Berita Dunia Islam Terdepan

Bagaimana Muslim Uighur Cina bertahan hidup di Pakistan

45

Insa Khan baru berusia beberapa tahun ketika ia meninggalkan Xinjiang. Perjalanannya bersama orang tuanya pada tahun 1949 itu menjadi kenangan yang mendalam baginya.

Pejalanan itu berlangsung sekitar 50 hari dengan berjalan kaki melewati pegunungan yang tertutup salju bersama keledai-keledai yang membawa barang-barang mereka.

“Orang tua saya memutuskan untuk meninggalkan Kashgar setelah Xinjiang resmi menjadi bagian dari komunis Cina,” katanya.

“Saya masih terlalu muda untuk memahami politik pada waktu itu,” tambahnya, sambil menyediakan teh dengan cara tradisional Uighur, di mana semua orang duduk di atas tikar di dapur.

Insa kini berusia 71 tahun dan telah menghabiskan sebagian besar hidupnya tinggal di Gilgit di utara Pakistan.

Sebagai seorang Muslim, ia memiliki kebebasan beragama.

Dan karena hubungan yang kuat antara Cina dan Pakistan, ia juga bisa mengunjungi kerabat di otonomi Cina provinsi Xinjiang.

Tapi ia tidak pernah berpikir untuk kembali ke negeri asalnya.

“Tempat ini adalah rumah saya sekarang dan identitas saya,” kata Insa Khan. “Haruskah saya kembali?”

Meski demikian, ia masih merasa sebagai pendatang di negara barunya, lansir BBC pada Selasa (12/8/2015).

Sambil minum teh, ia memberitahu jurnalis BBC yang mengunjungi mereka bahwa beberapa orang telah secara ilegal menduduki tanahnya.

“Mereka orang Pakistan dan saya adalah seorang imigran jadi saya tidak menghubungi polisi atau mengajukan keluhan di pengadilan,” kata wanita yang istiqamah menghijabi wajahnya itu.

“Saya sendirian jadi saya tidak bisa mengambil risiko perselisihan dengan siapa pun di sini,” tambahnya.

Insa adalah salah satu dari ribuan Muslim Uighur yang tinggal di Gilgit.

Masyarakatnya adalah campuran dari beberapa generasi.

Sejumlah orang meninggalkan Xinjiang dan kota Kashgar yang perdagangannya berkembang pada tahun 1949, sementara yang lainnya menyusul.

.

Map showing Kashgar and Gilgit
Peta perjalanan dari Kashgar hingga Gilgit

Mereka semua mengatakan mereka terpaksa pergi karena mereka menjadi korban penindasan budaya dan agama di Cina.

Cina mengklaim proyek pembangunannya telah membawa kemakmuran bagi kota-kota besar Xinjiang.

Namun, pembangunan di Xinjiang berada di bawah kontrol dan kepemilikan pemerintah, dan Muslim Uighur mengalami berbagai pembatasan yang mencegah mereka merayakan ibadah dan ritual Muslim mereka.

Abdul Aziz juga berada di antara mereka yang melakukan perjalanan gelombang pertama untuk meninggalkan Xinjiang.

Meskipun saat ini sudah berusia 70-an, ia masih bekerja menjual selimut dan kasur Kashgari tradisional dari dua tokonya di jalan bandara yang sibuk di Gilgit.

Abdul Aziz
Abdul Aziz masih menggunakan sempoa meski tinggal di Pakistan selama lebih dari 60 tahun

Kakeknya dulu adalah seorang pedagang yang melakukan perjalanan antara Gilgit dan Kashgar pada tahun 1940-an.

Sambil duduk di sebuah bangku kecil, Abdul Aziz merenung selama beberapa saat sebelum menceritakan kisah migrasinya.

“Itu adalah perjalanan yang sangat sulit,” katanya.

“Kami selama berminggu-minggu ada di pegunungan sebelum kami tiba di sini.”

“Ketika Mao Zedong mengambil alih kekuasaan dan Xinjiang menjadi bagian dari kerajaannya, mereka menutup semua perbatasan, dan warga Uighur yang berada di sini tidak bisa kembali ke rumah.”

“Jadi kakek saya meminta seluruh keluarga untuk meninggalkan Kashgar dan bermigrasi ke Gilgit,” tambahnya.

Dia sekarang membesarkan generasi keempat dari keluarganya di Pakistan, meskipun dia sedikit khawatir tentang pengetahuan bahasa Uighur dan budaya Kashgari mereka yang terkikis.

Abdul Aziz with his son and grandchildren
Abdul Aziz bersama putra dan cucu-cucunya

Tapi ia merasa diterima di komunitas Gilgit lokal.

“Orang-orang di sini tidak pernah membuat kami merasa seperti orang asing,” kata Abdul.

“Bisnis saya lancar dan keluarga saya bahagia, jadi apa lagi yang saya harapkan?” dia menambahkan.

Kerusuhan dan ketidakpastian

Tapi bagi Abdul Rahman Bukhari, Sekretaris Jenderal Asosiasi Luar Negeri Cina, sebuah badan perwakilan untuk Uighur Pakistan, kerusuhan di Xinjiang tidak pernah berlalu.

“Kami tengah berada di lokasi yang sangat sensitif, yaitu pintu gerbang antara Cina dan Pakistan,” katanya.

“Setiap kali ada masalah di Xinjiang, kami merasakan dampaknya di sini.”

Abdul Rahman Bukhari is third from the left
Abdul Rahman Bukhari, ketiga dari kiri, melaksanakan shalat di masjid

Cina menyalahkan Gerakan Islam Turkestan Timur atau East Turkestan Islamic Movement (ETIM) untuk serangan di Xinjiang dan tempat lainnya di Cina. Dia mengatakan militan Uighur adalah bagian dari itu.

Diyakini pula bahwa gerilyawan ETIM telah berjuang bersama Mujahidin Taliban Pakistan di Waziristan Utara dan Selatan.

Bukhari mengatakan Cina ketakutan bahwa Gilgit bisa menjadi pintu gerbang bagi simpatisan ETIM untuk mengirim militan melalui Xinjiang.

“Mereka membuat kami berada di bawah pengawasan, bahkan ketika kami memperluas jaringan persahabatan dan memberikan insentif bagi masyarakat,” katanya.

A border post between China and Pakistan
Perbatasan antara Cina dan Pakistan

“Mereka ingin memastikan bahwa orang Uighur Pakistan tidak dapat dimanfaatkan oleh kelompok militan melawan kepentingan Cina.”

Warga Uighur Pakistan memang dapat memanfaatkan dukungan dari Cina – Beijing yang menawarkan untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka di Pakistan, dan memberi orang-orang pilihan perjalanan gratis ke Xinjiang setiap tahun.

Cina juga mendorong warga Uighur Pakistan untuk kembali ke Kashgar dengan menawarkan insentif untuk mendirikan usaha dan membeli rumah.

Tapi hampir tak ada seorang pun yang ingin kembali.

“Xinjiang jauh lebih berkembang dibandingkan Gilgit sehingga ketika kami pergi ke sana, kadang kami merasa bahwa kami harus kembali ke tempat asal kami,” kata Bukhari.

“Tapi ketika kami merenunginya, kami menyadari bahwa nenek moyang kami telah membuat pilihan yang tepat karena setidaknya kami memiliki kebebasan beragama di Pakistan.”

Tetapi kebebasan beragama di Pakistan juga tidak murah, menurut Bukhari. Ia mengatakan bahwa pihak berwenang memastikan bahwa kebebasan beragama mereka itu tidak bertentangan dengan hubungan strategis yang kuat antara Islamabad dan Beijing.

“Kami mendengar berita tentang tindakan keras terhadap [Muslim] Uighur di Cina, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka. Kami tak berdaya,” kata Bukhari.

“Di Pakistan, siapapun dapat mengangkat suara (mereka) untuk Muslim Palestina, Irak dan Afghanistan tapi [Muslim] Uighur tidak bisa memprotes kekejaman Cina terhadap saudara-saudara mereka sebagaimana juga otoritas Pakistan tidak akan membiarkan kami melakukan itu,” tambahnya.

(banan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...