Berita Dunia Islam Terdepan

Ribuan orang berkumpul di depan Konsulat Mesir di New York untuk memprotes pembantaian di Rabaa dan Al-Nahda Squares, Kairo

Ribuan orang berkumpul di depan Konsulat Mesir di NYC untuk memprotes pembantaian di Rabaa dan Al-Nahda Squares, Kairo.
3

NEW YORK (Arrahmah.com) – Protes digelar di New York City, untuk memperingati ulang tahun kedua dari pembantaian yang terjadi di Rabaa dan di al-Nahda Squares, Kairo. Demonstrasi itu digelar di depan Konsulat Mesir di New York, sebagaimana dilansir oleh World Bulletin, Sabtu (15/8/2015).

Ratusan orang tewas dalam pembantaian itu, dimana lebih dari seribu pendukung Mursi ditangkap. Penindasan yang dilakukan rezim junta Mesir terhadap pendukung Ikhwanul Muslimin terus berlangsung hingga hari ini, dimana bisnis dan rumah sakit yang ada kaitannya dengan Ikhwanul Muslimin diambil alih atau ditutup oleh pemerintah Sisi.

Selama protes, pendukung Mursi meneriakkan slogan yang mendukung Mursi, melambaikan bendera, dan menunjukkan simbol Rabia.

Salah seorang demonstran Hesham Abdallah, dalam sambutannya mengatakan bahwa rezim al-Sisi telah ilegal sejak hari pertama, dan sikap dunia Barat tidak konsisten terhadap kudeta dan pembantaian yang terjadi dalam pemerintahan Al-Sisi.

Abdallah mengungkapkan terimakasihnya kepada pemerintah Turki dan orang-orang yang secara konsisten mendukung pemerintahan yang sah, dan menentang pembantaian dan kudeta yang terjadi di Mesir.

Abdallah mengatakan bahwa, “Dalam kunjungan saya baru-baru ini ke Turki, simbol Rabia bisa dilihat di mana-mana. Mereka merasakan rasa sakit yang diderita oleh saudara-saudara mereka di Mesir dan kami berterimakasih atas dukungan mereka.”

Samar Nowar, demonstran lain juga mengatakan bahwa sejak pembantaian itu situasi di Mesir telah mengalami kekacauan. Ashraf Ali menekankan bahwa selama rezim Sisi berkuasa tidak akan ada akuntabilitas bagi mereka yang telah melakukan pembantaian.

Oussama Jammal, sekretaris jenderal Dewan Organisasi Muslim AS, menekankan bahwa pelanggaran yang terus terjadi di Mesir diduga dilakukan atas perintah Abdul Fattah al-Sisi, mantan kepala militer yang menjadi presiden Mesir pada pertengahan 2014.

Dia juga menambahkan bahwa keheningan masyarakat internasional yang terus menerus telah mengirimkan pesan yang sangat buruk untuk rezim di Mesir.

(ameera/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...