Syaikh Al-Muhaisini: Haram hukumnya menyimak rilisan Ahlul Bid'ah, termasuk rilisan ISIS

75

(Arrahmah.com) – Hingga hari ini, pembantaian terhadap Muslim Sunni yang dilakukan rezim Nushairiyah masih terus berlangsung di Suriah. Dengan menggunakan kekuatan militernya, rezim diktator Bashar Asad secara biadab terus mengucurkan darah warga sipil dan Mujahidin pembela kaum Muslimin.

Di tengah suasana perang di bumi Jihad Syam yang begitu mencekam, Syaikh Abdullah Al-Muhaisini, seorang Ulama yang jujur dalam mengamalkan ilmunya, tak henti-hentinya terus memikirkan kondisi umat.

Sebagai seorang Ulama, ia dikenal sebagai Ahluts-Tsughur yang masih tersisa di muka bumi pada akhir zaman. Ia menyaksikan betapa selain menghadapi kebiadaban rezim, umat ini juga telah tercabik-cabik oleh kuku-kuku para Ahlul Bid’ah yang dimanfaatkan oleh orang-orang kafir untuk menghancurkan Islam.

Di antara Ahlul Bid’ah yang dimaksud ialah seperti klompok “Daulah Islamiyah”, atau Islamic State (IS) yang sebelumnya dikenal sebagai ISIS, para pengusung aliran tarikat Tasawwuf, serta orang-orang yang secara diam-diam mencela para shahabat.

Dalam keadaan yang penuh keterbatasan di medan peperangan, Syaikh Muhaisini menuangkan Fatwa terbaru untuk melindungi umat dari bahaya propaganda Ahlul Bid’ah dan kesesatannya, yang biasa menipu umat dengan rilisan-rilisan media mereka.

Berikut terjemahan hukum menyaksikan rilisan Ahli Bid’ah yang disampaikan oleh Syaikh Abdullah Al-Muhaisini melalui Twitter tersebut, dan dipublikasikan Muqawamah Media pada Sabtu (22/8/2015).

Hukum Menyaksikan Rilisan Ahli Bid’ah
Oleh: Syaikh Abdullah Al-Muhaisini hafizhahullah

Ikhwan dan akhwat sekalian, para Mujahid dan seluruh kaum Muslimin secara umum.

Salah satu hal yang tersebar, menjadi kebiasaan, dan muncul di tengah-tengah manusia hari ini adalah sikap meremehkan hukum menyaksikan rilisan ahli bid’ah sehingga kita melihat si fulan atau fulanah menyaksikan rilisan orang yang datang membawa ajaran bid’ah dalam-dalam programnya atau siarannya atau bahkan seorang atheis atau zindiq dengan berbagai indoktrinasi yang kuat.

Demi Allah! Ini adalah kesesatan yang parah dan termasuk faktor yang menyebabkan kita terwarnai dengan kebatilan, berubah-ubah, dan tidak tegar. Kita memohon keselamatan dan perlindungan kepada Allah Ta’ala.

Betapa sangat butuhnya kita akan keteguhan di zaman fitnah dan penuh dengan perubahan, maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk menyaksikan atau mengikuti ahli bid’ah kecuali untuk membantah syubhat mereka.

Pada saat kita membicarakan tentang ahli bid’ah, itu artinya pembicaraan kita mencakup Jamaah Baghdadi, siapa saja yang menyebarkan tasawwuf, dan siapa saja yang mencela sahabat secara sembunyi-sembunyi.

Terkadang Anda melihat sebagian orang mengingkari khawarij dengan keras, tapi pada saat yang sama ia masih saja mengikuti rilisan-rilisan mereka!

Dia mengakatan, “Saya merasa terhibur dengan rilisan mereka” atau “Saya merasa kagum/heran dengan nasyid mereka”.

Dia berkata, “Apakah orang-orang mutahawwik (orang bingung, orang bimbang) tentangnya wahai Ibnul Khattab! Demi jiwaku yang berada di tangannya, aku telah datang kepada kalian dengannya secara terang) inilah Umar!”

Dia berkata, “Barangsiapa yang mendengar Dajjal maka hendaknya dia menjauh darinya. Demi Allah! Sesungguhnya seseorang didatangi oleh Dajjal sementara dia mengira bahwa dirinya seorang mukmin lalu dia mengikuti Dajjal karena syubhat-syubhat yang disebarkan olehnya.”

Demi Allah! sesungguhnya saya melihat dukungan orang awwam kepada Baghdadi dan pada saat yang sama dia menumpahkan darah kaum Muslimin dan menampakkan kesesatannya yang begitu nyata. Maka saya katakan, “Kalau demikian tidaklah mengherankan jika masih saja ada orang-orang yang mengikuti Dajjal, padahal telah jelas kesesatannya.”

Di antara kedua mata Dajjal tertulis kata “kafir”. Pun demikian, Rasul ﷺ tetap melarang kita untuk mendekatinya karena khawatir kita tertipu dengan syubhat-syubhatnya! Hal yang sama terjadi hari ini ,banyak syubhat dan tipu daya yang dahsyat dari media ahli bid’ah.

Oleh karena itu, hal yang saya fatwakan kepada ikhwan-ikhwanku:

Hukumnya HARAM untuk menyaksikan rilisan-rilisan tersebut; karena dengan menyaksikannya berarti mengakui kebatilan dan ridha dengannya, mendorong manusia kepada kebatilan dan juga menyebarkan rilisan tersebut kecuali untuk membantahnya.

Allah Ta’ala berfirman menggambarkan ‘Ibadurrahman (hamba-hamba Arrahman): “Dan mereka orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu (az-zuur)” (Al-Ayat).

Az-zuur (kepalsuan) adalah setiap kebatilan yang dipalsukan dan dihiasi kemewahan. Jika demikian, az-zuur/kepalsuan mana yang lebih dahsyat dari rilisan-rilisan semacam ini.

Di antara sunnah-sunnah Islam adalah menjauhkan diri dari hal yang mengantarkan pada kesesatan, penyelewengan, dan fitnah. Oleh karena itu, Rasul ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang mendatangi dukun, lalu dia bertanya padanya, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari,” ini hanya sebatas bertanya!

Selanjutnya, di antara sifat ahlussunnah: bahwa mereka (ahlussunnah) tidak ikut duduk-duduk dengan ahli bid’ah, menjaga pendengaran dari kebatilan-kebatilan mereka yang jika kebatilan-kebatilan itu melewati pendengaran akan membuatnya tenang.

Hasan Al-Bashri mengatakan, “Janganlah kamu ikut duduk dengan orang yang mengikuti hawa nafsu sehingga dia bisa menancapkan (kebatilan) ke dalam hatimu, suatu hal jika kamu mengikutinya kamu akan binasa atau kamu menyelisihinya sehingga hatimu sakit.”

Diriwayatkan bahwa seorang lelaki mu’tazilah datang dan berkata-kata, lalu Ibnu Thawus memasukkan kedua telunjuk ke telinganya dan memerintahkan anaknya juga untuk melakukannya. Dia berkata, “Kencangkan (tutup telinga) dan jangan kamu dengar apapun darinya.”

As-Sakhtayani menolak hanya untuk sekedar mendengarkan satu ayat atau hadits dari ahli bid’ah. Adapun pada saat ada ahli bid’ah berkata padanya, “Dengarkan satu kata dariku.” Ia menjawab, “Setengah kalimatpun tidak!”

Imam Adz-Dzahabi berkata dalam biografi Rawandi, “Ia adalah seorang zindiq dan ia mengikuti rafidhah serta atheis; ketika mendapatkan peringatan keras agar menjauh dari kezindiq-an, dia justru berkata, ‘Aku ingin mengetahui madzhab mereka.’ Akibatnya, dia pun terpengaruh dengan kezindiq-an hingga dia mengarang buku berisi ajaran-ajaran kaum zindiq, semoga Allah Ta’ala melaknatnya.”

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Barangsiapa menurutkan pendengarannya dengan ahli bid’ah maka dia telah keluar dari perlindungan Allah dan dia akan dikuasai oleh bid’ahnya.”

Maka dengarkanlah oleh kalian -semoga Allah menjaga kalian- begitu besarnya perhatian salafushshalih agar menjauh dari bid’ah. dan di sini saya tidak mengkhususkan Jamaah Baghdadi tapi juga seluruh Ahli dhalalah, orang-orang sesat.

Jika Anda -semoga Allah menjagamu- mem’follow’ salah seorang ahli bid’ah maka segeralah menghapusnya dan menghapus channel-channel mereka. Jika tidak, maka kamu akan dicela karena al-haq tidak jelas dalam dirimu.

Pada saat kami melarang untuk menyaksikan berbagai rilisan tersebut, hal itu bukan berarti bahwa ahlul haq (orang yang memegang kebenaran) tidak mampu untuk menegakkan hujjah; akan tetapi umat ini harus dijaga dari berbagai syubhat, penyimpangan, dan kesesatan.

Oleh karena itu, kami katakan barangsiapa dari ahlul haq yang ingin mendebat mereka dan membantah hawa nafsu mereka maka lakukanlah. Demikianlah yang dilakukan salafushshalih dan telah kami nukil beberapa perkataan mereka.

Mereka mengatakan demikian itu bukan karena lemahnya hujjah. Semoga Allah menjaga dan menguatkan kalian, memberikan manfaat kepada kami dan kalian dalam perkara yang mengandung kebaikan dan kebenaran. dan senantiasa ucapkan:

ياحي ياقيوم اهدنا لمااختلف فيه من الحق بإذنك إنك تهدي من تشاءإلى صراط مستقيم

(Ya hayyu ya qaayuum ihdina limakhtulifa fiihi minal haqqi biidznik innaka tahdii man tasyaa’ ilaa shirathin mustaqiim)

“Wahai Yang Mahahidup dan Maha berdiri sendiri dan senantiasa merawat hamba-hamba-Nya sendirian, dengan izinMu tunjuki kami pada kebenaran yang diperselisihkan, sesungguhnya Engkau menunjuki siapa saja yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus).

Rasul ﷺ bersabda tentang khawarij bahwa mereka akan terus ada sampai pada akhir generasi mereka akan bergabung dengan Dajjal.

Tahukah Anda, mengapa demikian? Karena manhaj khawarij adalah mengikuti perkara-perkara syubhat dan media propaganda mereka.

Seseorang ketika mengikuti mutasyabihul qaul (perkara yang samar) semisal serial majalah Dabiq, Rayatus Suud, dan semisalnya, perkara ini terus berpindah-pindah, terkadang dengan si fulan ini, terkadang dengan si fulan itu, di sini dia jadi sesat.

Di antara kedua mata Dajjal tertulis kata “kafir”, lalu mengapa generasi terakhir Khawarij mengikutinya? Karena Dajjal membawa berbagai macam syubhat, dia mengatakan ini surga dan ini neraka sehingga mereka pun mengikutinya.

(aliakram/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.