Teror Tolikara kicep, BNPT malah sebut NTB pos jaringan "teroris" setelah Poso

Arief Darmawan, Deputi II Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan BNPT
40

MATARAM (Arrahmah.com) – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) kicep alias bisu, tak bersuara sama sekali saat aksi teroris Kristen Gereja Injili di Indonesia (GDI) menyerang dan membubarkan Shalat Idul Fitri 1436 H, membakar masjid Baitul Muttaqin dan puluhan kios kaum Muslimin. Sekonyong-konyong lembaga yang meminta Kemkominfo memblokir puluhan media Islam ini, malah menyebut NTB sebagai pos kedua konsolidiasi jaringan “teroris” setelah Poso. Musibah, Innalillahi wainna ilaihi roji’un.

Penegasan dan pengkondisian itu disampaikan Deputi II Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan BNPT, Irjen Pol Arief Darmawan, SH, MM, MH saat manyaksikan langsung kegiatan simulasi penanggulangan teroris di Lapangan Yonif 742/SWY Gebang, Kamis (30/7). Ini diakuinya merupakan pengamatan yang cukup panjang, ditindaklanjuti dengan penangkapan dan kecenderungan aktor yang ditangkap dari Poso dan Kabupaten Bima, NTB.

”Berdasarkan jaringan yang kita amati, NTB memang jadi pos ke dua setelah Poso. Di NTB mereka konsolidasi, bahkan beraksi,” ucap Arief, dikutip dari suarantb, Kamis (30/7/2015).

Kata dia, jalur lalu lintas jaringan “teroris” Poso, menganggap NTB sebagai akses yang mudah untuk didatangi, sebaliknya kelompok dari Poso juga demikian.

“Inilah yang harus diwaspadai oleh masyarakat,” harap dia.

Selain waspada atas gerakan perekrutan dan aksi lapangan, yang perlu diketahui masyarakat adalah gerakan propaganda dianggap sebagai aksi paling berbahaya. Kelompok yang awalnya sebagai paham radikal ini, masuk dengan barbur dalam kultur masyarakat. Bahkan bentuknya dengan cara menikahi warga setempat, dan ini menurutnya terjadi di Poso dan Bima. Dengan tujuan, setelah perkawinan itu, mereka semakin kuat.

“Ketika ada penangkapan, maka keluarganya akan bereaksi, timbulah dendam kepada aparat. Ini kadang menjadi soal,” ucapnya.

Arif mengklaim, antisipasi melalui pemberdayaan masyarakat, memberdayakan forum komunikasi di daerah, juga operasi intelijen untuk mendapat bahan keterangan, sehingga bisa diambil tindakan antisipasi. Tapi jika ditemukan ada kelompok “teroris”, selalu diupayakan pihaknya tidak dilakukan dengan represif.

“Kita selalu usahakan tidak dengan penembakan,” sebut dia. (azm/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.