"Israel" memutus pasokan air ke desa-desa di Palestina, menyebabkan kekeringan

Dead cattle in Kafr Qaddoum (Gambar oleh Applied Research Center).
45

TEPI BARAT (Arrahmah.com) – Saat gelombang panas di musim panas ini terus berlangsung dan membuat kering persediaan air, minggu ini perusahaan air “Israel”, Mekorot, malah memutus persediaan air ke desa Kafr Qaddoum, Tepi Barat, sebagaimana dilansir oleh IMEMC, Sabtu (8/8/2015).

Desa ini hampir seluruhnya tergantung pada sektor pertanian, dan pemutusan pasokan air menyebabkan ratusan hewan ternak kekurangan air. Desa itu berpenduduk sekitar 4.000 orang, dan hanya mereka yang memiliki tangki air atau botol air yang disimpan yang memiliki air untuk diminum selama pemutusan pasokan air oleh “Israel”.

Hewan-hewan mati, termasuk sejumlah ternak, serta ratusan ayam dan burung domestik lainnya.

Menurut kepala dewan desa Kafr Qaddoum, yang terletak di dekat Nablus, Tepi Barat utara, perusahaan “Israel” melakukan pemutusan air ke desa itu tanpa peringatan atau alasan.

Hamzeh Jomaa, kepala dewan desa, mengatakan bahwa ia telah berusaha untuk menghubungi perusaha air Mekorot untuk mencari tahu mengapa air itu diputus dan kapan akan pulih kembali.

Sementara itu, desa yang tergantung terhadap sektor pertanian ini kemungkinan akan terus kehilangan ternak dan tanaman saat musim panas yang ekstrim melanda.

Perusaah air “Israel”, Mekorot, memompa air dari waduk bawah tanah di tanah yang dimiliki warga Palestina. Pada dasarnya perusahaan itu mencuri air dari warga Palestina dan kemudian menjualnya kembali kepada mereka dengan harga tinggi.

Jumlah air yang dialokasikan untuk “Israel” hampir empat kali lipat jumlah air yang disediakan untuk warga Palestina. Hanya 70 liter sehari yang disediakan untuk warga Palestina, bahkan selama gelombang panas seperti saat ini. Padahal Organisasi Kesehatan Dunia menganjurkan setidaknya desa itu mendapatkan minimal 100 liter sehari.

Dan alokasi air yang terbatas itu juga harus digunakan untuk pertanian, meskipun kenyataannya mayoritas rakyat Palestina tergantung pada pertanian untuk kelangsungan hidup.

(ameera/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.