Berita Dunia Islam Terdepan

Pakaian dan nama menjadi bahan untuk mengolok-olok pelajar Muslim di Amerika Serikat

Siswa sekolah mengengah atas di AS melakukan aksi protes. (Foto: WB)
16

Pengalaman menjadi pelajar Muslim dalam sistem sekolah umum di Amerika Serikat adalah sesuatu yang unik bagi setiap remaja Muslim, menurut sebuah penelitian oleh Mahasin D. Shamsid-Deen, seorang guru Muslim.

Tiga tantangan utama yang muncul sebelum pelajar Muslim menghadiri sekolah umum adalah: menu makan siang, liburan (Muslim dan non-Muslim) serta penerimaan di tengah komunitas, seperti yang ditulis dalam laporan WB.

Siswa usia SD tampaknya tertekan mengenai menu makan siang di sekolah mereka. Jika orang tua tidak mempersiapkan dan mengirim makan siang, para siswa ini akan dihadapkan dengan banyak pertanyaan mengenai apa yang halal dan tidak. Banyak produk daging babi yang tersembunyi dalam bahan makanan.

Pekerja kantin mungkin jelas memahami produk daging, namun banyak yang tidak menyadari kue digoreng dengan lemak babi atau marsmallow yang terbuat dari gelatin dengan basis hewan, tidak bisa dikonsumsi oleh siswa Muslim.

Untungnya, saat ini banyak sekolah yang lebih besar memberikan deskripsi rinci mengenai menu makanan, sehingga orang tua dan siswa dapat membuat keputusan mengenai apa yang tersedia dan akan disajikan saat makan siang. Ini juga menjadi manfaat bagi para siswa yang bersekolah di sekolah umum yang mengalami alergi dan diet untuk kesehatannya.

San Antonio, sekolah di distrik Texas misalnya, mereka memberikan kode untuk menu dengan informasi spesifik tentang bahan-bahan, yaitu dengan sistem GVP yang mudah dipahami. G berarti dibuat dengan biji-bijian yang sehat secara keseluruhan, V berarti vegetarian, tanpa daging tetapi mungkin mengandung susu atau telur dan P berarti makanan mengandung daging babi.

Liburan

Siswa sekolah dasar juga paling cemas mengenai liburan dan perayaan. Ini termasuk perayaan Muslim dan sanksi yang diamati di sekolah distrik. Siswa yang lebih kecil yang masuk ke sekolah umum mungkin tidak tahu apa yang diharapkan bahkan jika mereka memiliki anggota keluarga dari agama lain.

Ini adalah fakta bahwa liburan di Amerika adalah topeng dengan akar teologi Kristen yang dibuat dengan istilah sekuler. Misalnya, Hallowen dinamai “harvest” atau panen, Natal diberi label “winter” atau dingin sedangkan program Easter sering disebut “musim semi”. Siswa Muslim cenderung tidak tertarik dengan kebenaran politik istilah ini dan
mengakui perubahan nama tidak mengubah fokus atau bahkan tujuan.

Siswa Muslim nampaknya memiliki berbagai penilaian mengenai hari libur. Seorang yang lebih muda menyatakan kesedihannya karena sekolah telah mengisolasinya dengan mengirimnya ke perpustakaan selama kelas mengadakan pesta liburan. Yang lainnya marah karena sekolah menandainya absen saat ia tidak hadir ke sekolah karena merayakan Hari Ied. Sementara beberapa siswa mengaku mereka merasa bersalah karena merayakan liburan (yang sebenarnya untuk kalangan non-Muslim).

Beberapa siswa mengatakan bahwa mereka merasa gugup dan tidak percaya diri ketika mereka harus menjelaskan mengenai perayaan Muslim. Siswa yang lebih tua menyatakan frustasi terutama dengan guru olahraga yang tidak mau tahu atau
tidak akan mengakomodasi mereka selama Ramadhan.

Dua sekolah distrik di New Jersey dan tahun ini di New York telah memberikan hari libur saat perayaan dua Hari Ied. Keuntungan tambahan dari sekolah distrik yang bisa membuka dialog dan pemahaman praktik keagamaan Muslim yang sering disalahpahami dan diejek seperti ibadah puasa sepanjang bulan Ramadhan dan penyembelihan hewan saat Idul Adha.

Nama anak laki-laki dan pakaian siswi Muslim

Semua siswa Muslim berbagi keprihatinan dan perasaan atas penerimaan mereka di komunitas umum. Secara umum, keprihatinan ini dipecah menjadi tiga bidang utama: pakaian, nama dan identitas. Siswa Muslim usia sekolah menengah dan tinggi lebih mungkin untuk berjuang menghadapi masalah ini ketimbang siswa usia sekolah dasar. Untuk anak perempuan, menjalani kewajiban agama bisa membuat mereka stres, terutama ketika masa transisi menuju pubertas di mana mereka harus menjelaskan penampilan “baru” mereka.

Memakai hijab menjadi sangat rumit oleh aturan sekolah distrik yang melarang menutup rambut, yang diklaim biasanya berhubungan dengan aktivitas geng. Anak-anak gadis juga menghadapi tantangan di kelas olahraga yang mengharuskan mereka mengenakan celana pendek atau melepaskan kerudung mereka. Beberapa siswa menyatakan bahwa siswi Muslim dengan orang tua imigran lebih mungkin mengalami intimidasi dibandingkan yang kelahiran Amerika ketika mereka menutup rambut mereka.

Tetapi sejak beberapa sekolah distrik membolehkan untuk mengenakan berbagai jenis pakaian ke sekolah selama masih terikat aturan, banyak siswi Muslim yang bebas untuk mengekspresikan kepribadian dan kewajiban agama.

Baik anak laki-laki maupun perempuan Muslim bergulat dengan nama mereka. Beberapa siswa mengakui bahwa mereka sengaja menggunakan nama samaran. Ada ketakutan jika seorang siswa memiliki nama yang mirip dengan tokoh-tokoh yang
dibenci AS seperti “Osama” atau “Saddam”.

Anak laki-laki yang paling merasakan efek negatif terkait nama, nama mereka bisa menyebabkan intimidasi dan olok- olok oleh rekan-rekan mereka. Salah satu siswa menyatakan kebenciannya bahwa nama sederhana yang telah umum bagi ummat Islam telah menjadi ajang fitnah.

Identitas terdaftar di urutan nomor satu perjuangan bagi siswa Muslim. Siswa harus berurusan dengan stereotip negatif dan fobia terhadap Muslim didorong oleh laporan media yang tidak berimbang terkait isu-isu “terorisme” dan pendapat media dari media-media konsertavif.

Beberapa siswa Muslim berupaya membagi laporan untuk diskusi politik di kelas yang penuh dengan informasi yang salah dan menyebabkan permusuhan yang membuat mereka tidak nyaman, takut atau marah. Beberapa siswa mengaku bahwa mereka merasa rentan jika terjadi sesuatu yang melibatkan ummat Islam di Amerika.

Namun, masalah lain yang tak kalah menjadi perhatian siswa Muslim adalah adanya tekanan dari teman sebaya. Siswa Muslim mengatakan bahwa mereka dianggap lemah atau berpotensi gay jika mereka tidak memiliki pacar atau berusaha menjalin hubungan. Lalu mereka secara otomatis disebut sebagai “kutu buku” dan dengan demikian terisolasi secara sosial karena mereka tidak berkencan, meminum alkohol, merokok atau bereksperimen dengan obat-obatan.

Seorang siswa Muslim di sekolah menengah atas mengatakan: “Jika Anda berada di sekolah umum, apapun yang Anda lakukan benar-benar akan merepresentasikan semua ummat Islam! Jadi Anda tidak bisa seenaknya bertindak gila.”

Beberapa siswa menyatakan bahwa pergi ke sekolah umum menjadi tes untuk kebebasan berekspresi, kesempatan untuk kelas yang menarik dan guru-guru yang berbeda. Yang paling penting, banyak siswa yang akhirnya mengakui bahwa sekolah umum menawarkan kesempatan untuk Dakwah dan belajar, melalui percobaan dan kesalahan, bagaimana mempertahankan identitas Anda sendiri di lingkungan yang beragam. Salah satu siswa menyatakan, “sekolah umum benar-benar mempersiapkan Anda untuk bagaimana menghadapi dunia”. (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...