Perbandingan antara Erdogan dan Baghdadi

103

(Arrahmah.com) – Syaikh Abu Mariyah Al-Qahthani menyampaikan risalah tekait objektifitas pandangan pendukung kelompok “Daulah Islamiyah”, atau Islamic State (IS) yang sebelumnya dikenal sebagai ISIS, mengenai perbandingan atas apa yang telah pemimpin mereka, Abu Bakar Al-Baghdadi, berikan untuk kaum muslimin Irak dan Syam serta apa yang telah pemimpin Turki, Recep Tayyip Erdogan, berikan untuk kaum muslimin Turki dan Syam.

Risalah ini merupakan bahan renungan bagi mereka yang menganggap Baghdadi lebih baik dari pada Erdogan dan memandang rendah seorang Erdogan hanya karena sistem hukum demokrasi yang masih ia jalankan di Turki tanpa memedulikan jasa-jasanya terhadap kaum Muslimin.

Padahal, Baghdadi telah datang ke Syam dan mengusir kaum muslimin di sana, ia juga membunuh mereka, menghalalkan darah para pejuang di sana, serta merampas harta benda mereka. Sedangkan di saat yang sama, Erdogan membuka negerinya sebagai tempat berlindung jutaan pengungsi Suriah, ia sangat memuliakan kaum muslimin Syam dan mendukung perjuangan revolusi mereka.

Sementara untuk kepentingan revolusi Suriah, Turki telah membuka daratan negeri mereka, jalanan, udara bahkan lautnya untuk menolong bangsa Suriah yang tertindas. Sedangkan Baghdadi, ia dan tentaranya telah memutus jalur suplai kebutuhan dan amunisi bagi Mujahidin, dan mencuri serta merampas harta benda mereka dengan semena-mena.

Dengan demikian, Syaikh Abu Mariyah Al-Qahthani menegaskan bahwa risalah ini tidak serta merta berarti bahwa ia mendukung Erdogan dan sistem hukum demokrasi yang dijalankannya di Turki. Melainkan, risalah ini ditujukan sebagai bahan renungan mendalam bagi mereka yang masih mendukung Baghdadi.

Berikut terjemahan risalah lengkap Syaikh Al-Qahthani mengenai perbandingan antara dua daulah pimpinan Baghdadi dan Erdogan tersebut, yang dipublikasikan Muqawamah Media pada Jum’at (14/8/2015).

Perbandingan Antara Dua Daulah
Oleh: Syaikh Abu Mariyah Al-Qahthani

بسم الله الرحمن الرحيم

Satu tahun yang lalu, salah seorang ikhwah pilihan pernah terlibat diskusi dengan seorang pendukung Jama’ah Daulah, lantas saudara kita ini berkata bahwa Erdogan jauh lebih baik dari Al-Baghdadi, ia telah membela Ahlus Sunnah di Suriah dan Irak. Maka si pendukung Jama’ah Daulah berseloroh bahwa Turki telah terlibat dalam perang melawan Taliban.

Hari ini, saya tiba-tiba teringat dengan perdebatan yang telah terjadi setahun yang lalu itu, dan saya berkata pada diri saya seandainya saja dulu para pendukung Daulah tidak berargumen dengan ini, lihatlah hari ini, mereka memerangi Taliban bahu membahu bersama koalisi NATO.

Di sisi lain Jama’ah Daulah menekankan bahwa siapa saja yang ikut memerangi mereka bersamaan dengan koalisi Internasional, maka hal ini merupakan perkara yang membatalkan keislaman, walaupun merekalah yang sebenarnya memulai perang dengan mujahidin di Syam dan di negeri-negeri lainnya. Dan tidak dipungkiri di Syam terdapat musuh yang nyata bagi Ahlus Sunnah, mereka adalah Koalisi Rafidhah yang aman dari kekejaman Daulah.

Mari kita bertanya pada Daulah, mengapa mereka tidak mengafirkan diri mereka saja!? Bukankah Amerika dan NATO serta koalisi murtaddin sampai sekarang masih memerangi Taliban? Maka sepantasnya Daulah telah murtad jika mengacu pada aqidah takfiri yang mereka terapkan atas kaum muslimin dan mujahidin Syam!

Sekarang mari kita bandingkan apa yang sebenarnya telah Al-Baghdadi berikan kepada Ahlus Sunnah dan apa yang Erdogan berikan!? Hendaknya tidak ada yang salah mempersepsikan risalah ini dengan menuduh bahwa saya mendukung Erdogan dan sistem hukum demokrasi yang ia jalankan di Turki!

Risalah ini adalah bahan renungan untuk kita semua agar kita bisa membuat perbandingan atas apa yang telah seorang Al-Baghdadi berikan untuk kaum muslimin Irak dan Syam serta apa yang telah seorang Erdogan berikan untuk kaum muslimin Turki dan Syam!?

Jawabannya adalah Al-Baghdadi telah datang ke Syam dan mengusir kaum muslimin disana, ia juga membunuh mereka, menghalalkan darah para pejuang di sana, serta merampas harta benda mereka. Sedangkan disaat yang sama, Erdogan membuka negerinya sebagai tempat berlindung jutaan pengungsi Suriah, ia sangat memuliakan kaum muslimin Syam dan mendukung perjuangan revolusi mereka.

Untuk kepentingan revolusi Suriah, Turki telah membuka daratan negeri mereka, jalanan, udara bahkan lautnya untuk menolong bangsa Suriah yang tertindas. Sedangkan Al-Baghdadi, ia dan tentaranya telah memutus jalur suplai kebutuhan dan amunisi bagi Mujahidin, dan mencuri serta merampas harta benda mereka dengan semena-mena.

Turki telah menolong para mujahidin yang terluka dengan mengobati mereka. Sedangkan Al-Baghdadi, ia dan Jama’ahnya telah mengeksekusi para mujahidin yang terluka baik yang tidak memerangi mereka dan terlebih yang memerangi mereka, serta membunuh siapapun yang coba menolong para mujahidin yang terluka.

Al-Baghdadi telah mengeksploitasi Irak sebagai pasar perdagangan manusia. Sedangkan Turki memberantas segala tindak kejahatan yang menyangkut perdagangan manusia.

Jama’ah Al-Baghdadi telah menghancurkan infrastruktur dan fasilitas publik di Irak dan Syam. Sedangkan Pemerintah Erdogan bekerja siang dan malam untuk melayani dan menyediakan tempat tinggal yang nyaman bagi rakyatnya.

Jama’ah Al-Baghdadi telah menghancurkan berbagai istana dan bangunan bersejarah di Irak bahkan mereka juga menghancurkan peninggalan-peninggalan para Sahahat radhiyallahu anhum ketika mereka membawa masuk Islam ke bumi Irak. Sedangkan Turki terus membangun berbagai fasilitas megah bagi kaum muslimin, dan mereka terus mencari peninggalan sajarah Khilafah Utsmaniyah yang telah dihilangkan oleh rezim terdahulu. Erdogan telah membawa Turki menjadi ibukota baru bagi peradaban dan khazanah keilmuan kaum muslimin dunia.

Jama’ah Al-Baghdadi telah membunuh para ilmuan sunni dan para ahli di Irak, padahal jumlah mereka semakin langka akibat dibantai oleh kaum Rafidhah, dan kini mereka dibantai oleh Daulah. Sedangkan Erdogan mengucurkan dana yang sangat besar untuk memfasilitasi para ilmuan dan para ahli di Turki.

Jama’ah Al-Baghdadi telah merampas gandum dari penduduk Syam kemudian mereka jual kepada para penadah liar dan pedagang Rafidhah di Irak bahkan pemerintah Maliki ikut membeli dari mereka. Sedangkan Turki terus memasok bantuan ke dalam Suriah dari semenjak awal revolusi.

Jama’ah Al-Baghdadi telah menjatuhkan vonis kafir atas kaum muslimin Syam dengan tuduhan bahwa mereka adalah shahawat, dan terus menggusur mereka sedikit demi sedikit dari rumah mereka sendiri. Sedangkan Erdogan telah mengamankan area udara beberapa wilayah di Suriah yang dekat dengan perbatasan negerinya agar pesawat tempur rezim Nushairiyah tidak bisa mendekat dan mengebom kaum muslimin disana.

Pemerintah Turki telah sangat aktif menyuplai makanan dan bantuan kepada penduduk Suriah yang tetap bertahan di rumah-rumah mereka. Sedangkan Al-Baghdadi juga sangat aktif mengirim ranjau dan bom bunuh diri kepada kaum muslimin Syam dan menyulut perang disana.

Apa yang telah Erdogan dan Turki persembahkan berupa program-program bantuan sosial dan pelayanan kepada Ahlus Sunnah dan dunia Islam adalah pukulan dan tamparan keras bagi Amerika dan Barat. Sedangkan apa yang telah Al-Baghdadi dan Jama’ahnya persembahkan untuk Islam adalah bantuan dan layanan untuk Amerika.

Pemerintahan Turki telah membela dan menolong kaum muslimin Palestina di Gaza. Sedangkan Jama’ah Al-Baghdadi telah membantai kaum muslimin Palestina di Kamp Yarmouk, dan bahkan meledakkan pos-pos penjagaan mujahidin Al-Qassam yang mana Yahudi saja tidak bisa melakukan itu.

Apa yang telah Erdogan lakukan untuk bangsa Palestina adalah tamparan bagi Yahudi. Sedangkan apa yang telah Al-Baghdadi lakukan untuk bangsa Palestina adalah bantuan dan pelayanan bagi kepentingan Yahudi, yaitu dengan memecah fokus umat dari memerangi mereka karena disibukkan dengan kejahatan-kejahatan Jama’ah Al-Baghdadi.

Setiap kali Jama’ah Al-Baghdadi masuk ke suatu negeri, maka hilanglah rasa aman dan ketentraman disana, dan teror-pun menyebar. Sedangkan Pemerintah Turki telah berhasil memberikan keamanan bagi penduduk negerinya dan menjamin keamanan bagi kaum muslimin yang datang kesana.

Al-Baghdadi telah membunuh “seorang” pilot Jordania Muadz Al-Kasasbeh, yang menyebabkan “banyak sakali” anggotanya terbunuh akibat aksi balasan Jordania, dan saudari kita Sajidah juga ikut di eksekusi dalam tahanan pemerintah Jordan. Sedangkan Erdogan telah menunjukkan kepeduliannya atas keselamatan rakyatnya, Erdogan telah berhasil membebaskan warganya yang ditawan oleh Jama’ah Daulah walaupun harus bernegosiasi dengan mereka.

Pengadilan Turki memang tidak berhukum dengan syariat Allah, akan tetapi mereka tidak berlaku dhalim dengan putusan mereka. Sedangkan Al-Baghdadi yang menyeru kepada hukum syariat, ia dan produk hukumnya ternyata sama saja dengan produk hukum rezim Bashar Assad, bahkan lebih dahsyat sebagaimana yang telah dunia saksikan.

Pemerintah Turki tidak membunuh dan mengeksekusi serta merta semua yang menyelisihi mereka, padahal mereka mengakui bahwa pemerintahan mereka tidak berhukum dengan hukum syariat. Sedangkan produk hukum rezim Al-Baghdadi, maka tidak ada bedanya antara mereka dengan rezim As-Sisi di Mesir.

Pemerintah Turki telah menerima dan memberikan suaka politik bagi setiap kaum muslimin yang terdhalimi dan mencari perlindungan di Turki, seperti ribuan kaum muslimin Turkistan (Xinjiang, China), ribuan kaum muslimin Irak, serta jutaan kaum muslimin Syam dan lainya. Turki tidak pernah mendeportasi mereka, bahkan mereka hidup aman dan difasilitasi disana, padahal Turki tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai Khilafah atau Daulah Islam!

Jama’ah Al-Baghdadi menyeru siang dan malam agar kaum muslimin meninggalkan negeri-negeri tempat tinggal mereka saat ini karena semua negeri itu adalah negeri kafir, dan berhijrah menuju wilayah seluas beberapa ratus ribu Km2 yang berada dalam kekuasaan dhalim mereka. Suatu wilayah dimana Al-Baghdadi memaksa sebagian kelompok manusia untuk menetap disana dan mengusir sebagian kelompok yang lain.

Pemerintah Turki telah berusaha keras menjaga stabilitas keamanan dan kemakmuran negerinya. Sedangkan Jama’ah Al-Baghdadi sangat bersikeras dengan strategi-strategi penuh permusuhan dan tidak mempedulikan maslahat Ahlus Sunnah di Irak dan Syam dengan membunuh tawanan-tawanan musuh yang mereka tahan. Tujuan dari semua itu adalah untuk merusak revolusi bangsa Suriah dan jihad Ahlus Sunnah. Sedangkan di sisi yang lain, Erdogan terang-terangan membantu dan menyatakan dukungannya terhadap revolusi Suriah untuk menjatuhkan rezim A’lawy kafir yang merusak.

Seandainya kita ingin memaparkan detail perbandingan antara Daulah Al-Baghdadi yang mengklaim berhukum syariat dengan Pemerintah Turki era Erdogan ini membutuhkan lembaran tebal dan catatan yang sangat panjang. Rangkuman yang saya berikan disini saya rasa telah mencukupi sebagai bahan perbandingan bagi para pembaca.

Sekali lagi saya ingin tekankan, hendaknya apa yang saya sampaikan dalam risalah ini tidak disalahartikan oleh pembaca bahwa saya ridha dengan semua yang telah dilakukan oleh pemerintah Turki, catatan dalam risalah ini hanyalah perbandingan dari dua Daulah dengan apa yang telah mereka persembahkan untuk umat.

Jujur, kami turut bahagia dengan kemenangan Partai Erdogan (AKP) atas kaum sekuler walaupun kami berbeda pandangan dengan mereka. Sebagaimana kami juga bersedih dengan kudeta kaum sekuler Mesir atas Muhammad Mursi walaupun kami berbeda pandangan dengannya.

Walaupun pemerintahan Erdogan memiliki berbagai kebaikan sebagaimana yang telah kita sebutkan, bukan berarti kita membenarkan manhaj yang mereka usung. Akan tetapi jika kaum sekuler menang atas mereka di Turki, maka hal itu tidak akan membuat bahagia siapapun yang memahami maqasid syariat.

Kami juga selalu berdoa kepada Allah; semoga Allah memberikan mereka hidayah sehingga mereka kelak menegakkan syariat Allah, dan semoga Allah mengarahkan mereka untuk menolong agama Allah, dan mendidik mereka arti kebenaran dengan sebenarnya, dan mengampuni kesalahan-kesalahan mereka dan kaum muslimin yang mengganti syariat Allah dengan hukum selainnya.

Kami juga memohon pada Allah; semoga Allah menolong siapapun yang berbuat untuk Islam dan berusaha melayani umat Islam, dan semoga Allah mengembalikan kemuliaan umat ini dengan penerapan hukum syariat Allah yang Maha Penyayang, dan semoga Allah menghancurkan bala tentara kafir dan thagut.

Sungguh merupakan kewajiban atas kita untuk selalu berjuang dengan menulis dan berdakwah untuk membongkar kedhaliman, memurnikan tauhid, menyeru manusia kembali pada syariat Allah, menyeru kepada yang ma’ruf dan melarang pada yang munkar, mendakwahkan manusia pada akhlak yang hasan, menjauhkan manusia dari paham takfiri, dan menghilangkan permusuhan dan perpecahan diantara Ahlus Sunnah.

Hendaknya kita selalu menjadikan Alquran dan Sunnah serta Sirah Rasulullah sebagai acuan dakwah kita, dengan meneladani metode Rasulullah SAW dalam bermuamalah dan membalas budi orang-orang musyrik yang membantu dakwah, dan cara Rasulullah SAW berhubungan dengan Najasyi, serta kisah kaum muslimin yang hijrah dan tinggal di negeri Habasyah. Melalui sirah-sirah seperti inilah kita mengkaji hukum Fiqh untuk bersiyasah yang syar’i.

Sungguh Rasulullah SAW telah melalui fase-fase dakwah yang panjang, walaupun sebenarnya Allah bisa saja memenangkan Nabi atas kaum musyrikin semenjak hari pertama Rasulullah SAW diutus. Akan tetapi Allah menjadikan perjalanan hidup dan dakwah beliau menjadi sirah yang bisa kita teladani dan pelajari sampai hari kiamat kelak. Allah jadikan dakwah dan hijrahnya Rasulullah SAW sebagai pelajaran bagi umat ini, sehingga kita bisa mengambil ibrah bagaimana bersikap dan beramal dalam keadaan lemah dan bagaimana bersikap serta beramal ketika kita kuat dan memiliki tamkin. Semua fase hidup dan dakwah Rasulullah SAW adalah pelajaran penting bagi kita umatnya.

Sebelum saya akhiri risalah saya ini, saya ingin mengutip perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, sehingga anda dapat mengambil manfaat dalam menerapkan Fiqh Marhalah. Berkata Ibnu Taimiyah Rahimahullah:

“Sebab menangnya Dien ini adalah buah dari kesabaran dan ketakwaan yang mana telah Allah perintahkan kedua perkara ini semenjak awal risalah. Sungguh pada fase awal hijrah di Madinah, jizyah tidaklah diambil dari seorang Yahudi pun yang tinggal di Madinah atau dari selain mereka. Hal ini menjadi dalil atas kewajiban menolong agama bagi orang-orang yang lemah yang tidak mampu membela Allah dan Rasulullah dengan tangan atau lisannya, maka hendaknya ia membela Islam dengan hatinya. Hal ini juga menunjukkan bolehnya kaum muslimin menjalin perjanjian dengan orang-orang kafir dalam rangka menolong agama Allah dengan kekuasan yang mereka miliki. Diatas pijakan inilah kaum muslimin beramal bersama Rasulullah SAW, dan pada era para Khalifah yang lurus, dan hingga akhir zaman kelak.”

“Sesungguhnya akan senantiasa ada sebuah thaifah diantara umat ini yang berdiri tegak diatas kebenaran. Mereka menolong agama Allah dengan penuh totalitas, yaitu disaat mereka lemah maka mereka beramal dengan ayat perintah untuk bersabar, dan adapun disaat mereka kuat maka mereka beramal dengan ayat perintah untuk memerangi bangsa-bangsa kafir yang menjadi musuh Islam, dan memerangi ahlul kitab sehingga mereka membayar jizyah dengan tangan mereka dalam keadaan rendah.”

Selesai perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah.

Sampai disini risalah saya, semoga Allah menerima amal shalih kita dan mengampuni kesalahan-kesalahan kita.

Jangan lupakan kami dalam setiap doa kalian.
Abu Mariyah Al-Qahthani

(aliakram/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.