko Widodo pada Jumat (04/09) besok di Istana Merdeka, Jakarta.

Belum diketahui agenda utama kunjungan al-Sisi selama di Jakarta, tetapi sebuah unjuk rasa menolak kunjungannya telah digelar oleh kelompok yang menamakan diri Indonesia society for humanity di Jakarta, Kamis (03/09).

Diikuti sekitar 20 orang, mereka menggelar unjuk rasa di depan Istana Merdeka dan menyatakan menolak rencana kunjungan Sisi, otak dan pelaku utama kudeta berdarah terhadap Presiden yang sah Mohammad Mursi tersebut.

“Al-Sisi adalah penjahat kemanusiaan, pelaku kudeta militer. Tidak ada manfaat apapun Indonesia belajar dengan Mesir,” kata juru bicara pengunjuk rasa, Noval Abuzar kepada BBC Indonesia.

Rencana kunjungan Al-Sisi ke Jakarta merupakan kunjungan pemimpin Mesir pertama ke Indonesia dalam 30 tahun terakhir semenjak kunjungan Presiden Hosni Mubarak ke Jakarta pada April 1983.

Terkait, anggota komisi I DPR yang membidangi urusan luar negeri, Ahmad Zainuddin berharap Presiden Joko Widodo harus sampaikan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Mesir terkait rencana kedatangan Presiden Mesir Jenderal Abdul Fatah Al Sisi ke Indonesia.

“Masalah HAM dan kemanusiaan di Mesir ini saya kira perlu sekali dipertimbangkan pemerintah. Kalau perlu Presiden Jokowi menolak kedatangannya,” ujar Zainuddin di Jakarta, Selasa (1/9/2015), lansir Hidayatullah.com

Sebagaimana diberitakan berbagai media, Al Sisi direncanakan melakukan lawatan kenegaraan ke beberapa negara di Asia pada tanggal 31 Agustus-5 September 2015.

Menurut Zainuddin, jika kedatangan Al Sisi tidak mungkin ditolak atas dasar hubungan bilateral, ada dua hal yang perlu disampaikan Presiden Jokowi kepada Presiden Al Sisi.

Pertama, lanjut Zainuddin, Indonesia perlu mendorong agar Mesir mengedepankan aspek kemanusiaan dan HAM dalam kebijakan keamanan dalam negerinya. Sejak menjadi Presiden Mesir, kebijakan keamanan dalam negeri Al Sisi selalu menjadi sorotan dunia karena banyak melanggar HAM dan demokrasi. Mesir menjadi salah satu rezim paling tidak demokratis di kawasan saat ini.

Kedua, Zainuddin menambahkan, pemerintah Indonesia perlu menyuarakan upaya kemanusiaan terkait masalah Palestina. Salah satunya, mendorong agar Mesir senantiasa membuka Pintu Rafah di perbatasan Mesir-Palestina.

“Pemerintah kita harus memaksimalkan ini untuk menyuarakan aspirasi strategis terkait masalah Palestina. Misalnya, buka Pintu Rafah sepanjang tahun,” imbuh anggota pengawas intelijen Komisi I DPR ini.

Zainuddin mengapresiasi kebijakan Mesir yang membuka Pintu Rafah bagi warga Palestina di Gaza pada 17 Agustus 2015 lalu yang hanya berlaku selama 15 hari untuk tahun ini. Namun Zainuddin berharap, Presiden Jokowi dapat mendorong Al Sisi agar membuka Pintu Rafah sepanjang tahun.

Bagi rakyat Palestina di Gaza, Pintu Rafah menjadi nadi kehidupan mereka. Jika Mesir ingin tidak ada lalu lintas ilegal melalui terowongan, maka menurut Zainuddin, kuncinya adalah membuka blokade melalui pembukaan Pintu Rafah sepanjang tahun.

“Jangan lagi ditutup. Ini sesuai komitmen Presiden Jokowi sendiri yang selalu diucapkan dalam pidato untuk mendukung kemanusiaan dan kemerdekaan Palestina,” tegas politisi PKS ini.

Sebagai negara besar dengan kekuatan militer terkuat di Afrika Utara dan Timur Tengah, lanjut Zainuddin, Mesir diharapkan bisa memainkan peran lebih besar dan strategis lagi bagi kemaslahatan dunia Islam dan kawasan.

“Presiden Jokowi sebaiknya melakukan pendekatan tersebut. Pendekatan ini menunjukkan kontribusi Indonesia dalam mendukung ketertiban dunia di kawasan lain, sesuai amanat Pembukaan UUD 1945,” imbuh politisi dari daerah pemilihan DKI Jakarta I ini.

Pemerintahan Mesir di bawah Jenderal Abdul Fatah al-Sisi cukup kontroversial. Karena Al Sisi berhasil menjadi presiden Mesir melalui kudeta yang menganulir pemerintahan sebelumnya yang terbentuk secara demokratis. (azm/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...