Masjid bersejarah di Bangladesh terancam akan dihancurkan

Masjid Atia telah berusia berabad-abad, dibangun di tepi Sungai Louhajang di Tangail Delduar Upazila pada tahun 1609 sebagai hadiah oleh kaisar Mughal Jahangir.
7

DHAKA (Arrahmah.com) – Sebuah masjid berusian 406 tahun di Bangladesh terancam akan mengalami pembongkaran akibat kelalaian pihak berwenang, meskipun para arkeolog telah berulang kali memperingatkan tentang kehilangan situs bersejarah tersebut.

“Ini warisan kita,” Muhammad Babuluzzaman, ketua Parishad Serikat Atia, sebagaimana dilansir oleh onislam, (28/8/2015).

“Masyarakat setempat, bersama-sama dengan pemerintah daerah, telah mengambil langkah-langkah untuk melindungi situs ini. Tapi Departemen Arkeologi selalu mengecilkan hati kami.”

Babuluzzaman kemudian menjelaskan tentang masjid Atia yang telah berusia berabad-abad itu yang dibangun di tepi Sungai Louhajang di Tangail Delduar Upazila pada tahun 1609 sebagai hadiah oleh kaisar Mughal Jahangir.

Terletak berdekatan dengan kuil Hazrat Shahan Shah yang berasal dari Kashmir menuju Atia sekitar tahun 1508 bersama dengan 49 jamaah yang mendakwahkan Islam di wilayah tersebut. Karenanya, masjid Atia itu memiliki makna mendalam di hati Muslim Bangladesh.

Mencerminkan keindahan seni Bengali, masjid Atia memiliki sembilan dinding kaki yang dihiasi dengan plakat terakota. Saat ini, sebagian besar warna-warnanya sudah memudar, dan catnya hilang, dan bahkan ada yang rusak.

“Banyak plakat yang usang,” kata Farid Ahmad, Imam masjid itu.

“Bagian dari dekorasi uniknya ada yang lepas jatuh dan air merembes di bagian atas bangunan.”

Selama abad terakhir, masjid Atia sudah berkali mengalami perbaikan.

Pada tahun 1.837, masjid ini diperbaiki oleh Rowshan Khatoon Chowdhurani, saudagar wanita dari Delhi. Saat itu masjid Atia mengalami rusak parah akibat gempa yang terjad pada tahun 1.800. Masjid bersejarah tersebut berada di bawah tanggung jawab departemen arkeologi pada tahun 1978.

Sebagian masjid itu diperbaiki pada tahun 2000 dan 2009, dan masjid ini perlu perbaikan mendesak, menurut pengurus masjid Munirul Haq.

“Setelah mengirim laporan, pejabat senior Departemen Arkeologi mengunjungi masjid ini sekitar enam bulan yang lalu untuk memeriksa bangunannya,” kata.

“Dan mereka meyakinkan kami bahwa pekerjaan perbaikan akan dimulai pada tahun ini. Namun tidak ada tanda-tanda bahwa masjid ini akan diperbaiki.”

(ameera/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.